Gaung Rasa

Gaung Rasa
Bisu


__ADS_3

Safira masih enggan melepaskan tangannya dari pinggang kokoh Ashqar. Setelah dipindahkan ke kamar rawat dan suster yang membantunya undur diri, Safira meminta, memaksa lebih tepatnya, Ashqar untuk berbaring di sampingnya.


Ranjang yang terasa sempit, pencahayaan temaran dan ruang gerak terbatas karena selang infus Safira membuat sepasang sejoli itu hanyut dalam suasana. Keduanya larut dalam sunyi, menikmati suara jarum jam dan angin dingin dari pendingin ruangan.


Ashqar menopang sisi kepalanya dengan sebelah tangan, manik mata yang biasanya penuh percaya diri kini diisi sedikit rasa ragu. Namun, itu tak membuatnya mengalihkan pandangan dari wajah wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang telah memberikannya kebahagiaan terbesar sebagai seorang laki-laki.


“Mas, anak-anak?” tanya Safira lirih.


Itu adalah kalimat terpanjang Safira sejak keduanya bertemu di UGD. Perempuan itu terlalu bingung dengan apa yang sudah menimpanya hingga sulit untuk mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Sementara Ashqar pun tak jauh berbeda, rasa penyesalan, amarah dan kegembiraan saling berebut untuk menduduki posisi puncak dari relung batinnya.


Ashqar terdiam sesaat, maniknya menatap lurus manik Safira yang mulai sayu karena obat dalam infus. “Mereka baik-baik aja, Sayang.”


Safira menyembunyikan wajahnya di dada Ashqar dan menggeleng disana. “Mereka dimana? Aku kangen.”


“Alvin sama Zain di tempat Mbak Rahma, kalau Harsha sama Uti Sari,” jelas Ashqar. “Kalau kamu kangen nanti kita video call, ya?”


Safira lagi-lagi menggeleng kemudian kembali membisu. Hal itu semakin membuat benak Ashqar berkecamuk. Dia sedikitnya mengetahui apa yang sudah menimpa istrinya. Menurut keterangan Hendra, Safira diserang oleh dua orang tak dikenal yang berhasil masuk ke dalam rumah. Entah apapun motifnya, yang jelas Ashqar sudah pasti tak akan membiarkan kedua orang itu lolos.


Sementara kejadian Safira belum bisa Ashqar pecahkan, ia harus menghadapi kenyataan bahwa istrinya kini kembali berbadan dua. Demi Tuhan! Bukannya ia merasa tak senang, jelas ini adalah kabar menakjubkan. Namun, Ashqar tak yakin bagaimana menyampaikan hal ini pada Safira yang masih terkejut.


“Sayang, aku minta maaf atas kebodohanku.” Ashqar berucap lirih sambil mengecup puncak kepala Safira. “Andai aku pulang lebih cepat,” bisiknya.


Safira mengeratkan pelukannya. Perlahan air mata kembali membasahi pipi dan dada Ashqar. “Aku takut, Mas.”

__ADS_1


“Kamu udah baik-baik aja, Sayang.” Ashqar memejamkan mata, memeluk tubuh ringkih Safira sama eratnya. “Maaf karena kelalaianku, kamu harus mengalami hal seperti ini. Semua ini salahku.”


Sudah cukup lama sejak hari dimana Harsha lahir ke dunia, Ashqar berlinangan air mata. Lalu tak ada lagi kalimat yang terlontar dari bibir Ashqar maupun Safira, keduanya memilih membisu dan membiarkan air mata menyampaikan perasaan keduanya.


◍◍◍


Ashqar terbangun dengan rasa pening yang menghantam kepala. Dia mengangkat tangan, menatap jam di pergelangan tangannya dan mengetahui jika ia tertidur cukup lama.


Perlahan Ashqar turun dari ranjang kemudian merenggangkan tubuh kakunya sebelum akhirnya membasuh wajah dan mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat ashar. Dan setelah menyelesaikan kewajibannya, Ashqar ke luar kamar rawat.


Punggung Ashqar bersandar pada dinding di samping pintu, tangannya yang menggenggam ponsel sudah berada di samping telinga dan menunggu panggilannya tersambung.


“Assalamu'alaikum. Dimana, Fa?” todong Ashqar pada Rafa dibalik sambungan.


Kening Ashqar berkerut mendengar nada suara Rafa yang seperti tengah terburu-buru. Kemudian Ashqar teringat jika Edi dan Hendra sudah tak ada di depan ruang UGD saat ia hendak memberitahu Edi tentang kondisi Safira.


“Ada apa, Kar?”


Ashqar bisa mendengar suara mesin mobil yang menyala. Dia bertanya-tanya apakah Rafa sudah tahu tentang keadaan Safira?


“Woy! Ashqar! Kamu mau ngomong apa?”


Bentakan Rafa membuat Ashqar tersadar. Dia menghela napas panjang dan berkata, “Safira masuk rumah sakit.”

__ADS_1


“Kok, bisa?” seru Rafa.


Sepertinya pertanyaan Ashqar sudah terjawab. Jadi ia menjelaskan secara singkat dengan menghilangkan detail bahwa Safira diserang oleh dua orang, kepada Rafa. Kemudian setelahnya ia meminta Rafa untuk menjemput Alvin dan Zain di rumah Rahma.


“Jadi Harsha sama Bapak sama Ibu?” tanya Rafa, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


“Iya, aku baru baca chat yang Ibu kirim.”


Rafa menggeram tertahan di sisi sambungan. “Kamu berhutang penjelasan, Tikar. Aku tahu ada yang kalian sembunyikan, kamu dan Bapak. Aku jemput Alvin sama Zain sekarang.”


Setelah mengatakan hal itu, sambungan terputus. Membuat Ashqar terdiam sejenak dan setelahnya ia menghubungi Rahma yang sebelumnya menanyakan alasan rumah yang terkunci dan mengatakan jika malam nanti keluarga kakak perempuannya itu akan pergi berkunjung ke rumah orang tua Dani.


.


.


.


✄................................................


Bersambung~


Hari ini satu chapter aja gaes..

__ADS_1


jadi jangan ditungguin 👉🏻👈🏻😂


__ADS_2