Gaung Rasa

Gaung Rasa
Rem Mendadak


__ADS_3

Ashqar itu orang yang irit bicara. Saking iritnya kadang-kadang saat memesan makanan pria itu hanya menunjuk nama makanan atau minuman di buku menu. Seperti pribahasa; diam itu emas, tapi kali ini pribahasa itu lenyap dari citra seorang Ashqar baswara.


Pria tiga anak―menuju empat, itu sudah mengomel selama lebih dari sepuluh menit tentang bagaimana kelakuan Safira tadi di sepanjang perjalanan mereka menuju rumah. Ya, bukan Alvin melainkan Safira.


Ashqar tak habis pikir bagaimana Safira bisa kehilangan kesabaran dihadapan putra mereka sendiri dan dua guru Alvin. Hal itu semata-mata karena mereka berdua sudah sepakat tentang bagaimana menghadapi omongan miring orang-orang dan bagaimana harus bersikap dihadapan orang lain demi anak-anak keduanya. Namun, ternyata Safira kehilangan kesabaran seperti itu.


“Iya. Iya. Aku minta maaf, oke?” sahut Safira jengah. Telinganya sudah berdenging meminta dijauhkan dari sumber suara yang memekakkan. “Berhenti ngomel dong, pah. Kasihan tuh Alvin, kupingnya pasti panas.”


Ashqar melirik tajam. Untung saja saat ini tangannya sibuk dengan setir kalau tidak sudah pasti ia akan menjewer telinga Safira. “Kuping Alvin apa kupingmu?”


Safira tersenyum hingga gusinya terlihat dan matanya menyipit. Dia menoleh ke belakang, “Alvin kupingnya panas, ‘kan?”


Serangan mendadak. Alvin termenung, menatap wajah Safira lekat. Anak itu sebenarnya paham dengan kode yang ibunya itu coba lemparkan, tapi disisi lain ada Ashqar yang akan menghukumnya dua kali lipat jika membantu Safira. Ah! Dia benci situasi seperti ini, membuatnya dilema.


“Iya ‘kan, Alvin?” ulang Safira, memberi tekanan lain.


“Sedikit,” jawab Alvin sekenanya sambil memalingkan wajah.


“Tuh!”


“Apa?” potong Ashqar dengan suara rendah. “Jangan kebiasaan jadiin anaknya alesan, Mamah Safira.”


Safira manyun, tapi wanita itu tak bisa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


“Mas Alvin juga,” lanjut Ashqar. “Ini kedua kalinya kamu bertengkar di sekolah. Bukannya mamah sama papah udah ngingetin buat nggak berantem sama mukul temen? Kenapa diulangi?”


Alvin menunduk. “Maaf, pah.”


“Anak yang kamu pukul sebelumnya sama dengan anak yang kamu pukul hari ini?”


“Alvin nggak mukul, pah.” Alvin langsung mengangkat wajah, tapi sedetik kemudian wajahnya tertunduk kembali. “Waktu itu mamah bilang kalau aku nggak boleh mukul orang apapun alesannya meskipun aku marah.”


“Terus kenapa pipi Aldi merah?” tanya Safira. Wanita itu sebenarnya juga kepikiran tentang hal ini. Safira sangat yakin jika Alvin adalah pendengar yang baik.


“Nggak sengaja ketabok buku cetak, mah. Alvin dorong aja, tapi nggak kenceng. Cuma Aldi nggak bilang sama bu guru jadi dikiranya Alvin yang mukul.”


“Terus Mas Alvin diem aja dituduh mukul orang? Nggak bela diri?”


Alvin mengangguk. “Habisnya aku nggak ditanyain.”


Safira bisa saja gemas dengan ketidak pedulian Alvin dalam membela diri, tapi lain hal dengan Ashqar. Dia memandang ini dari sisi pandang yang lain.


“Si Aldi emang bilang apa sampe didorong?” Ashqar melirik anaknya dari spion tengah. “Coba bilang jujur sama papah-mamah.”


Akan tetapi, Alvin lebih memilih menghindari tatapan mata Ashqar. Ashqar sendiri tahu jika pertengkaran anaknya kemungkinan besar dipicu oleh berita di televisi, lagi. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, meski pihak sekolah baik Alvin atau Zain sudah sangat terbuka dan kooperatif untuk membantu menjaga lingkungan agar tetap kondusif.


Bukan hanya untuk Alvin dan Zain, tapi juga siswa-siswa yang lain. Namun, sepertinya memang bukan hal mudah untuk mengatur mulut orang lain terlebih anak-anak yang masih polos dan ingin banyak tahu.

__ADS_1


“Ini soal gosip lagi, ya?” Ashqar melembutkan nada bicaranya. Dan saat Alvin bergumam membenarkan, ia berkata, “Aldi bilang apa? Tanya-tanya lagi?”


Alvin menggeleng. “Aldi bilang kalau ... kalau ....” Dia terlihat tak yakin, beberapa kali mulutnya terbuka dan tertutup.


Sampai Safira harus meyakinkan anak itu untuk bicara pelan-pelan, karena akan lebih baik jika mereka membahasnya sekarang.


Kemudian Alvin bercerita bahwa Aldi mengatakan kepada teman-temannya yang lain jika Zain dan Alvin bukan saudara, Zain sebenarnya anak terlantar. Mendengar hal itu Ashqar tanpa sadar menginjak pedal rem hingga membuat ban berdecit keras di aspal.


Suara klakson yang meraung dari belakang membuat Ashqar tersadar dan langsung menepikan mobil. Pria itu segera memeriksa Alvin, bertanya apakah anak itu baik-baik saja.


“Alvin nggak apa-apa, pah. Tapi mamah ....” Alvin menggantungkan ucapannya sambil menatap Safira.


Ashqar menoleh pada Safira dan terkejut ketika istrinya tampak begitu kaget. Dengan sigap ia menggenggam kedua tangan Safira, meremasnya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain membelai wajah Safira yang pucat.


“Sayang, kamu baik-baik aja? Aku minta maaf,” kata Ashqar, mengeratkan genggamannya begitu menyadari tangan istrinya begitu dingin.


Safira menggeleng dan memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, mas.” Itu jelas kebohongan. Faktanya, jantung Safira seperti melompat keluar. “Kita bahas di rumah aja, ya? Ternyata emang nggak baik bicara sambil nyetir apalagi bahas hal penting,” lanjut Safira, lemas.


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Bersambung, lagi...


__ADS_2