Gaung Rasa

Gaung Rasa
Harus Diselesaikan


__ADS_3

Sebelumnya :


“Iya, tapi itu gara-gara Aldi ngejek Zain. Alvin ‘kan, cuma membela diri.”


Ashqar menghela napas dalam. Memang bukan hal mudah untuk menjelaskan perkara memaafkan dan meminta maaf. Hal yang sering dianggap sepele, tapi bisa begitu fatal untuk masa depan seorang anak dalam pembentukan karakternya. Dan Ashqar tidak ingin anak-anaknya menjadi anak yang pendedam hingga bisa berakibat buruk dimasa depan.


Banyak kasus dimana remaja-remaja, bahkan beberapa kasus melibatkan orang dewasa, yang pada akhirnya harus terjerat hukum hanya karena sakit hati dan dendam yang berujuk tindak kriminal. Sangat menakutkan bagi Ashqar jika membayangkan anak-anaknya kelak menjadi pribadi yang dibenci masyarakat.


Maka tanggungjawabnya sebagai orang tua untuk membentuk karakter dan membimbing Alvin menjadi anak dengan budi pekerti dan karakter yang baik. Meski harus diakui jika menjadi orang tua adalah tugas terberat dalam hidupnya. Namun, tentu saja itu bukan hal yang tak mungkin.


✿✿✿


“Aldi memang salah, tapi Mas Alvin juga sama salahnya.” Ashqar menepuk pundak Alvin. “Nak, saat teman kamu mengganggu kamu, berbuat jahil atau berbicara yang nggak enak, jangan pernah kamu balas dengan kekerasan fisik. Mas Alvin bisa bilang sama orang itu buat nggak ganggu atau pergi aja, nggak usah ditanggepin.”


Alvin masih tampak tak setuju. “Kalau Alvin udah bilang, udah nggak nanggepin, tapi malah dipukul. Gimana, pah?”


“Alvin minta tolong sama ibu bapak guru, laporin anak yang udah mukul Mas Alvin.”


“Nanti Alvin dikatain tukang ngadu.”

__ADS_1


Ashqar kembali mengacak surai Alvin hingga membuat anak itu mengaduh. “Sejak kapan anak papah jadi penakut?”


“Bukan,” sergah Alvin, menampik tangan Ashqar dengan kesal. “Tapi Alvin nggak mau dikatain tukang ngadu terus jadi bahan ejekan.”


Ashqar berdebat dalam hati apa yang harus dikatakannya. Dia tidak bisa menanggapi ucapan Alvin secara asal-asalan.


“Terus kalau yang kayak kemarin terjadi lagi, Mas Alvin mau bales pake cara yang sama? Pake kekerasan?” tanya Ashqar, memberi pancingan. Alvin tampak kembali termenung dan Ashqar memanfaatkannya dengan baik. “Mas Alvin nggak malu papah sama mamah dipanggil bu guru ke sekolah dan lihat anaknya sendiri dihukum?”


Alvin menatap wajah Ashqar lama lalu berkata, “Papah malu dipanggil bu guru ke sekolah?” cicitnya.


Ashqar mengangguk. “Papah sama mamah malu kalau anak papah sampai dihukum karena berkelai atau melanggar peraturan sekolah.” Ashqar melirik jam tangannya. “Mas Alvin salah atau benar, tapi kalau sempai berkelahi dan dihukum artinya salah. Kemarin papah sama mamahnya Aldi udah menyelesaikan masalah ini dan papah nggak mau hal seperti ini terjadi lagi. Mas Alvin harus ngerti kalau tugas kamu itu hanya belajar yang baik di sekolah. Paham?”


“Iya, pah.”


Setelah perdebatan alot―dari orang tua Aldi, akhirnya mereka bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan layaknya orang tua. Alvin dan Aldi pun sebenarnya sudah saling berjabat tangan, tapi Ashqar tahu bahwa putranya itu masih memendam kekesalan. Terlihat jelas dari sorot matanya.


Namun, Ashqar tak memiliki kesempatan untuk membahas hal ini dengan Alvin saat di rumah. Pertama, Zain selalu menempel pada Alvin untuk bermain. Kedua, Safira juga terus bersama Harti hingga membuatnya tak memiliki kesempatan untuk berdiskusi, tentu dengan mengenyampingkan kekesalan istrinya karena komentar-komentar genit netizen. Ketiga, Ashqar tidak ingin memberikan beban lain untuk Harti yang terus-terusan kepikiran dengan permasalahan yang sedang menimpa keluarga kecilnya.


“Papah sama mamah nggak menghukum Mas Alvin kali ini karena Mas Alvin udah dapet hukuman dari sekolah, tapi papah minta Mas Alvin baikan sama Aldi. Bisa?”

__ADS_1


Alvin melirik Ashqar takut-takut. “Bisa,” cicitnya. “Alvin minta maaf ya, pah.”


“Iya. Jangan diulangin lagi, ya?” Ashqar diam-diam mengulum senyum. Dia tidak tahan dengan ekspresi bersalah Alvin yang terlihat lucu, tapi tak mungkin ia menurunkan tensi disaat-saat terakhir kecuali sedikit melunak. “Sekarang Mas Alvin bisa masuk.”


Alvin mengangguk. Kemudian ia mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Ashqar dan pamit. Setelahnya Alvin pamit dan berjalan memasuki sekolah.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Agak nyampah dikit ya, gaes..


Sengaja aku kasih sedikit bagian dari chapter sebelumnya supaya agak gampang inget cerita kemarin 😌 (*alasan 🤣)

__ADS_1


Sebenernya aku nulis panjang banget buat 1 chapter yang biasa dibagi dua, tapi karena udah terlanjur up sebelumnya jadi harus dibagi tiga *mode rajin


Jadi hari ini bakal up 2 chapter, tolong ditunggu~


__ADS_2