Gaung Rasa

Gaung Rasa
Buntut Beruang


__ADS_3

“Nggak bisa!” seru Rafa pada Safira. “Kamu harus tetap di rumah.”


Safira merengut. “Nggak! Aku juga mau ikut ke Jakarta.”


“Nggak usah macem-macem, Fi.” Nada suara Rafa penuh peringatan. “Kamu lagi hamil dan kakak nggak mau kehadiran kamu cuma bikin rencana ini terhambat.”


“Maksud Kakak, aku cuma jadi beban gitu? Bakal ngerepotin kalau ikut kalian?”


“Memang. Bagus kalau kamu sadar.”


“Sekedar mengingatkan. Aku hidup bertahun-tahun tanpa menyusahkan orang lain loh,” ucap Safira santai. “Jadi nggak ada alasan Kakak nolak permintaanku.”


Rafa berdecak sangat keras. “Masalah itu dan ini sangat berbeda,” kata Rafa dengan menekan kata terakhir. “Kamu nggak usah ngeyel¹ bisa nggak?”


Safira melemparkan tatapan permusuhan pada Rafa. Dia memendam kekesalan luar biasa pada kakak laki-lakinya bahkan sejak sebelum ia masuk ke dalam ruang kerja Edi.


Safira awalnya hanya mengekor Ashqar menuju ruang kerja Edi begitu mereka tiba di rumah. Satu-satunya yang ia pikirkan saat itu adalah keadaan anak-anaknya terutama Zain yang sudah terekspos ke media. Jadi saat Ashqar masuk ke dalam ruangan, Safira memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu di luar.


Pintu yang tak tertutup, mungkin Ashqar sengaja melakukannya, membuat Safira tetap bisa mendengar percakapan antara suaminya, Rafa juga Edi. Dia baru saja akan masuk saat Rafa bertanya pada Ashqar apakah pria itu mengatakan bahwa mereka akan menemui Nita. Seketika emosi Safira meluap, ia melangkah masuk sambil berkata bahwa Ashqar telah mengatakan segalanya.

__ADS_1


Menyadari situasi tegang antara kakak beradik di hadapannya, Ashqar segera menengahi. Dia membunuh jarak yang tak seberapa antara dirinya dan Safira, mengulurkan tangan untuk merangkul pundak si kesayangan sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Safira.


“Sayang—”


Namun sialnya, Ashqar menjadi korban pelampiasan kekesalan Safira.


“Apa?” sungut Safira. “Mas juga mau bela Kak Rafa, ‘kan? Mau bujuk aku supaya nggak ikut kalian?”


Ashqar mengembangkan senyum. Dia memindahkan tangan dari telapak tangan Safira ke pipi istrinya. “Iya, tapi ...,” ucapnya, sengaja memberi jeda. “semua demi kebaikan kamu, Sayang. Aku paham kalau kamu mau tahu secara langsung penjelasan dari Nita, tapi situasinya nggak memungkinkan. Aku nggak mau kalau kamu terekspos dan jadi konsumsi publik kalau sampai ada wartawan tahu kita bakal mediasi.”


“Tapi, Zain ....”


“Justru itu,” ucap Rafa. “Karena Zain udah terekspos makanya kita harus hati-hati dan cepat menyelesaikan masalah ini. Jadi tolong jangan keras kepala ya, adikku sayang.”


Namun, bukan Safira jika ia tak memiliki rencana lain untuk sekedar membuat Rafa jengah dengan tingkahnya. Sebelum hubungan mereka seperti sekarang pun, Safira sering dengan sengaja memancing kekesalan Edi dan Rafa sebagai bentuk protes atas keputusan-keputusan sepihak yang keduanya buat.


Jadi dengan sengaja Safira terus menempel pada Ashqar, mengikuti setiap gerakan suaminya seperti ekor beruang, baik saat Ashqar menyiapkan pakaian ataupun ke kamar mandi. Safira juga memaksa ikut mengantarkan Rafa dan Ashqar ke bandara meski sudah dilarang.


Dan begitu pesawat Rafa dan Ashqar take-off dijam 10.15, Safira meminta supir untuk segera mengantarnya ke sekolah Zain. Putra tengahnya itu pasti sudah merengut karena ia telat menjemput, belum lagi Safira merasa Zain sudah marah padanya sejak pagi. Ini pasti akan jadi hal yang sulit baginya untuk membujuk Zain.

__ADS_1


Keadaan sekolah sudah hampir sepi saat Safira sampai disana, hanya tersisa pedagang-pedagang di luar pagar dan dua orang wali murid yang menjemput anak mereka. Menyadari jika ia juga merupakan salah satu dari kedua wali murid di depan matanya, Safira bergegas turun dari mobil.


“Bu Safira!”


Sebuah seruan menahan Safira menuju gerbang sekolah Zain. Dia berbalik dan melihat salah satu orang tua murid dari teman putranya berjalan menghampiri.


“Ada apa, Bu Eva?”


“Bu, tadi pagi saya lihat berita di TV. Apa bener itu, Bu?”


.


.


.


✄................................................


Pojok Bahasa :

__ADS_1


¹ Ngeyel : Keras kepala


Anda merasa bab ini kurang panjang? Kalau begitu tunggu kelanjutannya besok supaya tidak penasaran. ☜ wajib dibaca ala-ala sales tv shopping (. ❛ ᴗ ❛.)


__ADS_2