Gaung Rasa

Gaung Rasa
Perhatian


__ADS_3

“Sepertinya Mas Rafa sengaja supaya Mas Danish nggak ganggu Mbak Fira.”


Komentar tiba-tiba itu kembali membuat Safira terkejut. Dia belum sempat merampungkan rasa penasaran, tetapi sekarang muncul seorang lagi di sampingnya yang dengan santai merapatkan diri dengannya.


Safira mengenali wajah dari orang yang duduk di sampingnya itu. Rambut ikal sebahu, kacamata bulat dan tahi lalat di atas bibir menjadi ciri mencolok dari asisten pribadi Sari yang tak Safira ingat siapa namanya. Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali, sangat jarang kecuali disaat tertentu.


“Dita, Mbak Fira.”


Kerutan di kening Safira semakin dalam saat asisten Sari memperkenalkan diri, lebih tepatnya seakan mampu membaca isi pikirannya.


“Mbak Fira sering lupa nama saya dan beberapa kali bertanya hal yang sama,” terang Dita.


Safira tersenyum kaku. “Maaf, saya agak kesulitan mengingat nama orang.”


Terutama pada orang baru atau orang-orang yang jarang ia temui. Ranee adalah salah satunya. Saat pertama kali mereka bertemu dan Ranee memperkenalkan diri sebagai Vera, Safira sempat mengganti nama itu beberapa kali.


Seperti Mira, Sara, Vira dan Mita di dua minggu pertama mereka berkenalan. Hal itu hampir menimbulkan kesalahpahaman lain, Ranee menganggap Safira sengaja melakukannya karena tidak suka didekati. Terlebih jika mengingat perangai Ranee dan tugasnya yang harus bisa berbaur dengan lingkungan sekitar.


“Iya, saya tahu.” Tanpa melepas senyum tipisnya, Dita mengalihkan pandangan dari Safira. “Mas Rafa dan Mbak Ranee kelihatan sangat bahagia sekali ya, Mbak?”


Safira mengikuti arah pandang Dita. Tepat di sana, Rafa dan Ranee kembali menyalami para tamu undangan. Antrian mengular itu setidaknya berisi dua puluh sampai tiga puluh orang.

__ADS_1


Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Safira. Melainkan ucapan Dita.


“Memang udah seharusnya begitu. Ini hari bahagia mereka berdua, jadi bagaimana bisa Kak Rafa dan Mbak Ve—Ranee nggak bahagia,” ucap Safira menggigit sedikit lidahnya.


Hampir saja ia kelepasan memanggil Ranee dengan panggilan pribadinya. Biarpun Safira menolak memanggil nama asli dari kakak iparnya itu, tapi dia tetap melakukan sebaliknya jika dihadapan orang luar ataupun keluarga Ranee.


“Ah, iya. Mbak Fira benar. Memang udah seharusnya mereka bahagia.”


Safira melirik Dita dari ujung matanya, lalu keningnya seketika berkerut saat melihat ekspresi sendu Dita. Dengan cepat Safira menggapai kemungkinan. Beberapa hal terlintas di kepalanya, tetapi tidak bisa ia tanyakan begitu saja.


“Maafkan kehebohan mempelai pria. Dia cuma iseng mengerjai saya hanya karena dia menikah lebih dulu.”


Sindiran Danish dari arah panggung menarik atensi hampir seluruh orang di dalam ball room. Laki-laki bertubuh tegap itu kemudian turun dari panggung dan menghilang di balik pintu keluar. Safira berani jamin jika Danish saat ini merasa malu setengah mati dan sebenarnya dia sangat ingin memergoki Danish lalu menggoda sohib kakaknya itu, tapi Safira enggan berjibaku menyelinap diantara kerumunan tamu.


Safira menoleh. Sepiring lumpia basah disodorkan Dita kearahnya. Sontak visual makanan khas Semarang itu membuat perutnya keroncongan, mengingat sejak pagi tadi dia tidak makan dalam porsi besar. Hanya segigit bolu gulung yang sisanya diambil alih Zain, tiga suap dari sarapan Zain yang tidak habis, dan sebuah kroket kentang yang mampir ke saluran pencernaannya. Safira menghabiskan lebih banyak waktunya untuk memperhatikan kebutuhan ketiga putra-putrinya.


“Makasih banyak,” bisik Safira, menerima piring kecil dengan dua lumpia basah lalu menyuapkan salah satunya.


“Sebenarnya Bu Sari yang minta saya buat nemenin Mbak Fira dan kasih Mbak cemilan.”


Tangan Safira terhenti di udara, potongan lumpia basah yang semula hendak ia jejalkan ke dalam mulut perlahan kembali ke atas piring.

__ADS_1


“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Safira heran.


Dia memperhatikan bagaimana Sari menyunggingkan senyum tipis, gesturnya benar-benar mencerminkan istri seorang pejabat, yang membuat Safira harus mengakui jika Sari terlihat serasi dan sepadan dengan bapaknya.


“Saya nggak tahu pasti. Tapi saya pikir seharusnya Mbak Fira jauh lebih mengerti karena kalian berdua memiliki kesamaan itu,” ucap Dita kemudian menarik diri dari samping Safira.


Sementara itu, Safira kembali terdiam. Satu-satunya persamaan antara dirinya dan Sari adalah mereka seorang ibu. Dan Safira merasa tidak yakin bagaimana harus bersikap saat Sari menunjukkan perhatiannya.


Hubungannya dengan Sari memang berangsur membaik, tentu berkat Edi. Bapaknya itu membuat jadwal tiap dua minggu sekali atau satu bulan untuk berkumpul bersama, mengadakan piknik atau hanya bersantai di rumah.


Namun, hal itu tak lantas merubah segalanya secara keseluruhan. Salah satunya bahwa Safira sampai saat ini masih enggan memanggil Sari dengan panggilan yang semestinya. Alih-alih panggilan ibu, Safira akan memanggil uti dengan alasan membiasakan ketiga anaknya.


.


.


.


✄................................................


Yuhu~

__ADS_1


Aku kembali (づ ̄ ³ ̄)づ


Alur ceritanya lambat kayak aku biasanya. Jadi silahkan dinanti dengan sabar akhir ceritanya buat kalian yang masih mau ngikutin 😘


__ADS_2