Gaung Rasa

Gaung Rasa
Di Bawah Pohon Mangga


__ADS_3

“Mas, aku beneran hamil?” tanya Safira, memecah keheningan diantara mereka berdua sejak keluar dari ruang spesialis kandungan.


“Iya, Sayang.”


Safira menghentikan laju kursi roda secara paksa. “Tapi Harsha ... kok, bisa?”


Ashqar meremas pegangan kursi roda, menghela napas dalam sembari memejamkan mata. Dari banyaknya kemungkinan yang bisa dia pikirkan atas reaksi Safira, hanya satu yang membuatnya merasa takut. Bahwa Safira mungkin merasa terbebani dengan kehamilan tak terduga ini dan bisa saja menolak calon anak mereka.


Ashqar berdeham, mengambil napas dalam lalu berkata, “Kita cari angin sebentar, yuk?”


“Kemana?”


“Maunya kemana?”


Safira berdengung. “Terserah.”


Ashqar memutar langkah, mendorong kursi roda Safira perlahan menyusuri lorong rumah sakit, memasuki lift menuju lantai dasar. Tujuannya adalah taman kecil di sebelah selatan rumah sakit dengan bangku-bangku terbuat dari kayu. Dan begitu mereka sampai disana, untungnya suasana taman tak begitu ramai.


Sambil memperhatikan sekeliling, Ashqar terus mendorong kursi roda Safira ke salah satu sudut, sebuah pohon mangga yang tak terlalu besar.


“Disini aja nggak apa-apa?” tanyai, begitu mereka berada di bawah pohon.


Safira mengangguk. “Asal nggak ada ulet bulunya aja.”


Ashqar memutari kursi roda lalu berlutut di hadapan Safira. “Apa ada yang mau kamu sampein, Mah?” tanyanya, menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Safira.


Safira berkedip, sedikit terkejut dengan sikap Ashqar yang tiba-tiba. Manik matanya melirik ke segala arah, memastikan jika tak ada yang memperhatikan mereka. Kemudian ia menatap Ashqar lamat. Pikirannya kalut, begitu banyak hal yang mengisi benak Safira hingga wanita itu kesulitan untuk mengungkapkan rasa.


“Banyak,” bisiknya sambil menunduk hingga membuat helaian rambutnya kembali jatuh. “Sangat banyak sampai aku kesulitan buat mengatakannya sama kamu, Mas.”


Pandangan Ashqar berubah sendu. “Kalau gitu ... gimana dengan kehamilan kamu? Kamu baik-baik aja sama keadaan ini?”

__ADS_1


Safira menggeleng. “Aku nggak tahu. Aku bahagia, tapi rasa bahagia itu seperti nggak bisa sepenuhnya aku rasakan,” ucap Safira lirih sambil menegakkan wajah, menatap wajah Ashqar.


Ashqar terdiam. Dia berpikir sejenak tentang kemungkinan hal yang menjadi alasan Safira merasa demikian, tentunya itu bukan hal yang sulit.


“Kamu masih memikirkan tentang gosip itu? Atau gosip terbaru hari ini?”


Netra Safira membola. “Mas juga lihat berita itu?”


“Iya. Dan kalau kamu khawatir tentang berita itu ...,” Ashqar meraih kedua tangan Safira dan menggenggamnya. “aku kasih tahu lagi ya, istriku yang cantik, ibu dari anak-anakku yang sering overthinking, kalau suamimu ini nggak mungkin punya keinginan baut mengkhianati kamu.”


Safira tertegun, kelopak matanya berkedip beberapa kali. “Mas, aku merinding, loh.” Safira mengusap tengkuk dan kedua lengannya hingga ke pergelangan tangan. “Lihat! Tuh! Tuh! Pada berdiri, Mas.”


Ashqar kehilangan kata-kata, speechless, melihat respon Safira. “Yang, aku nahan malu loh, ngomong gitu. Kok, responnya malah gitu, sih.”


“Oh! Jadi Mas malu sama aku?”


“Bukan gitu maksudnya, Sayang.” Ashqar memaksakan untuk senyum lebar. “Aku nggak malu sama kamu, tapi sama kata-kata aku sendiri.”


“Tuh, kan! Berarti Mas emang malu sama aku.”


“Iya. Tadi Mas sendiri yang muji-muji aku, yakinin aku kalau Mas nggak mungkin rujuk sama Mbak Nita. Eh, tapi sekarang Mas bilang malu udah ngomong gitu.”


Ashqar menghela napas lalu menyisir rambutnya, merasa gemas dan sedikit jengkel dengan tanggapan Safira. Kemudian setelahnya, Ashqar menjulurkan tangan lalu mencubit kedua pipi Safira dengan gemas.


“Dasar, ibu hamil. Kalau nggak inget kita lagi di tempat umum udah aku cium kamu, Fi.”


“Inget tempat, Mas.” Safira menampik tangan Ashqar dari wajahnya lalu memalingkan muka.


“Paling nggak, kamu udah nggak sependiam tadi.”


Ucapan Ashqar membuat Safira kembali menoleh dan menatap wajah suaminya. Keduanya beradu pandang, untuk beberapa saat yang singkat, baik Ashqar dan Safira terdiam.

__ADS_1


Semilir angin menyapu wajah mereka, dengan dipayungi awan kelabu dan berselimut udara lembab membuat suasana di sekitar mereka terasa intim. Kemudian Safira menjadi yang lebih dulu menyunggingkan senyum tipis lalu tertawa kecil. Hal itu tentu saja menular pada Ashqar. Keduanya menahan tawa agar tak menjadi pusat perhatian.


“Kita ngapain sih, Mas?” tanya Safira, disela tawa tipisnya.


“Nggak tahu.”


Suasana canggung dan tegang diantara keduanya perlahan luruh seirama dengan tawa mereka yang terus mengalun. Kemudian setelah tawa ringan yang cukup lama, Ashqar dan Safira sama-sama mengambil napas dalam lalu kembali saling memandang dan melempar senyum tipis.


“Aku random banget, ya?” tanya Ashqar.


Safira menggeleng. “Aku juga,” katanya, ekspresinya melembut. “Aku memikirkan banyak hal, merasakan banyak rasa yang aku sendiri susah buat mengekspresikannya. Aku ... khawatir tentang banyak hal dan salah satunya tentang kehamilan ini.”


“Aku tahu kamu nggak siap sama kehamilan ini, Fi. Aku juga merasa bahwa ini terlalu cepat, Harsha baru lima bulan, tapi biar bagaimanapun dia tetap darah daging kita. Akan jadi dosa besar kalau kita menolak kehadirannya begitu aja.”


“Kenapa Mas khawatir begitu? Aku nggak mungkin menolak darah dagingku sendiri, Mas.” Safira membelai sisi wajah Ashqar lembut. “Tapi ... aku punya hal yang mau aku tanyakan.”


Ashqar merasa cemas, tetapi ia menolak menerka-nerka. “Apa?”


.


.


.


✄................................................


Nara Note :


Hi, semuanya!


Lama nggak sua 🤧

__ADS_1


Maapkan karna Minggu kemarin nggak bisa nepatin janji. Alesannya, mungkin yang ikutin aku di IG dan lihat story ku hari rabu/kamis pasti tahu, aku harus bed rest total selama beberapa hari. Jadi, insya'allah aku nepatin janji di Minggu ini.


Ok, sampai jumpa besok 👋🏻


__ADS_2