
Setelah pengakuan Safira tentang kenangan masa kecilnya, baik Edi, Rafa maupun Ashqar tak lagi mengungkit hal itu. Mereka sepakat untuk tak menanyakan itu pada Safira atau memancing obrolan kearahnya. Hingga disuatu sore tanpa sengaja Ashqar mendengarkan perbincangan Edi dan Rafa di teras belakang.
Sebenarnya Ashqar tak berniat menguping pembicaraan itu, tapi ketika nama Safira disebut-sebut dalam obrolan mereka, Ashqar berubah pikiran. Dengan cepat Ashqar bersembunyi di balik tembok, memasang telinga sekaligus mengawasi keadaan kalau kalau ada yang datang.
“Safira berhak tahu siapa sebenarnya Hendra. Kita nggak bisa menyembunyikan hal ini selamanya, pak.”
Jantung Ashqar seperti jatuh ke dasar perut mendengar ucapan Rafa. Dia tidak mengerti atas dasar apa kakak laki-laki istrinya itu sampai berpikir demikian. Ashqar jelas tidak setuju.
“Kamu udah gila?” murka Edi. “Bapak masih bisa mentoleransi tindakan kamu sebelumnya saat membawa Teguh dari tempat bapak tanpa izin.”
“Bapak tahu alasannya,” sergah Rafa. “Aku nggak mau sampai bapak yang malah mendekam di penjara karena kasus kekerasan.”
Ashqar bisa mendengar Edi berdecih keras lalu memaki Rafa dalam bahasa jawa, dan baginya ini adalah yang pertama kali. Ashqar tahu bagaimana tak senangnya Edi saat Rafa mengatakan padanya sudah membawa Teguh ke tempat yang aman. Saat itu ia tak banyak bertanya dan tak ingin ambil pusing karena perhatiannya hanya tertuju kepada Safira.
__ADS_1
“Kalau sampai hal itu terjadi bagaimana kita menjelaskan kepada Safira?” lanjut Rafa. “Tapi kali ini beda. Safira sendiri yang cerita tentang kejadian itu jadi lebih baik kita mengatakan yang sebenarnya daripada dia tahu sendiri dan ....”
“Nggak! Jangan coba-coba, Rafa. Kalau kamu bilang semuanya sama Safira, dia bisa gila. Apa kamu mau lihat adikmu masuk rumah sakit jiwa sekali lagi?”
Seperti tersambar petir di siang bolong, Ashqar tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Dia dengan hati-hati mengintip dan tanpa sadar menahan napas. Dari tempatnya, Ashqar bisa melihat bagaimana wajah mertuanya merah padam karena amarah. Edi bahkan mencengkram kerah kaos Rafa.
“Nggak bisa jawab ‘kan kamu?” Edi mendorong Rafa lalu duduk di kursi rotan. “Jangan lupa, Rafa. Teguh-lah yang sudah membunuh ibumu, membuat adikmu depresi berat dan membuat keluarga kita terpisah. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak boleh ada dihidup kita, apalagi Safira.”
“Bagaimana dengan Eyang Prapti?” tanya Rafa dingin. “Apa bapak pikir Pakde Teguh satu-satunya orang yang bersalah?”
“Andai saja bukan Pakde Teguh yang melakukannya, udah pasti Eyang Prapti yang akan melenyapkan ibu.”
“Rafa!”
__ADS_1
Ashqar berjengit dan refleks bersembunyi kembali di balik dinding. Entah kenapa tiba-tiba suhu udara meningkat, pelipisnya sudah dibanjiri keringat yang turun hingga ke leher. Namun, dia bisa merasakan telapak tangannya sedingin memegang kantong es.
Kemudian tak berapa lama Ashqar mendengar suara tawa. Itu milik Rafa dan terdengar menyebalkan. Jadi didorong rasa penasaran, Ashqar kembali mengintip setelah sebelumnya memastikan keadaan. Dia bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Rafa begitu menyeramkan, sulit ditebak meski ia tertawa. Akan tetapi itu jelas bukan kebahagian.
“Bapak jangan lupa apa yang udah eyang lakukan terhadap Safira dibelakang kita. Dia mungkin punya masa lalu yang buruk karena memilih laki-laki miskin yang nggak bertanggungjawab. Dia boleh jadi merasa terpukul karena Om Eko mengambil jalan seperti dia yang memilih perempuan biasa. Om Eko?” Rafa mendengus, menarik satu ujung bibirnya. “Dia juga bersalah. Dia-lah orang yang membuat ibu mati. Karena keegoisan manusia satu itu yang mau menyelamatkan istrinya dengan mengatakan bahwa dia mencintai ibu dan mau menikahinya sebagai ganti karena mau kembali ke rumah. Dia adalah sumber dari semua kesialan yang menimpa kita.”
Luar biasa. Luar biasa menakutkan. Ashqar bisa merasakan rambut-rambut halus disekitar tengkuknya berdiri mendengar bagaimana Rafa berbicara dengan suara yang sangat dingin. Meski begitu, ia juga bisa merasakan amarah yang sangat besar dari setiap kalimat yang Rafa ucapkan.
Ashqar termenung, mengabaikan pasangan ayah dan anak yang masih berdebat disana. Jauh didalam hatinya, sejak pertama kali mengetahui kebenaran tentang Teguh atau Hendra, Ashqar pun merasa bahwa dalam masalah ini yang bersalah bukan hanya satu orang dan ia yakin bahwa Edi sebenarnya menyadari hal itu. Meskipun begitu, mertuanya itu tetap berada disisi Prapti karena alasan yang Ashqar yakini adalah bagi Edi, Eyang Prapti adalah orang tuanya. Mertuanya memiliki kasih sayang dan hutang budi seorang anak kepada Prapti yang sudah membesarkan dan mendidiknya.
.
.
__ADS_1
.
✄................................................