Gaung Rasa

Gaung Rasa
Pasangan Baswara


__ADS_3

Safira tidak tahu apakah ajakan Ashqar untuk mengobrol di ruang televisi hanya akal-akalan saja agar bisa berduaan atau memang benar-benar ada yang ingin suaminya itu sampaikan. Pasalnya sejak mereka beranjak dari kamar tidur, Ashqar langsung memintanya duduk di sofa sementara suaminya itu sibuk di dapur entah sedang membuat apa.


Safira hanya berharap teritorinya tidak dirusak atau dia akan menghabiskan waktu semalaman untuk membersihkan kekacauan yang Ashqar perbuat, tentu saja selain begadang menyusui Harsha.


“Mas mau ngobrolin apa, sih? Kelihatannya tadi serius banget,” ucap Safira, memperhatikan punggu Ashqar dari sofa ruang televisi sambil memasukan potongan apel keempatnya ke dalam mulut.


“Apelnya masih?”


Safira merengut. “Mengalihkan pembicaraan. Kalau Mas cuma mau aku makan apel aja mending aku balik lagi ke kamar.”


“Padahal Harsha udah lahir, tapi suasana hati kamu masih kayak rollercoaster.” Ashqar beranjak membawa gelas di masing-masing tangannya. Begitu Ashqar di hadapan Safira, dia mengulurkan tangan. “Kita cari ART, ya?”


Safira yang baru saja mengangkat tangan untuk menyambut gelas yang Ashqar sodorkan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Tangannya masih menggantung di udara bahkan saat Ashqar sudah duduk di sampingnya.


“A … RT?” ucap Safira terbata ketika dia berhasil lepas dari rasa terkejut.


“Iya. Besok aku minta Mbak Rama buat cari orangnya.” Ashqar menruh kedua gelas di atas meja dan kembali pada wajah Safira yang masih menampilkan ekspresi yang sama.


“Tapi kenapa tiba-tiba begini?” Safira menoleh dengan gerakan dramatis, seakan-akan Ashqar baru saja memberikan perintah penangkapan atas dirinya. “Bukannya kita udah sepakat nggak akan pake jasa ART sampai umur Harsha dua tahun?”


Sejak tujuh bulan kehamilan Safira, mereka menyepakati keinginannya untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Alasannya karena Safira tidak ingin anak-anaknya dipegang orang lain. Kalau barang mahal aja kita simpan dan rawat sendiri, kenapa anak-anak yang lebih berharga harus diserahin ke tangan orang lain?

__ADS_1


Ucapan Safira yang telak tidak memberikan Ashqar kesempatan untuk membantah, meskipun sebenarnya dia sendiri merasa jika pemikiran Safira cukup kolot. Namun, Ashqar tidak ingin egois dengan tidak memberikan kesempatan pada keinginan Safira.


“Tapi sekarang beda, Fi.” Ashqar menatap Safira tepat di manik matanya. “Saat ini aku rasa justru repot-repotnya mengurus anak-anak. Harsha baru lahir sementara Alvin dan Zain tetap harus dapat perhatian yang cukup, lagi pula kamu juga kelihatan kewalahan dengan anak-anak dan pekerjaan rumah. Kalau ada yang bantu paling nggak tugas rumah udah ada yang mengurus dan kamu bisa fokus dengan anak-anak.”


“Tapi ….”


“Nggak ada tapi, Fi. Aku juga udah dengar kejadian tadi siang dari Alvin.”


Tubuh Safira meremang. “Itu … Zain cuma cemburu sama Harsha aja, Mas. Besok aku coba jelasin ke Zain, dia pasti bakal ngerti. Jadi—”


“Sayang,” potong Ashqar cepat. Dia meraih wajah Safira dan menatap tepat di manik matanya. “Dengar, aku nggak mau membebani kamu dengan banyak tanggung jawab. Rumah ini adalah rumah kita, segala sesuatunya menjadi kewajiban kita berdua. Tolong jangan keras kepala, ya? Aku nggak menolak keinginan kamu buat merawat anak-anak sendiri, tapi pekerjaan rumah biar dikerjakan orang lain.”


Walau agak berat, Safira mengangguk. “Tapi aku sendiri yang nentuin dia bisa atau nggak kerja di sini.”


“Iya. Iya.” Ashqar membawa Safira dalam dekapannya. Istrinya ini agak sensitif jika menyangkut pekerjaan rumah. Jangankan tidak bersih, jika piring tidak di tata sesuai susunan biasanya maka Safira bisa kesal sendiri.


“Ngomong-ngomong, aku dapet pesan dari Mbak Nita.” Safira menegakan dirinya. “Dia minta maaf karna nggak bisa dateng minggu depan di acara aqiqah Harsha.”


“Oke.”


“Gitu doang?”

__ADS_1


Ashqar mengerling. “Terus kamu maunya aku gimana?” tanya Ashqar, mendekatkan wajahnya. “Kalau kamu berpikir aku bakal bertanya alasannya, maaf. Aku nggak bisa berbasa-basi buat perempuan yang bukan siapa-siapaku lagi.”


Ketegasan dalam suara Ashqar, suara yang dalam dan dingin, juga sorot mata penuh keseriusannya membuat lidah Safira kelu. “Bu-bukan gitu maksudnya, Mas.”


“Aku tahu,” jawabnya kemudian semakin mengeliminasi jarak.


Ashqar meraih bibir Safira dalam kuasanya. Meski dia tahu bahwa dia belum boleh menyentuh Safira, tapi godaan yang istrinya berikan membuat pertahanan Ashqar luruh.


“Nggak masalah selama nggak lebih dari ini,” pikirnya.


Ketika Ashqar membuatnya hanyut dalam buaian, Safira sudah mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dia membiarkan Ashqar memainkan peran sementara dirinya sendiri akan menjadi kucing penurut dengan menerima semua sentuhan lembut yang mulai menjarah tiap lekuk tubuh atasnya.


Lalu saat cumbuan Ashqar berpindah tempat, tangis Harsha menjadi alarm nyaring yang membuat kedua orang tuanya kalang kabut. Safira dengan segera mendorong tubuh Ashqar dan setengah berlari menuju kamar, sementara si suami hanya bisa memandang pasrah pada pintu kamar yang setengah tertutup.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


__ADS_2