Gaung Rasa

Gaung Rasa
Dampak


__ADS_3

Safira merasakan tengkuknya meremang. Dia sangat tahu kemana arah pertanyaan itu. Orang-orang yang mengenal keluarga kecilnya cepat atau lambat akan bertanya, bagi yang masih memiliki rasa sungkan mungkin hanya akan membicarakan hal ini dengan orang lain sebagai bahan gunjingan. Dia sangat tidak ingin Zain menjadi konsumsi publik, tetapi mustahil baginya mencegah hal yang sudah terjadi.


Dan keadaan seperti ini—seperti yang sudah Ashqar dan Rafa duga, tidaklah mudah bagi Safira untuk dihadapi. Seketika perasaan takut dan gugup menyerang Safira saat wali murid itu mengulang pertanyaan yang sama.


“Maaf, saya nggak bersedia menjawab pertanyaan Bu Eva,” katanya, dengan nada halus.


Safira sungguh merasa lega dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan, setidaknya dia tidak kabur begitu saja. Akan tetapi, respon ibu tiga anak di hadapannya membuat Safira jengkel.


“Oh. Jadi bener ya, kalau Zain itu bukan anak situ?” Eva melipat tangan di dada dan menatap sinis Safira. “Jangan-jangan Zain sengaja dipisahin dari ibu kandungnya, ya? Ih! Nggak nyangka loh, padahal kamu kelihatan ba—”


“Hati-hati kalau bicara,” desis Safira penuh peringatan. Dia mencondongkan wajah ke depan wajah Eva lalu segera merubah mimik wajahnya, satu senyuman mengejek tersinggung di wajah Safira. “Saya juga nggak nyangka kalau Bu Eva ternyata persis seperti yang selama ini saya dengar dari ibu-ibu lain.”


Setelah mengatakan itu, Safira berlalu begitu saja masuk ke dalam area sekolah. Dia sudah sering mendengar tentang bagaimana perangai Eva dari ibu-ibu wali murid yang lain, beberapa diantara mereka menaruh ketidaksukaan yang jelas pada wanita tiga anak itu. Bahkan beberapa kali ia sempat ikut ambil bagian sebagai pendengar dari Eva saat membicarakan wali murid lain.


Safira hanya tidak percaya jika kali ini ia akan menjadi bahan lainnya dari pergibahan duniawi itu. Dan tanpa Safira sadari, dua orang laki-laki berperawakan kekar mengawasi dari jauh dan hampir menghampiri Safira sesaat lalu.


Meninggalkan Eva yang masih mematung dan dua pengawal Edi yang mengawasi dari luar sekolah, Safira sudah berada di dalam halaman TK Cendana dan tengah kebingungan mencari keberadaan Zain. Biasanya jika ia terlambat menjemput, Zain akan menunggu di tempat bermain, sambil bermain ayunan atau bermain prosotan. Namun, ia tak bisa menemukan anak itu ditempat biasanya.


Belum juga Safira melangkah lebih jauh, sebuah suara memanggil namanya. Begitu ia berbalik seorang perempuan berkerudung coklat tengah melambaikan tangan kearahnya dari depan ruang guru.


“Bu Fira, cari Zain ya?”


“Iya, Bu Nina. Zain dimana, ya?” ucap Safira, mulai merasa panik.


“Zain di dalam ruangan, Bu. Mari.”

__ADS_1


Safira berkedip. Kepanikannya langsung sirna saat melihat Zain sedang duduk di sofa bersebelahan dengan wanita setengah baya yang merupakan kepala sekolah.


“Zain,” panggil Safira.


Zain mengangkat wajah. “Mamah.”


“Zain! Kamu kenapa, Sayang?” Safira bergegas menghampiri dan langsung menarik Zain kedalam pelukan begitu menempatkan diri di samping putranya. “Bu, ada apa ini?”


Kepala sekolah dan guru yang membawanya masuk saling bertukar pandang. “Begini, Ibu Safira. Saya tahu yang akan saya sampaikan ini sebenarnya merupakan ranah pribadi dan nggak ada hubungannya dengan kami.”


Safira memperhatikan dengan asumsi yang sudah bertengger manis dibenaknya.


“Berita mengenai Zain yang muncul pagi tadi sepertinya berdampak cukup serius. Kami sendiri mengetahuinya baru saja saat ibu-ibu mengerumuni Zain.”


“Mengerumuni?” beo Safira.


Saat guru Zain tak bisa melanjutkan kalimatnya, Safira menyela. “Maksudnya gosip? Orang tua murid mengerumuni anak saya hanya untuk mencari tahu kebenaran gosip itu?” kata Safira, tanpa sadar ia menaikan nada suaranya.


“Mungkin, Bu Safira,” jawab kepala sekolah. “Sebagai kepala sekolah, saya meminta maaf untuk kejadian tersebut dan kurang tanggapnya pihak sekolah. Kami tidak menyalahkan dan tidak ingin ikut campur dengan apa yang sedang keluarga ibu hadapi, tapi kalau boleh memberi saran sebaiknya Zain tetap ditemani dulu saat sekolah.”


Safira melirik Zain yang masih menyembunyikan wajah di dadanya. Lalu ia menyadari jika tubuh putranya sedikit bergetar, Zain tidak baik-baik saja.


Safira menarik napas dalam. Tak bisa dipungkiri jika dalam situasi ini ia sangat membutuhkan Ashqar, tetapi keadaan tak berpihak padanya. Maka dalam keterbatasannya, Safira berusaha bersikap sebaik mungkin dengan mengutamakan kewarasan logika.


“Terimakasih buat sarannya, Bu. Saya juga minta maaf udah menyebabkan keributan di sekolah. Saya akan bicarakan hal ini dengan papahnya Zain lebih dulu dan memutuskan baiknya seperti apa, karena biar bagaimanapun saya takut kalau hal ini berpengaruh bukan cuma buat Zain tapi anak-anak lainnya.”

__ADS_1


“Baik, Bu. Kabari saya atau Bu Nina kalau anda dan suami sudah membuat keputusan.”


“Iya. Saya pamit kalau begitu, Bu. Permisi.”


Safira menyelipkan kedua tangannya di antara ketiak Zain. Namun, dengan cepat anak itu menjauhkan diri dari mamahnya.


“Kenapa, Sayang?”


Zain menggeleng. “Zain mau jalan sendiri aja.”


Safira jelas kebingungan dengan penolakan Zain terhadapnya. “Nggak apa-apa, Mas Zain. Udah nggak ada temen-temen Mas Zain, kok. Jadi nggak usah malu.”


Lagi-lagi Zain menggeleng. “Bukan, Mah. Tapi Zain takut adek bayi sakit.”


.


.


.


✄................................................


Kemaren nggak jadi update gegara aku galau sama chapter ini, panjang gaes 🤣


Mau disatuin tapi aku pelit, jadi bikin 2 aja sekalian wkwkwkk

__ADS_1


Bye~


Next chapter jam 3 sore 😘


__ADS_2