
Safira tersenyum sinis saat laki-laki muda di depannya tak bisa menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
“Diamnya kamu, saya anggap sebagai jawaban,” ucap Safira. “Sekarang silahkan pergi dari rumah saya.”
Laki-laki itu tak bisa menyembunyikan rasa malu dan kecewa dari wajahnya, bahkan saat ia menarik turun kupluk jas hujannya. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Laki-laki itu hanya bisa pasrah dengan hasil yang didapatnya setelah mengawasi rumah Ashqar selama hampir dua jam.
Dia bahkan sudah mengawasi rumah Ashqar sejak mereka pulang dari Semarang, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari informasi dari tetangga sekitar tentang keluarga, yang kabarnya, mantan suami Nita. Dia juga sampai dimaki-maki atasan karena tidak juga mendapatkan berita yang diharapkan.
“Kerja gini udah kayak kuda. Telat makan, panas ya kepanasan, hujan ya kehujanan, belum lagi ditagih hasil sama atasan,” dumel laki-laki itu dalam hati.
Dan setelah semua yang ia lalui, pada akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit seperti ini. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya melapangkan hati dan menyiapkan mental untuk menemui senior dan atasannya dengan hanya membawa tangan kosong. Karena, sudah pasti ia akan menerima lebih dari sekedar omelan.
“Nasib. Nasib. Susahnya jadi anak magang,” bisik laki-laki itu.
Sementara itu, Safira memandangi punggung wartawan muda itu dengan perasaan campur aduk. Ketakutan masih tersangkut di tenggorokannya, membuatnya bernapas satu-dua. Namun, Safira tak menampik jika di sudut hatinya juga ada kelegaan.
Walau niat laki-laki itu datang ke rumahnya tidak bisa dibenarkan, tapi setidaknya dia bukan orang jahat yang berniat merampok rumah.
“Iya, untungnya bukan perampok,” bisik Safira, suaranya melemah dikata terakhir. Dia sendiri merasa bingung, tapi segera ditepis. Safira enggan ambil pusing.
Safira tak beranjak dari tempatnya sampai laki-laki itu benar-benar menghilang di balik gerbang.
__ADS_1
“Aku harus minta Mas Ashqar buat cepet-cepet pulang,” katanya, melangkah ke dalam rumah.
Safira baru saja melewati pintu saat kilat menyambar lalu disusul guntur yang menggelegar. Refleks ia menjerit, kepalanya langsung terasa kosong dan kemudian samar-samar sesuatu tergambar dalam pikirannya. Hal itu membuat pejaman matanya mengerat.
Safira mengulurkan tangan, berusaha menggapai dinding. Pening kembali menderanya dua kali lipat dari sebelumnya. Dan begitu telapak tangannya merasakan permukaan dinding, Safira membiarkan gravitasi menarik tubuhnya jatuh ke lantai yang dingin.
Saat bayangan-bayangan di kepalanya saling berjejalan, Safira semakin kebingungan. Dia tidak yakin apakah itu hanya khayalan atau bukan, beberapa seperti ingatan masa kecilnya dan sisanya sama sekali tak bisa Safira kenali. Keduanya saling tumpang-tindih dan membuatnya semakin pusing.
“Ibu, Bapak sama Kakak kapan pulangnya?”
Senyum wanita, yang diwariskan pada Safira, terukir tipis. “Sabar, ya. Sebentar lagi Bapak sama Kakakmu juga pulang.”
“Fira. Sayang. Janji sama ibu, ya? Fira sembunyi disini dulu sebentar, jangan keluar kalau nggak ibu suruh. Paham, ya?”
“Tapi kenapa, Bu?”
“Soalnya diluar ....”
Safira merintih lebih keras, tanpa sadar ia sedikit membenturkan kepalanya di dinding. Dia sama sekali tidak ingat apa yang ibunya ucapkan, bahkan sebenarnya dia tidak tahu yang terbayang di pikirannya itu nyata atau tidak.
Kemudian ingatannya semakin carut-marut. Safira mengatur napas dan perlahan-lahan ia bisa mengendalikan diri. Sejenak ia mengabaikan apa yang baru saja terjadi padanya. Namun, belum juga Safira benar-benar mendapatkan fokus secara utuh, ia dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan keras hingga menghantam dinding.
__ADS_1
“Mbak! Kita ini bukan penjahat, ya! Kita ini wartawan dan kita juga dilindungi oleh hukum. Jadi Mbak jangan sembarangan sama rekan kerja saya!”
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Kalau update jam segini berarti ...?
Yak, silahkan jawab sendiri 🤭
Btw, makasih buat kalian yang masih setia nunggu cerita ini update terus. Tolong kawal sampai tamat, yak? kkk~ dan jangan lupa kasih dukungannya 👉🏻👈🏻
Like atau komen udah cukup, karena aku tau kl pembacaku juga nggak mungkin punya satu bacaan di NT. Jadi silahkan dukung author-author kesayangan kalian dengan cara yang sportif, nggak perlu saling menjatuhkan karena setiap penulis punya gayanya masing-masing.
Salam sayang, nara♡
__ADS_1