Gaung Rasa

Gaung Rasa
Biar Bagaimanapun, Aku Juga Seorang Ibu


__ADS_3

Sudah lima hari sejak Nita kembali dari Semarang, tetapi para wartawan masih terus mengejarnya dengan pertanyaan yang sama meski ia sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar gosip yang sempat beredar. Seakan tidak bosan atau memang para pencari berita itu sudah kehabisan bahan untuk diulas, Nita tidak habis pikir dengan keadan yang saat ini masih menyelimutinya.


Pertanyaan tentang siapa kekasihnya yang sebenarnya hingga yang paling sering adalah tentang statusnya saat ini. Nita dengan mudah bisa mengatakan bahwa ia sedang berhubungan dengan seseorang saat ini meski ia tak menyebutkan nama dan profesi kekasihnya. Namun, untuk urusan status, Nita hanya memberikan jawaban aman atau yang paling sering dia lakukan adalah menghindar.


Dan seakan belum cukup untuk menyudutkannya, naskah dari acara talk show yang akan dihadirinya beberapa menit lagi juga membahas hal yang sama.


“Ck! Acara ini apa nggak ada topik lain yang mau dibahas apa? Terus aja mojokin gue,” gerutu Nita.


“Ya, mau gimana lagi. Topik lo yang lagi panas-panasnya, sih.”


Jawaban Mira terdengar ala kadarnya. Namun, mau bagaimana lagi. Ini adalah kesekian kalinya Nita mengomel hal yang sama dan dia kehabisan cara untuk menghibur.


Dan jelas Nita tidak begitu senang mendengarnya. Dengan perasaan jengkel ia melirik si manajer yang duduk santai di sofa belakangnya.


“Bang, ini beneran?” tanya Nita, mengangkat lembaran naskah setinggi wajah. “Yang dibahas lagi-lagi tentang—”


“Udahlah, tinggal dijawab aja kayak biasanya,” potong Heru enteng.


Nita berdecak keras. Dia melempar naskah dengan sampul hijau muda itu ke atas meja riasnya. Nita sudah cukup kewalahan menghadapi serangan wartawan ditengah jadwalnya yang padat, belum lagi tekanan dari manajemen yang masih percaya diri untuk terus memintanya menyembunyikan status.


Namun, sialnya, Heru sama sekali tidak berusaha untuk meringankan bebannya atau setidaknya menghiburnya. Heru belakangan justru terlihat santai.

__ADS_1


Sambil menghela napas, Nita menatap pantulan wajahnya yang sudah dipoles dengan make-up lewat pantulan cermin. Wajah lelah dan kantunh matanya yang gelap menghilang dibalik riasannya. Andai saja make-up juga bisa menghilangkan masalahnya saat ini. Atau ... mungkin cukup Heru dan dua orang penting dalam manajemennya, itu cukup membantu.


“Saya nggak bisa, Bu Siska.” Nita saat itu terlihat kesal. Dia baru sampai di Jakarta dan manajemen memintanya untuk datang ke kantor hanya untuk menekannya. “Bu Siska juga perempuan, ‘kan? Seorang ibu. Gimana bisa Bu Siska minta saya buat nggak mengakui darah daging saya sendiri.”


“Hal ini nggak ada hubungannya dengan saya seorang ibu atau bukan, Nita. Ini masalah profesional kerja,” ucap Siska.


Penampilan mewah dan berkelas dari perempuan yang 10 tahun lebih tau dari Nita itu memancarkan auranya sebagai seorang sosialita Ibu Kota. Bagaimana caranya duduk, berbicara dan memandang Nita seakan ingin menunjukan bahwa mereka berada dikelas yang berbeda.


Persetan dengan profesional kerja! Nita sadar betul yang dipikirkan manajemen adalah keuntungan yang akan mereka hasilkan lewat banyaknya acara yang bisa ia hadiri dengan gosip saat ini sebagai daya tariknya, dan ia jelas membencinya. Namun, dia sendiri tidak bisa berbuat banyak.


“Udah, Nit. Kamu nggak usah pusing pusing, cukup ikutin arahan dari kami aja.”


“Saya kapan nggak nurutin permintaan manajemen, Pak Bram? Tapi kali ini saya rasa udah nggak bisa mengelak. Saya nggak mau kalau sampai izin saya buat bersama anak saya dicabut oleh mantan suami karena saya nggak mengakui anak saya. Toh, selaman ini saya nggak pernah memberikan statement bahwa saya nggak pernah menikah atau gadis.”


Siska berdecak sambil menggoyang telunjuk di depan wajahnya. “Nggak. Nggak. Saya nggak mau tahu urusan kamu sama mantan suami kamu itu. Yang jelas, kamu dilarang membeberkan status kamu sama wartawan. Kamu pikir kalau sampai hal itu naik ke media, siapa juga yang susah? Kita udah tandatangan kontrak dengan banyak pihak besar.”


“Saya paham, Bu Siska. Saya udah bilang, saya nggak pernah kasih statement apapun mengenai hal itu,” ucap Nita, sedikit nada sindiran ia layangkan dengan sengaja.


Kemudian pertemuan itu berakhir begitu saja. Namun, satu hal tidak bisa Nita lupakan adalah ucapan Siska yang meskipun dikatakan dengan pelan, seperti bisikan, tapi masih bisa ia dengar.


“Dasar, perempuan kampung.”

__ADS_1


Mengingat hal itu membuat Nita merasa kesal. Rasanya ingin sekali dia menyumpal mulut sombong Siska, satu lembar kaus kaki bekas pakai rasanya masih belum cukup membungkam Siska dari perkataannya yang sering menyakiti telinga dan hati.


“Kak Nit, kita naik dua menit lagi ya.” Panggilan dari seorang kru perempuan memecah keheningan ruang tunggu khusus yang disediakan untuk Nita.


Seketika Nita kembali dari lamunannya. Sambil menghela napas, dia menatap pantulan dirinya dicermin, memastikan riasannya tidak luntur kemudian segera berdiri.


“Ayo, Mir.”


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Btw, makasih info dan masukannya buat perkembangan anak 4 bulan.


Sampai ketemu hari rabu~

__ADS_1


__ADS_2