
Saat Safira ke luar dari rumah, beberapa ibu-ibu kompleks menyapanya seperti paduan suara. Dia sampai bingung memberi tanggapan dan hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis. Rupanya terik matahari pagi tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkumpul bertukar cerita atau bergosip sambil memilih sayur-mayur di langganan yang biasa berkeliling komplek.
Begitu kantung hitam besar mendarat di tong sampah besar, Safira berpikir untuk ikut bergabung bersama ibu-ibu. Bukan untuk ikut nimbrung bergosip, tapi membeli beberapa bumbu dapur yang hampir habis. Walaupun rasanya tidak mungkin kalau dia akan dibiarkan memilih dengan tenang tanpa ditanyai ini itu, terutama mengenai Harsha.
Lalu saat Safira berbalik, tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan Hendra. Sambil mengembangkan senyum tips, Safira menyapa, “Pagi, Pak.”
“Pagi juga, Mbak Fira.”
“Tumben baru nyiram tanaman, Pak?” tanya Safira, melangkah menghampiri. Mengobrol dengan Hendra sebenarnya lebih menyenangkan ketimbang bersama ibu-ibu yang pembahasannya hanya itu-itu saja. “Apa kesiangan?”
Tawa ringan Hendra menyambut Safira ketika perempuan itu berdiri di balik pagar kayu sepinggang orang dewasa. “Iya, Mbak Fira. Baru sempet,” tutur Hendra. Senyumnya secerah warna bunga mawar yang tengah disiram. “Kok, Mbak Fira buang sampah sendiri? Biasanya Mbak Jum.”
“Mbak Jum hari ini izin, anaknya lagi sakit jadi saya suruh pulang.”
“Oalah, mudah-mudahan anaknya cepat sembuh. Pantes tadi kelihatan buru-buru, saya pikir mau belanja di warung. Mau saya tanya tapi keburu pergi jauh.”
Safira tidak pernah tahu jika tetangganya ini cukup peka terhadap sekitar. Bahkan terhadap Mbak Jum yang baru dua bulan kerja bersamanya.
“Tanaman Pak Handra kayaknya makin banyak, ya?” Safira menyentuh daun di tangkai pohon mawar.
Mawar adalah bunga favorit ibunya. Safira ingat bagaimana beliau begitu telaten merawat tanaman-tanaman berduri yang tumbuh sehat di pekarangan rumah. Di bawah pohon mangga, ibunya menyusun banyak tanaman tersebut dan begitu waktunya mekar maka pekarangannya seperti taman di buku-buku dongeng yang selalu ibunya bacakan.
__ADS_1
“Buat Mbak Fira.”
Safira mengangkat wajah, setangkai mawar berada di hadapannya. Kemudian dia memandang mawar itu dan Hendra bergantian. “Kenapa Bapak potong? ‘Kan, sayang.”
“Nggak apa-apa, Mbak.” Hendra mengibaskan tangan di depan wajah sambil tersenyum. “Kelihatannya Mbak Fira tertarik sama mawar merah.”
Tangan Safira terulur, menerima setengkai mawar dan menatapnya penuh rindu. “Dulu almarhumah ibu saya suka merawat mawar. Makanya lihat Bapak begitu telaten merawat taman, saya jadi inget beliau.”
Safira tidak ingat banyak kenangan masa kecilnya. Satu-dua terasa samar-samar dan tumpang-tindih setiap kali dia berusaha mengingat-ingat. Namun, karena itulah yang membuat kenangan yang masih menempel diingatannya jadi terasa lebih berharga. Ingatan tentang kebiasaan mendiang ibunya atau kegiatan yang dulu keluarganya lakukan. Meski tak bisa diulang, tapi setidaknya masih tersimpan baik.
“Orang yang bisa merawat mawar dengan baik biasanya orang yang teliti dan lembut,” ucap Hendra lirih. “Mbak Fira mau saya kasih satu?”
Safira tertegun. “Boleh, Pak. Saya nggak nolak,” ucapnya, tanpa sadar melebarkan senyum.
Beberapa tanaman hias tertata rapih di halaman yang tidak begitu luas. Pot-pot bunga besar-kecil berjejer sesuai dengan ukuran dan jenis tenaman yang ditanam. Kalau dilihat-lihat, rasanya pekarangan rumah Hendra tampak tidak asing.
“Ada apa, Mbak?”
Safira tersentak, sedikit terkejut mendapati hendra sudah ada di depannya. “Nggak apa-apa, Pak.”
“Ini, Mbak Fira.” Hendra menyodorkan pot berukuran sedang dengan sebuah tanaman bunga yang masih berbentuk kuncup. “Bunga mawar, tapi belum mekar.”
__ADS_1
“Ada cara khusus buat ngerawatnya, Pak?” tanya Safira, menerima pot pemberian Hendra.
Dengan penuh semangat, Hendra menjelaskan detail cara merawat bunga mawar. Lelaki setengah baya itu bahkan menjelaskan dari proses perawatan bibit hingga bagaimana merawat tenaman bunga mawar setelah mekar. Kemudian obrolan mereka berkembang, mengalir seperti dua orang teman karib. Sampai tiba-tiba Hendra mulai tampak tidak fokus dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
“Alvin sebenernya sempat minta buat memelihara kucing, tapi Zain keberatan.”
“Oh, gitu.” Hendra melirik kesana-kemari. “Biar Alvin kalau mau main ke sini aja, Mbak.”
Kening Safira berkerut. “Takutnya ngerepotin, Pak.”
“Nggak kok, Mbak.” Hendra tertawa, sedikit terdengar sumbang. “Maaf, Mbak. Saya ke dalam dulu masu kasih makan Milo,” pamit Hendra, berlalu ke dalam rumah tanpa mendengar sahutan Safira.
Safira merasa aneh dengan sikap Hendra yang tiba-tiba, tapi hal seperti ini bukan hal baru untuknya. Hendra memang sering bersikap seperti itu bukan satu-dua kali.
“Kamu ngapain di depan pagar rumah orang, Fi?”
Suara familiar menarik atensi Safira dan membuatnya menoleh ke sumber suara. “Kak Rafa?”
.
.
__ADS_1
.
✄................................................