
Safira terbangun dengan rasa pening yang menghantam kepala. Sejenak pandangannya kabur sampai samar-samar warna putih gading dari langit-langit kamar mulai terlihat jelas. Dia bahkan bisa melihat jejak keisengan Alvin dan Zain yang melempar gumpalan-gumpalan kecil tepung berpewarna dengan menggunakan ketapel. Merah, hijau, kuning, oranye dan biru.
Perlahan Safira menarik tubuh untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Sambil memegangi kepala, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada yang kurang, hanya saja ia ingat terakhir kali Ashqar masih bersamanya. Namun, suaminya saat ini tidak ada.
“Apa di luar?” bisiknya pada diri sendiri.
Kemudian saat ia melirik nakas, pertanyaannya terjawab dengan selembar memo yang diselipkan di bawah gelas berisi susu. Tangan Safira terulur, ia mengangkat gelas dan mengambil kertas memo itu lalu membacanya.
Jangan masak!
Aku keluar sebentar buat beli makan siang. Kalau kamu udah bangun, langsung minum susunya. Mumpung masih anget.
ps. kalau mau makan sesuatu langsung telfon aja♡
Kening Safira berkerut. “Apanya yang mumpung masih anget? Orang udah hampir dingin begitu,” batinnya, melirik gelas susu.
Namun, biarpun begitu Safira tetap menuruti perintah Ashqar. Meskipun ia juga kesal dengan isi memo itu yang langsung berisi perintah dan tidak ada manis manisnya sama sekali biarpun Ashqar menyelipkan gambar hati.
Dan alih-alih menghubungi Ashqar setelah Safira selesai dengan gelas juga memo yang ia kembalikan ke tempat semula di atas nakas, dia justru mencari kontak Edi dan langsung menekan ikon telefon.
Panggilan pertamanya tidak mendapat respon dan Safira kembali menghubungi nomor yang sama. Sementara hatinya harap-harap cemas menunggu panggilan terjawab, manik mata Safira tidak berhenti mengawasi jam di dinding kamar.
Edi dan Sari sudah sejak tadi pagi membawa Harsha dan sampai hampir tengah hari belum juga kembali. Hal itu jelas membuat Safira merasa cemas.
__ADS_1
“Kok, nggak diangkat, sih?” gerutu Safira saat panggilannya juga tak diangkat oleh Edi.
Safira kembali menghubungi nomor Edi untuk ketiga kalinya, tapi kali ini dengan perasaan yang lebih tidak tenang. Bahkan ia sampai melupakan kecemasannya sendiri yang baru ia dan Ashqar bahas.
“Angkat, Pak.” Safira beranjak dari kasur sambil memegangi kepalanya yang pening. Sepertinya efek banyak pikiran dan menangis cukup menyulitkan juga.
“Halo. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikummussalam,” sambar Safira. Langkahnya mengarah ke teras rumah. “Bapak kemana aja? Dari tadi aku telfon nggak diangkat-angkat.”
“Maaf, HP bapak mode getar, jadi nggak kedengaran.”
Edi terdengar tak enak hati, tapi Safira mengabaikannya. “Ya, udah. Bapak ini dimana? Kenapa belum pulang juga?” cecar Safira, duduk di kursi teras. Dan belum juga Edi menjawab pertanyaan sebelumnya, Safira kembali melemparkan pertanyaan lain. “Harsha keadaannya gimana? Bapak ‘kan, bilangnya cuma ngajak jalan-jalan sekitar komplek aja. Tapi sampai sekarang belum di rumah juga.”
Mendengar jawaban Edi membuat Safira menghembuskan napas, pasrah. “Malah ketemu yang sefrekuensi,” batinnya.
Pasangan lansia itu terkenal ceriwis meskipun sebenarnya orang yang baik. Tapi rasanya kalau Pak Broto dengan bapaknya bertemu entah kenapa Safira merasa mereka akan sangat cocok, tipikal orang yang kalau sudah ngobrol susah berhenti. Seakan punya banyak topik untuk dibahas, mulai dari politik, pekerjaan bahkan mungkin urusan teh dan kopi.
“Harusnya udah selesai ‘kan, sekarang ngobrolnya? Bisa Bapak bawa pulang Harsha sekarang?” Safira dengan hati-hati menjaga nada suaranya.
“Iya. Iya. Ini bapak sama ibumu pulang sekarang.”
“Permisi! Mbak Fira.”
__ADS_1
Safira menoleh ke arah pagar. Sekelebat bayangan tergambar jelas di pagar rumahnya yang tertutup pembatas plastik.
“Fi, itu siapa?”
Pertanyaan Edi menarik kembali atensi Safira. “Pak, aku ada tamu. Aku tunggu di rumah, ya. Assalamu'alaikum,” ucap Safira, mengabaikan pertanyaan Edi dan langsung menutup sambungan telefon.
“Iya!” seru Safira, berjalan menuju pagar. Dia mengintip terlebih dahulu dari lubang kecil berbentuk persegi. “Loh? Pak Hendra?”
“Maaf, Mbak. Saya ganggu, ya?” tanya Hendra bersamaan dengan pintu yang terbuka.
“Nggak, Pak. Ada apa, ya?”
.
.
.
✄................................................
Bersmbung~
Sampai ketemu di Hari Rabu 🤗
__ADS_1