
Ashqar menghampiri Safira dengan perasaan harap-harap cemas. Istrinya adalah tipikal orang yang memiliki simpati tinggi dan mudah tersentuh dengan kesulitan orang lain, tetapi bukan berarti itu menurunkan sikap kehati-hatian yang sudah mendarah daging.
“Mah,” panggil Ashqar, berdiri di belakang Safira dan menyentuh pundaknya. “Bapaknya itu nggak sengaja nabrak pembatas dan bikin bagian depan penyok. Dia mau tanggungjawab, gimana?”
Seketika senyum di wajah Safira luntur. Dia menoleh ke belakang dan tanpa sadar menaikan nada suaranya. “Penyok?”
“Aku nggak tahu seberapa parah. Apa mau kita cek dulu?” tawar Ashqar.
“Nggak usah dibesar-besarin, Fi. Udah biarin aja, nanti kakak yang beresin mobilnya.”
Safira menatap Rafa sinis. “Nggak mau! Itu mobil aku sama Mas Ashqar, Kakak nggak usah ikut-ikutan.”
Rafa berkedip, cukup terkejut dengan reaksi Safira yang tak ia duga. “Tap—”
“Bapaknya suruh masuk aja, Mas. Nggak enak ngobrol di koridor.”
Ashqar bergumam sebagai jawaban. Sebelum melakukan permintaan Safira, dia sempat melemparkan tatapan prihatin pada iparnya.
Kemudian segera suasana menjadi tegang saat Rafa dan Ranee memisahkan diri dengan pergi ke kamar mereka, sementara Ashqar, Safira dan Budi—staff valet, duduk di ruang tamu.
“Tolong dijelasin lagi kronologinya, Pak,” pinta Safira setelah Pak Budi memperkenalkan diri, memancing ketegangan untuk mencapai titik tertinggi.
Budi diam-diam menelan ludah lalu memberanikan diri menatap wajah datar perempuan yang tidak lebih tua dari putri bungsunya. Pria awal 50 tahunan itu sudah bekerja sebagai staff valet selama lima tahun lebih dan hal seperti sebenernya pernah terjadi, tapi tak separah yang sekarang ini dan juga bukan tamu VVIP.
Budi dengan suara bergetar yang ditahan menjelaskan detail kejadian dan juga menyodorkan foto kerusakan mobil Safira.
“Saya pasti tanggungjawab, Bu. Tapi tolong jangan laporin ke manajer ya, Bu? Saya nggak mau dipecat.”
__ADS_1
Safira memijit keningnya. Mobil yang baru tiga bulan lebih, hasil penjualan mobil lama Ashqar dan tabungan mereka,
harus mengalami kerusakan parah. Bagian bemper depannya penyok cukup dalam dalam hingga retak—hampir terbelah, dan beberapa goresan mengangkat cat dari mobil hitam tersebut.
“Mas, kalau dijumlah, total kerugiannya berapa?”
Ashqar sontak menoleh, menatap Safira tak percaya. “Yang?”
Ashqar tahu benar bahwa Safira memang tidak mudah percaya dengan orang asing. Namun, meminta ganti rugi atas kecelakaan yang tidak disengaja adalah sesuatu yang diluar perkiraannya.
“Berapa, Mas?”
“Yang, Pak Budi udah mau nunjukin tanggungjawab, loh. Kayaknya nggak usah sampai ganti rugi.”
Safira menatap Ashqar tak suka. “Justru karena Pak Budi mau tanggungjawab makanya aku minta Mas buat totalin biaya perbaikan mobil?”
Ashqar bimbang. Namun, ekspresi serius Safira yang jarang ia lihat membuat Ashqar tak memiliki pilihan. Sambil menghembuskan napas, Ashqar berkata, “3 sampai 4 juta.”
“Jadi gimana, Pak?”
Pertanyaan Safira terdengar seperti kabar buruk bagi Budi, terkesan menekan dan tidak bisa ditolak. “Iya, Bu. Saya ganti sejumlah itu. Tapi mohon maaf, apa bisa pembayarannya dicicil?”
“Kalau sekarang emangnya nggak bisa, Pak?”
Budi perlahan menundukan wajah. “Maaf, Bu. Tapi kalau sekarang saya nggak punya uang sebanyak itu.”
Safira mengangguk. “Kalau gitu ... berapa uang yang ada di dompet Bapak sekarang?”
__ADS_1
Budi kembali mengangkat wajah, ditatapnya Safira dengan pandangan bingung. Namun, tangannya tetap bergerak menuju saku belakang.
“200 ribu, Bu,” ungkapnya, memperlihatkan isi dari dompet kulit lusuh yang warna coklatnya sudah memudar.
Safira terdiam sejenak. “Kalau gitu saya ambil 100rb.”
“Yang, cukup.” Ashqar menegur Safira dengan nada suaranya yang pelan dan dalam. “Kamu jangan keterlaluan.”
“Mas kalau mau marahin aku nanti aja,” ucap Safira, mengabaikan teguran Ashqar. “Pak Budi masih berniat buat tanggungjawab, ‘kan?”
“I-iya, Bu.” Dengan sedikit berat hati, Budi menyerahkan selembar seratus ribuan kepada Safira.
Sebenarnya ia berniat menggunakan uang sisa gajinya itu untuk membeli obat istrinya yang menderita diabetes. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala sesuatunya adalah urusan Tuhan.
“Saya terima ya, Pak. Seratus ribu ini saya anggap ganti rugi Bapak karena udah nggak hati-hati dan bikin mobil saya rusak. Tolong lain kali hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi.”
.
.
.
✄................................................
Kalian pada update banget sih bab bab yang lagi viral di sosmed 🙈
Well, aku emang terinspirasi dari itu, tapi ... dengan versi yang aku sesuaikan buat Safira. Jadi gimana? Ada yang berhasil nebak persisi nggak? 🤭
__ADS_1