Gaung Rasa

Gaung Rasa
Depresi


__ADS_3

Setelah Ranee menenangkan diri dari rasa kaget, ia melepaskan pelukan dari tubuh Safira. Wajah mungil Safira yang dihiasi senyum tipis menyapa indra pengelihatannya, tetapi saat ia menaikan pandangan, betapa terkejutnya Ranee melihat manik Safira berkaca-kaca.


“Fi, kamu kena—”


Belum sempat Ranee merampungkan perkataannya, Safira sudah terisak sambil menundukkan kepala. Hal itu jelas membuat Ranee kebingungan. Selama ia mengenal Safira, tak sekalipun wanita itu menangis tanpa alasan dan satu-satunya alasan terbesar Safira, saat itu, adalah Edi.


“Fi, kamu baik-baik aja? Ada apa?” tanya Ranee khawatir.


Safira menggeleng. Lalu dengan satu tarikan napas dalam, dia menaikan wajah. “Nggak apa-apa, Mbak,” katanya, mengusap pipi.


Senyum kembali menghiasi wajah Safira, garis senyumnya terlihat dalam dan maniknya menyipit membentuk garis. Terlihat meyakinkan untuk membuat kekhawatiran Ranee sirna, andai saja mereka tak saling mengenal cukup lama.


“Apa karena sekarang aku istri kakakmu makanya kamu nggak mau berbagi cerita lagi?”


Safira kembali menggeleng. “Nggak gitu, Mbak. Tapi aku emang nggak kenapa-napa.” Safira menatap Ranee mantap. “Lihat. Aku baik-baik aja, tadi cuma emosional. Maklum bawaan bayi.”


Ranee merasa de javu. Sudah bertahun-tahun yang lalu saat pertama kali mereka menjadi dekat, menghabiskan waktu bersama cukup sering dan sedikit berbagi cerita. Saat itu ia tak tahu apa yang sedang Safira alami, tapi ditengah-tengah obrolan tentang siapa aktor favorit mereka, Safira tertawa sambil menangis atau mungkin menangis sambil tertawa.


Dan Ranee merasa saat ini hampir mirip dengan saat itu. Kemudian dengan ringan ia membelai kepala Safira, wanita yang sejak awal mengenal sudah ia anggap seperti adik sendiri.

__ADS_1


“Apa kamu pikir aku bisa dibodohi?” katanya. “Kita kenal nggak satu-dua bulan, walaupun aku nggak bener-bener tahu dalamnya isi hatimu, tapi aku cukup mengenal bagaimana kamu.”


Safira tersentuh, pada setiap kata-kata dan tindakan Ranee yang tak pernah berubah, ia merasakan ketulusan. Dan seperti waktu yang telah berlalu saat hidupnya penuh lika-liku, ia kembali menjadi Safira rapuh di hadapan Ranee. Dia menumpahkan segala risau yang menggerogoti ketenangan hati.


Kalimat demi kalimat terlontar dari bibir Safira, mewakili isi hati yang tak tenang dengan gosip yang beredar, juga kenyataan bahwa Ashqar dan Nita pernah bersama, belum lagi kekhawatirannya terhadap Zain jika sampai mengetahui bahwa ia bukanlah ibu kandung anak itu.


Prasangka Safira yang menumpuk akhirnya tumpah. Meski ia sudah berbicara jujur pada Ashqar, tapi ada beberapa hal yang tak bisa ia ungkapkan dengan gamblang dan mungkin saja suaminya tidak benar-benar bisa mengerti. Lalu ditengah ucapannya, Safira mendapatkan cubitan keras di lengan hingga membuat wanita itu mengaduh.


“Udah sadar belum?” tanya Ranee sinis.


Safira berkedip, tangannya sibuk mengusap lengan. Dengan wajah kebingungan dan sisa kesedihan, ia bertanya, “Sadar apanya sih, Mbak? Kenapa juga nyubit kenceng banget?”


Omelan Ranee rupanya masih berusaha dicerna Safira, membuat ia frustasi sendiri dengan kelakuan iparnya. Setelah menceritakan uneg-uneg tentang masalah yang sedang dihadapinya, Safira mengatakan tak suka jika berada di dekat anak itu. Karena setiap kali Safira menatap wajah Zain, ia akan mengingat bahwa Zain bukan anaknya dan ibu kandung anak itulah yang saat ini sedang dikabarkan akan rujuk dengan suaminya.


Ranee bukan tidak bisa memahami, tapi terkadang—sebenarnya sering, Safira terlalu overthinking hingga membuat hidupnya susah sendiri. Lagi pula, bagaimana bisa sahabatnya ini merasakan dua hal berbeda pada satu orang yang sama?


“Kamu bilang, kamu takut kalau Zain sampai tahu jika kamu bukan ibu kandungnya. Tapi disisi lain kamu nggak suka dekat dengan anak itu. Apa kamu benci sama Zain?”


Mendengar hal itu membuat Safira terkejut. Manik matanya membola dan menatap Ranee tak percaya. “A-aku nggak benci Zain, Mbak. Itu nggak mungkin.”

__ADS_1


.


.


.


✄................................................


Maaf ya kemaren nggak bisa update. Ide stuck, kl kata kerennya sih writer block 😂


Aku tipe yang nggak multitasking disaat 2 kerjaan sama-sama menyita pikiran, jadi maafkan kl beberapa minggu kedepan kalian bakal dapet notif update Gaung Rasa dijam/hari yang nggak tentu 🤧


Tapi btw, ada juga yang tipe kayak aku nggak ya? yang nggak multitasking 😢


Atau ada yang pernah punya pengalaman kayak Safira, padahal lagi diem, lagi baik-baik aja atau malah lagi ketawa tapi tiba-tiba air mata netes? Itu tandanya kita lagi stress berat. Enaknya nagis sampe lega atau sebaiknya dateng ke ahlinya ya (. ❛ ᴗ ❛.)


Ok, makasih udah baca + sama notenya 😘


Sehat selalu buat saudara jauh keluarga cemara~

__ADS_1


__ADS_2