
Mendengar pertanyaan terakhir Ashqar, membuat dada Safira kembali sesak. Wanita itu memeluk Ashqar semakin erat. Hal itu tentu saja membuat Ashqar gelisah, banyak pertanyaan berseliweran di kepalanya dan ia benci bertanya-tanya. Namun, tak mungkin baginya untuk memaksa Safira menjelaskan.
“Duduk dulu yuk, Mah.” Ashqar perlahan menuntun Safira untuk duduk di ujung ranjang tanpa melepaskan pelukan mereka. “Kalau udah tenang aku siap jadi pendengar, loh.”
Ashqar sudah seperti berhadapan dengan Zain versi besar, begitupun dengan caranya memperlakukan Safira. Dua orang kesayangan Ashqar dengan sensitivitas hati yang tinggi.
“Mas, apa selama ini jahat sama bapak?” ucap Safira terbata karena berusahan menahan isak.
Kening Ashqar seketika berkerut, bepikir keras dan mengingat-ingat apakah hari ini Rafa mengatakan sesuatu tentang Edi dan Safira. Namun, sekeras apapun ia mencoba, Ashqar tak mendapatkan apapun.
“Ada masalah apa sama bapak, Sayang? Kamu bertengkar sama bapak?”
Safira menggelengkan kepala di dada bidang Ashqar lalu menarik napas dalam-dalam. “Pak Pur bilang kalau aku anak kesayangan bapak, kalau sebenernya bapak sayang sama aku.”
Wajah kusut Ashqar mendadak cerah. Dia mendapat garis besar alasan mengapa Safira menjadi begitu pendiam sejak mereka bertemu dan alasan wajah istrinya dibasahi air mata. Topik tentang Edi selalu menjadi hal yang sangat sensitif bagi Safira. Itu sebabnya Ashqar selalu hati-hati jika membimbing Safira agar beranjak dari masa lalu dan berdamai dengannya hingga suatu saat Sfira bisa benar-benar merasakan kasih sayang Edi dengan hati yang lapang.
“Nggak ada orang tua yang nggak sayang anaknya, Mah.” Ashqar mengusap punggung Safira konstan. “Kalau bapak disuruh milih antara kamu atau Rafa, aku yakin bapak pasti bakal milih kamu.”
“Karena rasa bersalah,” cicit Safira.
Napas Ashqar tertahan ditenggorokan beberapa saat hingga berhasil dihembuskan perlahan. Kemudian dengan nada selembut mungkin pria itu berkata, “Iya, tapi ... rasa bersalah itu adalah bentuk kasih sayang bapak ke kamu.”
__ADS_1
“Kalau sayang bapak nggak akan―”
“Sayang, kamu udah janji nggak bakal ngungkit masa lalu loh,” sela Ashqar. Dia tahu kemana arah ucapan Safira dan Ashqar tidak menyukai itu. “Pak Pur nggak bermaksud buruk dengan bilang seperti itu sama kamu. Beliau cuma mau mengingatkan kalau biar bagaimana pun bapak itu juga orang tua, mungkin Pak Pur ikut merasakan apa yang bapak rasakan karena beliau juga punya anak yang sebaya dengan kamu. Lagi pula, sekarang kamu juga orang tua, ibu dari anak-anak aku.”
Safira menaikan wajah, menatap Ashqar ragu-ragu. “Selama ini aku sangat benci bapak. Aku menyalahkan bapak atas semua hal yang terjadi. Aku juga nolak semua niat baik bapak dan berdalih kalau bapak cuma berpura-pura. Jadi kalau aku harus mengakui ... mengakui ... aku nggak bisa,” katanya, kembali menenggelamkan wajah di dada Ashqar.
Ashqar memegang kedua pundak Safira dan mendorongnya pelan, tapi Safira justru mendorong dirinya kearah yang berlawanan. Gagal dipercobaan pertama, Ashqar maju untuk kedua kalinya. Namun, masih gagal.
Ashqar menangkap wajah Safira, memaksa istrinya untuk bertemu pandang. Meski Safira sempat menolak dengan memejamkan mata, tapi Ashqar berhasil membusuk wanita kesayangannya dengan cara memberikan kecupan ringan di kelopak matanya.
“Belum bisa,” ucap Ashqar saat netranya dan netra coklat Safira saling bertemu. “Kamu nggak jahat dan nggak salah, kamu bersikap manusiawi. Memaafkan memang bukan perkara mudah, itu sebabnya Allah janjikan pahala yang setimpal untuk orang yang bisa melakukannya. Pelan-pelan ya, Sayang?”
Safira tak menjawab. Wanita itu hanya memberikan anggukan halus dan terus menatap kedalam manik mata Ashqar. Kata-kata yang suaminya ucapkan mampu menghapus gundah dan kesedihan di hati Safira, sementara tatapan lembut penuh kasih sayangnya sudah menyedot Safira dalam dimensi lain. Dia bisa merasakan hangat telapak tangan Ashqar di kedua pipinya.
Lalu setelahnya Safira menarik diri karena kaget, tapi Ashqar bergerak lebih cepat dengan menahan pinggang Safira dengan satu tangan sementara tangannya yang lain masih berada di wajah Safira untuk membelai kulit halus terawat istrinya.
“Aku rasa calon anak kita perempuan lagi deh, Yang.”
“S-sok tahu,” kata Safira terbata, menghindari kontak mata.
“Aku tahu. Mood kamu persis seperti waktu hamil Harsha, terus ...,” Ashqar menggantungkan perkataan dan mengeliminasi jarak tipis diantara mereka. “kamu makin kelihatan cantik.” Ashqar merapatkan tubuh dengan Safira lalu mencium istrinya.
__ADS_1
Safira melepaskan diri dan mundur satu langkah karena kaget, tapi Ashqar segera menariknya lagi untuk ciuman yang lebih dalam. Ashqar senang saat Safira menyambutnya dan membiarkannya untuk beberapa saat yang panjang. Sampai akhirnya Safira menjadi yang lebih dulu mengakhiri, wajahnya memerah dengan mata berkaca-kaca dan bibir merah memesona.
Ashqar menggesekan bibirnya ke dekat telinga Safira. “Aku mikirin kamu sepanjang perjalanan pulang,” katanya parau, lalu mulai mencium bagian belakang telinga Safira hingga ke tulang selangka.
Safira mendorong kepalanya ke belakang, lalu tertawa gemetar. “Mikirin aku atau yang lain?”
“Kamu. Keseluruhan,” gumam Ashqar di kulit Safira yang halus.
Dan baru saja Ashqar ingin membuat langkah yang berani, tiba-tiba suara pintu yang terbuka menghentikannya.
.
.
.
✄................................................
Nara Note :
Maapkan semalem aku ketiduran 👉🏻👈🏻🤧
__ADS_1
Jadi hari ini rapelan 🤭
Silahkan ditunggu notifikasinya~