
Sari tak mengatakan apapun, yang dia lakukan hanya mengusap wajah basah Safira dengan kertas tissue dan setelah Safira tenang, ia memberikan segelas air.
“Ibu nggak tahu harus berkomentar apa, atau bagaimana menjawab pertanyaan kamu,” katanya, mengusap kepala Safira.
Safira menggenggam erat gelas kaca di tangannya. Beberapa teguk air putih rupanya mampu membantunya sedikit lebih tenang.
“Tapi ... boleh ibu tanya sesuatu?”
Safira melirik Sari dari sudut mata. Ibu sambungnya itu duduk di sisi ranjang sambil masih membelai kepalanya. Dan untuk pertama kalinya Safira melihat sisi lain Sari yang berbeda dari selama ini ia tahu.
“Iya, Bu. Tanya apa?”
Sari terlihat ragu. Dia menarik tangannya dan memandang Safira tepat di manik perempuan itu. “Rumah tanggamu dengan Ashqar baik-baik aja, ‘kan?” Namun, belum juga Safira menjawab, Sari sudah buru-buru menambahkan, “Ibu tahu ibu nggak punya hak mencampuri urusan rumah tangga kalian, jadi kalau kamu nggak mau jawab ya nggak apa-apa.”
Safira membisu. Dia menengadahkan wajah, menatap langit-langit kamar rawat. Bayangan wajah Ashqar lengkap dengan senyum manis di wajahnya tercetak disana, dan hal itu membuat perasaan Safira menjadi tak menentu. Tiba-tiba saja ia merasakan rindu. Namun, ada perih yang juga menyertainya.
“Kami baik-baik aja, Bu.”
Mendengar kalimat singkat itu membuat Sari merasa lega. “Kalau begitu nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Cukup percaya satu sama lain, maka kalian pasti bisa melewati ujian ini.”
Safira menoleh, keraguan tergambar jelas di wajahnya. Dia menimbang-nimbang, apakah tak masalah jika ia menceritakan masalah rumah tangganya kepada Sari?
__ADS_1
Selama ini satu-satunya teman curhatnya adalah Ranee dan semenjak perempuan itu resmi menjadi kakak iparnya, Safira jarang sekali bertemu dan mengobrol. Sahabatnya itu sibuk dengan pekerjaan dan menjadi objek monopoli Rafa yang posesif.
Safira menatap Sari lamat. “Bagaimana aku mau percaya kalau ternyata beberapa hal sengaja disembunyikan dari aku. Dan sekarang, aku harus tahu dengan cara seperti ini.”
Sari tersenyum maklum. Dia cukup hafal sedikit perangai Safira, keras kepala dan seenaknya sendiri. “Banyak sekali hubungan yang hancur karena salah paham dan jangan sampai kamu terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Lebih baik kamu bicarakan hal ini dengan Ashqar, ibu yakin kalian pasti bisa menyelesaikan masalah ini.”
“Aku nggak tahu, Bu.”
Safira menundukkan kepala. Tak pernah dia sebelumnya merasa pesimis seperti ini. Dia bisa saja mengajak Ashqar berbicara dan menyelesaikan masalah ini, tapi kenapa harus dia yang melakukannya?
“Aku merasa sepertinya cuma aku aja yang peduli dengan gosip itu, sementara Mas Ashqar ....” Safira tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Rasa sesak tiba-tiba mendesaknya sampai tenggorokan dan jika ia mengatakan satu kata saja, mungkin yang terdengar hanya isakan.
“Aku nggak tahu bagaimana caranya.” Safira menarik napas panjang. “Menenangkan diri dan tetap menaruh kepercayaan ditengah situasi seperti ini. Aku bahkan nggak tahu bagaimana perasaanku saat ini, Bu.”
Safira menaikan wajah, bertemu pandang dengan Sari yang terlihat tenang.
“Apa kamu akan tenang jika Ashqar sudah mengatakan atau melakukan sesuatu tentang hal ini?” tanya Sari, dan mendapatkan anggukkan dari Safira. “Kalau begitu bertanya, bicara. Cuma dengan begitu kamu mendapatkan ketenangan dan perasaan aman. Dan harus juga kamu tahu, Fi. Cara berpikir laki-laki rata-rata biasanya lebih sederhana dalam menghadapi masalah, terkadang ada beberapa hal yang sudah dipikirkan dan antisipasi lebih dulu sebelum kita mengetahuinya. Laki-laki cenderung menggunakan logika berpikir, sementara perempuan sebaliknya.”
“Aku tahu, Bu. Tapi itu nggak berarti segalanya harus ditutupi dari aku, istrinya. Bukankah setiap pasangan harusnya saling melengkapi dan terbuka?”
“Itu memang harus. Tapi beberapa hal, meski dalam sebuah hubungan, ada kalanya masing-masing suami istri membuat keputusan dan bertindak sendiri tanpa memberitahu pasangannya. Hal itu pasti ada alasannya. Makanya komunikasi itu penting, dalam keadaan sulit sekalipun kalau kamu dan Ashqar bicara dengan pikiran terbuka ibu yakin solusi itu selalu ada.”
__ADS_1
“Apa ... itu juga yang Ibu dan Bapak lakukan? Sebelum rujuk?”
Sari bekedip, tak menduga pertanyaan Safira. “Kalau masalah itu, ibu yang sebenarnya memaksa. Ibu bersikeras membujuk bapakmu, meyakinkan beliau kalau ibu bisa berubah.” Sari membelai surai Safira sekilas. “Kamu juga tahu ‘kan, kalau bapak itu keras kepala? Jadi setelah usaha yang selalu ditolak mentah-mentah itu, bapak akhirnya mau memberikan kesempatan buat bicara. Awalnya hanya itu, tapi dari pembicaraan itu ibu dapat banyak kesempatan dan jadi melihat sisi bapak yang selama ini ibu nggak sadari.”
“Seperti?”
“Bapak yang diam-diam mengawasi gerak-gerik ibu lewat orang suruhannya. Ibu tahu bapak melakukan itu hanya buat memastikan kalau ibu nggak akan berbuat sesuatu yang buruk sama kamu, tapi belakangan setelah rujuk ibu baru tahu kalau bapak melakukan itu juga buat memastikan ibu dan Raka baik-baik aja.” Sari menarik diri dari sisi ranjang dan kembali ke kursi. “Setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing dan yang menjalaninya harus siap menghadapi itu. Masalah, pertengkaran, berselisih paham dan lain sebagainya adalah bumbu berumah tangga. Dan memang benar keterbukaan adalah salah satu kunci hubungan yang langgeng, tapi selain itu ada toleransi dan komunikasi.”
Baru saja Safira membuka mulut untuk menimpali ucapan Sari, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras disusul dengan suara lantang yang memanggilnya.
“Mamah!” seru Zain, melangkah masuk dengan langkah cepat. “Mamah kenapa ada disini?”
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
__ADS_1