
Siang itu begitu terik, Alvin dan Zain yang baru pulang dari sekolah langsung menuju kulkas setelah berganti baju. Keduanya sudah berencana untuk menikmati es krim buatan mamah kesayangan.
“Mas ambilin!” seru Zain.
Alvin yang berdiri di atas kursi kecil menoleh ke belakang. “Tolongnya mana?”
Zain memamerkan deretan giginya. “Mas Alvin, tolong ambilin buat Zain juga.”
Alvin mengerling, tak menanggapi ucapan Zain kecuali sebuah dehaman halus. Tangannya telaten melepaskan bongkahan es dari tempatnya. Stik dengan kepala beruang itu dilapisi es berwarna merah muda dan coklat yang terbagi setengah-setengah, keduanya masing-masing merupakan rasa kesukaan Alvin dan Zain.
“Ini.” Alvin menyodorkan es krim tersebut pada Zain kemudian mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri.
“Loh? Mas Alvin sama Mas Zain kok, malah makan es krim?” Mbak Jum berjalan menghampiri kedua krucil dari arah teras belakang. “Mamah tadi pesen sama bibi, katanya kalian harus makan siang dulu baru boleh makan es krim.”
“Mamah dimana, Bi?” tanya Alvin, turun dari kursi dan menutup pintu kulkas.
Anak pertama Ashqar dan Safira itu juga sama asiknya dengan Zain yang hanya berdiri diam, memperhatikan Mbak Jum sambil terus menjilati es krim di tangan mereka.
Mbak Jum menghembuskan napas pasrah. “Mamah lagi keluar sebentar. Mas Alvin sama Mas Zain taroh dulu es krimnya, yuk?” bujuk Mbak Jum. “Bibi siapin makan siang gimana?”
Alvin dan Zain kompak menggeleng.
“Nggak mau! Zain mau makan es krim!” seru Zain sambil berlalu ke ruang televisi.
Sementara Alvin masih di tempatnya. “Alvin sama Zain ngabisin es krimnya dulu aja, Bi. Nanti kalau ditinggal malah meleleh.”
“Tapi nanti bibi dimarahin mamahnya Mas Alvin kalau tahu Mas Alvin sama Mas Zain nggak makan.”
“Alvin janji bakal makan kalau udah selesai makan es krim,” katanya mencoba meyakinkan. Dan saat Mbak Jum terlihat hendak memprotes, Alvin buru-buru menambahkan. “Zain juga. Nanti kita berdua makan siang kok, Bi.”
__ADS_1
Setelahnya, Alvin menyusul Zain yang sudah asik menonton kartun. Sedangkan Mbak Jum hanya bisa pasrah dengan kelakuan anak tertua majikannya dan berharap Alvin benar-benar bisa menepati janji. Karena kalau tidak, sudah pasti Safira akan menegurnya.
Meski bukan tipikal majikan yang gemar marah dan mengomel, seperti majikan sebelumnya, tapi Mbak Jum justru merasa segan dan tak enak jika sampai ditegur Safira. Karena Safira tak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil sampai yang lumayan besar.
“Ya udah, deh. Biar makan es krim dulu, nanti tinggal diingetin buat makan siang,” monolog Mbak Jum.
◍◍◍◍
Menghabiskan sebatang es krim tak memerlukan waktu lama apalagi jika sambil menonton kartun kesayangan, tapi hal itu bukan berarti cukup. Zain sudah bergerak-gerak gelisah saat tak ada yang tersisa di stik es krik biru muda untuk ia jilati.
Sambil mengigit stik es krim, dengan wajah bak anak kucing, Zain menoleh pada Alvin yang sedang menikmati es krim ditangan.
Merasa diamati, Alvin lantas menoleh. “Kenapa?” tanyanya, lalu memasukan sisa es krim di stik ke dalam mulutnya. “Udah mas makan, jangan minta.”
Alvin si sadis membuat adiknya merengut.
“Mas jahat. Zain ‘kan, belum minta. Eh, udah dihabisin aja.”
Antara rela dan tak rela, Zain menyerahkan stik es krim. Sebenarnya dia ingin lagi, tapi tak berani untuk ambil sendiri di kulkas. Jadi Zain berpikir jika Alvin akan memberikan sedikit es krim untuknya. Sayangnya, malah gagal.
“Mas, Zain mau lagi,” cicit Zain saat Alvin sudah berdiri dan hendak ke dapur.
Alvin menunduk lalu memasang wajah malas. Ekspresi Zain saat ini sangat dia hapal, ekspresi penipu. “Bilang sendiri sama Mamah,” katanya sambil berlalu.
Kekecewaan terpatri di wajah Zain. Dia mana berani bilang pada mamahnya, karena peraturannya jelas; satu es krim buat satu hari.
“Zain, sini!”
Zain mengangkat wajah, menoleh ke arah dapur. “Kenapa, Mas?”
__ADS_1
“Sini! Mau nggak?”
Didorong rasa penasaran, Zain dengan semangat berjalan ke dapur. Siapa tahu kakaknya itu berubah pikiran dan diam-diam memberikan ekstra es krim untuknya. Namun, begitu ia sampai di dapur, yang dilihatnya bukan sebatang es krim di tangan Alvin melainkan paha ayam goreng.
“Kok, ayam?”
“Makan, yuk.”
Zain merengut. “Nggak mau, ah.”
“Yakin?” Alvin menaikan satu alisnya. “Nanti mas bantuin bilang ke Mamah buat es krim tambahan. Mau, nggak?”
Tanpa pikir panjang, Zain berseru setuju. “Ok! Janji ya, Mas!”
Kemudian Zain bergegas mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk yang sudah disiapkan di meja konter.
.
.
.
✄................................................
Pojok Diksi :
¹Tuman : Kebiasaan (Bahasa Jawa)
Nara Corner :
__ADS_1
Harusnya bab ini aku naikin Senin, tapi berhubung kuotaku habis jadi nggak bisa dinaikin 😁