Gaung Rasa

Gaung Rasa
Jari Kelingking yang Bertaut


__ADS_3

Setelah mengantarkan Alvin ke sekolah, Ashqar dan Safira mengantar Zain. Riuh suara anak-anak, derit ayunan yang engselnya berkarat, juga suara beberapa ibu-ibu yang menegur anak mereka menyambut Safira saat turun dari mobil.


Safira melirik pada Zain yang sudah turun lebih dulu lalu menghampirinya. “Mas Zain kenapa? Mamah perhatiin dari tadi diem aja.”


Zain menaikan pandangan dan menatap wajah Safira cukup lama, kemudian menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa, Mah.”


“Bener?”


Zain mengangguk sebagai jawaban. Melihat itu, Safira justru menjadi khawatir. Dia berjongkok di depan Zain dan memegang kedua pundak putranya.


“Zain marah ya, sama mamah?” tanya Safira dengan nada selembut mungkin. Namun, bukannya menjawab, Zain malah memalingkan muka.


Safira menghembuskan napas halus dan memutar otak untuk menebak apa yang mungkin menjadi alasan sikap diam Zain. Seingatnya, Zain masih aktif dan cerewet saat sarapan. Anak itu bahkan sempat bermain kejar-kejaran dengan Raka hingga mendapatkan teguran dari Edi. Jadi apa yang membuat putranya mendadak jadi pendiam?


“Apa karena berita kehamilanku?” batin Safira. Sayangnya, belum sempat ia bertanya, Zain sudah berlalu.


Anak itu berjalan ke arah Ashqar, menabrakan diri ke kaki papahnya. Sedangkan Ashqar yang sebenarnya sejak tadi melihat Safira dan Zain dari dalam mobil memilih tak bertanya dan membalas pelukan Zain.


“Ayo, masuk ke sekolah.” Ashqar membelai puncak kepala Zain lembut, dan respon yang ia dapat hanya gelengan kepala. “Mas Zain nggak mau masuk? ‘Kan, kita udah sampai disini.”


“Nanti Papah sama Mamah jemput, ‘kan?” cicit Zain.


Ashqar melirik Safira, meminta pendapat lewat gestur. Beruntung Safira segera menyadari hal itu dan segera menghampiri keduanya.


“Iya, nanti mamah sama papah jemput Mas Zain sama Mas Alvin.”


Zain mengulurkan jari kelingkingnya pada Safira tanpa menatap mamahnya. “Janji?”

__ADS_1


“Janji, Sayang.” Safira menautkan kelingkingnya dengan kelingking Zain.


Setelahnya Zain melepaskan tautan mereka dan melirik Safira sekilas. “Kalau Mamah bohong, Zain nggak mau bolo sama Mamah,” ucapnya, sambil berlari masuk ke dalam sekolah.


Melihat itu, Safira menjadi bingung. Bahkan sampai ia meninggalkan sekolah Zain pun perasaan itu tak juga pergi dari benaknya. Saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah Zain lebih banyak diam dan menghindar dari tatapannya, saat ia bertanya pun Zain hanya menjawab dengan satu-dua patah kata. Ciri-ciri seperti itu adalah tanda kalau Zain sedang marah atau ngambek dengan mamahnya. Namun, tingkah Zain sesaat sebelum berlari masuk ke dalam sekolah jelas menunjukan hal sebaliknya.


Safira begitu larut dalam lamunannya hingga saat ia menaikan wajah, memperhatikan jalanan, ia baru sadar bahwa mobil tak melaju kearah rumah mereka.


“Kita mau mampir kemana, Mas?” tanyanya, menoleh pada Ashqar.


“Pulang, Sayang.”


Safira menatap Ashqar bingung. “Tapi ini bukan jalan ke rumah.”


Ashqar diam-diam berusaha menjaga ekspresi wajahnya. Sebelum berangkat mereka memang berencana untuk mampir ke rumah, memeriksa keadaan dan mengambil beberapa barang setelah selesai mengantar Alvin dan Zain ke sekolah. Mereka juga berencana bertemu Mbak Jum, tapi secara sepihak Ashqar merubah rencana tersebut.


Ashqar kesulitan melanjutkan perkataannya. Kemudian dengan cepat ia merubah lajur mobil dari kanan ke kiri saat situasi jalanan cukup lengang, dan berhenti di depan minimarket.


“Rafa minta aku segera pulang,” ucap Ashqar, tepat saat Safira membuka mulut.


Safira berkedip. Ucapan yang ingin ia lontarkan tertelan kembali, lalu ia teringat jika Ashqar sempat menerima telefon dari Rafa ditengah perjalanan. Jujur saja, ia sempat curiga. Namun, Safira tidak ingin membebani diri dengan pikiran negatif atau ia akan benar-benar meledak karena kelebihan kapasitas.


“Ya, udah. Kalau gitu ayo kita pulang, Mas.”


Tatapan Ashqar melembut. Dia menyelisik lewat ekspresi tak biasa istrinya. Safira terlihat berbeda, kecurigaan, ketakutan, seakan menghilang. Walaupun Ashqar sebenarnya bisa melihat jika istrinya berusaha untuk itu.


“Aku bakal terus merasa bersalah kalau nggak ngomong jujur sama kamu. Apalagi kamu udah berusaha seperti ini,” katanya, membelai sisi wajah Safira.

__ADS_1


Safira memejamkan sebelah matanya, cukup tak siap dengan gerakan tiba-tiba Ashqar. “Ada apa sih, Mas?” tanya Safira saat tangan Ashqar berpindah menggenggam sebelah tangannya. “Aku tahu Kak Rafa telfon bukan minta Mas pulang karena mau bahas urusan bisnis, tapi buat bahas masalah ....”


“Iya,” jawab Ashqar parau. “Tapi ada hal yang juga harus kamu tahu, Fi.”


“Apa?”


Ashqar meremas tangan Safira lebih kencang. “Pagi ini ada berita gosip yang memuat nama dan wajah Zain.”


.


.


.


✄................................................


Hi, guys!


Maapkan senin nggak bisa update. Aku lagi dikejar deadline kerjaan sampe akhir bulan ini, jadi nulis juga nggak selancar biasanya.


Makasih buat pengertian dan perhatiannya. Makasih juga kalian semua udah banyak dukung aku selama ini 🤗


Sampai jumpa dichapter berikutnya 👋🏻


with love,


nara rahma

__ADS_1


__ADS_2