Gaung Rasa

Gaung Rasa
3 Jahitan


__ADS_3

Setelah mematikan kompor Safira berjalan menuju ruang televisi, dimana Harsha tengah berceloteh entah mengucapkan kata ‘mamah’ atau ‘papah’, karena yang bayi empat bulan itu katakan hanya huruf ‘a’ saja. Safira mengusap perut buncit Harsha sebelum meraih ponsel di meja televisi dan duduk di depan Harsha yang berusaha tengkurap di atas karpet, mencoba untuk ke pangkuan Safira.


“Siang, Bu Siska,” sapa Safira, mengapit ponsel diantara pipi dan bahu sementara tangannya meraih tubuh sintal Harsha dan membawa bayi itu ke pangkuan.


“Siang, Bu Safira. Begini, saya diminta Pak Ashqar buat menyampaikan pesan.”


Safira mengerutkan kening. “Pesan apa ya, Bu? Kok, suami saya nggak telfon saya langsung?”


Bu Siska berdengung. “Gini, Bu. Tadi katanya Pak Ashqar udah telfon Ibu tapi nggak diangkat dan sekarang HP-nya mati, Bu.”


Safira mengatupkan gigi, berdesis tanpa suara mendengar nada tak enak dari Bu Siska. Lalu dia mengecek layar ponsel dan melihat tanda panggilan tak terjawab pada aplikasi berbalas pesan.


“Oh. Mungkin saya pas di dapur. Kalau gitu, pesan suami saya apa ya, Bu?”


“Ini Pak Ashqar baru aja ke Klinik Melati ….”


“Klinik Melati?” potong Safira, terdengar panik.


“Iya, Alvin jatuh tergelincir dari tangga jadi—”


Safira menjatuhkan ponselnya sebelum Bu Siska sempat menyelesaikan ucapnnya. Ibu tiga anak itu mematung, tidak siap mendengar kabar yang baru saja sampai di telinganya. Ingatan tentang letak kelas Alvin sangat mengganggu Safira.


Kelas Alvin berada di lantai dua. Meskipun tidak begitu tinggi, tapi anak manapun yang terjatuh dari sana pasti akan mendapatkan luka yang serius. Terlebih hujan akan membuat keramik menjadi lebih licin.


Membayangkan Alvin mendapatkan luka serius membuat Safira merasa lemas, seakan energinya terkuras habis dalam sekejap. Safira tertarik ke dalam dimensi lain, kepalanya terasa kosong sampai suara Harsha mengalun lembut menyentuh kesadarannya.


Bayi mungilnya mendengungkan huruf yang sama sambil mengigit dagu Safira dan hal itulah yang membuatnya kembali pada kenyataan. Setelahnya ia segera ke luar rumah, meminta tetangga sebelah untuk menjaga Harsha sementara Safira bergegas menaiki motor dan menyusul Ashqar.


Dalam perjalanannya, Safira tidak bisa berhenti merasa cemas. Hal itu membuatnya memacu sepeda motor dengan kecepatan gila. Spidometer motor matic kesayangan Safira berpacu diangka 80km/jam bahkan beberapa kali hampir menyentuh angka 100 saat jalanan cukup lengang.


Padahal jarak pandang pengendara tidak begitu jauh dan Safira sempat hampir terpeleset saat menghindari jalanan yang tak rata. Namun, perempuan pertengahan dua puluhan itu abai, tujuannya adalah untuk segera sampai di klinik dan memastikan sendiri keadaan anak sulungnya.

__ADS_1


Seperti peribahasa geruh tak mencium bau, kecelakaan datang tidak memberitahukan. Ban motor yang dikendarai Safira selip dan membuatnya jatuh tergelincir saat ia hendak berhenti di lampu merah. Safira dan motornya masuk ke dalam kolong mobil dan sempat terseret satu meter sebelum akhirnya si pengendara mobil sadar bahwa kecelakaan baru saja terjadi. Beruntung Safira mengenakan helm SNI dan jas hujan tebal.


Pada akhirnya, Alvin bukan satu-satunya yang harus menerima jahitan karena terpeleset di anak tangga terakhir, tapi juga Safira. Alvin mengalami luka sobek dengan dua jahitan di lutut dan lecet di kedua sikunya. Sementara Safira harus menerima tiga jahitan sepanjang empat sentimeter, lecet-lecet di tangan dan kaki sebelah kanan.


“Aku marah bukan cuma karena Mas lalai menjaga Zain, tapi karena Mas sepertinya nggak percaya sama aku dan itu yang buat aku lebih kesal dan juga kecewa,” tutur Safira getir.


Ashqar tampak terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar isi hati Safira perihal ini, sedangkan Ashqar sendiri selalu melakukan hal itu sejak Safira mengalami serangan panik pasca insiden penculikan Alvin dan Zain.


“Aku khawatir,” ucap Ashqar pada akhirnya. “Tapi aku juga nggak tahu kalau selama ini hal yang aku anggap antisipasi ternyata membuat kamu ….”


“Terluka,” sambung Safira. “Mas, aku ini istri kamu, bukan anakmu. Mas, nggak bisa mengkhawatirkan dan memastikan semuanya baik-baik aja di saat yang bersamaan. Jadi udah seharusnya kita bekerjasama buat melindungi anak-anak dan berbagi rasa khawatir juga cemas, bukan malah Mas pikul sendiri.”


“Aku memahami perasaanmu, Yang. Dan aku nggak mungkin nggak percaya sama kamu atau sengaja membuat kamu merasa kecewa. Ini nggak semudah yang kamu pikirkan sementara keselamatanmu dan anak-anak adalah tanggungjawabku.”


Safira bisa melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Ashqar. Namun, hal itu semakin mengusiknya.


“Tapi bukan berarti Mas selalu mencoba membuat aku menghindari mendengar kabar-kabar itu secara langsung. Aku ini masih teman hidup kamu, ‘kan?” Safira tidak memberikan Ashqar kesempatan menjawab. Dia lalu mengatakan, “Kalau masih maka perlakukan aku seperti teman hidup Mas, rekan rumah tangga ini dan bukannya anak bawang yang selalu Mas coba lindungi.”


Ashqar mengulurkan salah satu tangannya, membelai sisi wajah Safira dengan lembut. “Sayang, aku salah. Tapi aku bukannya selalu menjadikan kamu teman rumah tangga selama ini? Aku punya alasan dan kamu tahu apa itu. Dokter Andre bilang—”


“Nggak usah didengerin!” sembur Safira, melemparkan diri ke dada Ashqar dan mengaitkan kedua lengan di pinggang suaminya. “Atau kalau nggak Mas yang harus periksa ke Dokter Andre karena kebanyakan mengkhawatirkan aku sama anak-anak.”


Ashqar mengulum senyum, tangannya terulur mengusap punggung Safira. “Sayangnya aku lebih milih dengerin Dokter Andre daripada kamu.”


Mendengar perkataan Ashqar, Safira sontak menegakan punggung. Ia melemparkan tatapan tak terima. “Kok, gitu? Aku istri Mas, loh.”


“Emang,” kata Ashqar, menjawil hidung Safira. “Tapi yang jadi dokter bukan kamu.”


Baru saja Safira akan membantah dan memberikan argument bantahan saat suara serak Alvin mengejutkan keduanya.


“Mamah sama Papah ngapain?” tanya Alvin, mengusap kedua matanya yang setengah tertutup dengan punggung tangan secara bergantian.

__ADS_1


“Nggak ngapa-ngapain, kok.” Safira terperanjat, menjauhkan diri dari Ashqar dan membenahi cara duduknya. Dia terlihat cukup gelagapan saat melihat Alvin berjalan mendekat. Jadi sebelum anak itu sampai padanya, Safira buru-buru menghampiri dan bersimpuh di depan Alvin.


“Kok, Mas Alvin udah bangun?” tanya Safira.


“Sholat subuh, Mah.”


Kening Safira berkerut, alisnya hampir menyatu. “Sholat subuh? Ini jam berapa?”


“Hampir jam lima, Mah.”


Safira menoleh ke belakang, Ashqar memperhatikan ponselnya dan berjalan mendekat. Dan begitu berada di sampingnya, Ashqar sedikit menunduk dan berbisik, “Yang tadi kita obrolin lagi nanti.”


Lalu setelahnya Ashqar menggandeng tangan Alvin dan menuntunnya ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan berwudu. Sementara Safira hanya bisa diam memperhatikan punggung suami dan anaknya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


1rb kata harusnya lumayan panjang lah ya ( ꈍᴗꈍ)


Mau dibagi dua tanggung jadi lanjutkan saja wkwkwkk


Maafkan hari ini ngaret naiknya, kerjaan kantor kalau udah masuk semester 2 rasanya kayak dikejer hantu. Tapi mudah-mudahan chapter ini sedikit mengobati.


Btw, jangan lupa tinggalkan jejak like atau komen atau dua-duanya ☻🌚

__ADS_1


Wajib! Kalau nggak aku hadang di gang depan 😂


__ADS_2