
“Yey! Zain yang menang!”
Safira refleks menoleh ke arah ruang keluarga saat seruan nyaring terdengar bersamaan dengan suara benda terjatuh. “Mas Zain?” panggil Safira penuh peringatan.
“Zain loncat dari kursi, tante.”
“Zain lompat, tante.”
Si kembar Ratih dan Ratri menyahut bersamaan, membuat Safira mau tak mau beranjak dari ruang tamu untuk melihat keadaan anak dan keponakannya yang sedang bermain. Omelan Safira langsung terarah pada Zain saat wanita itu melihat putranya sudah berdiri di atas kursi. Sementara itu, Ashqar dan Rahma terlibat kebisuan canggung di ruang tamu.
“Mbak ada angin apa kesini?” tanya Ashqar, memecah keheningan.
Rahma melirik adiknya sinis. “Angin ribut. Kenapa emangnya? Sekarang mbak dilarang main kesini?”
Ashqar tanpa sadar berdecak. Pertanyaannya hanya membutuhkan jawaban sinkat, tapi Rahma justru melemparkan pertanyaan lain sebagai jawaban. Dasar, perempuan.
Namun, alih-alih menanggapi Rahma, Ashqar justru kembali membisu. Dia menyilangkan kaki, menyesap kopi susu buatan Safira sambil membuang wajah pada arah istrinya berada.
“Bukannya dijawab malah melengos lagi.”
Rahma melemparkan satu bungkus tisu lima puluh lembar tapat ke wajah Ashqar. Untung saja Ashqar menjauhkan cangkir diwaktu yang tepat, kalau tidak maka sudah pasti wajahnya sudah melepuh.
“Mbak!” seru Ashqar tertahan. Dia segera menaruh kembali cangkir ke atas meja dan mengambil tisu yang Rahma lemparkan. “Bahaya tahu.”
Rahma meringis. “Maaf. Nggak sengaja,” katanya, merasa bersalah. “Habis mbak tuh, masih dongkol sama kamu. Bisa-bisanya kamu setuju sama ide Rafa buat ketemu sama Nita.”
__ADS_1
Ashqar menyisir rambut hitamnya yang mulai panjang lalu menatap Rahma lelah. Berkat tangan takdir Tuhan, masalah yang ingin ia simpan berdua hanya dengan Safira akhirnya sampai juga ditelinga Rahma. Bukan dari orang lain, tapi justru dari istrinya sendiri.
Beberapa jam lalu, tepat saat Ashqar dalam perjalanan untuk menjemput Alvin di sekolah, Rafa menghubunginya dan meminta untuk bertemu. Jadi setelah ia menjemput Alvin, ditemani Zain yang memaksa ikut, Ashqar bertemu Rafa di salah satu restoran.
Ashqar tak memiliki firasat apapun saat Rafa meminta untuk bertemu. Dia menduga jika iparnya itu hanya sedang ingin melepas rindu dengan Alvin dan Zain. Namun, saat Rafa mengatakan tujuan pertemuan mereka, Ashqar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Rafa ingin mempertemukan Nita dengan ia dan Safira, tentu juga bersama dengan anak-anak mereka.
“Aku nggak tahu apa tujuan kamu sebenernya, Fa. Tapi aku harus diskusiin ini sama Safira.”
“Safira pasti setuju,” jawab Rafa yakin.
Ashqar menghela napas dalam dan menghembuskannya kasar, lalu ia menoleh pada Alvin dan Zain yang sedang menikmati cemilan mereka di meja lain.
“Aku nggak yakin. Beberapa hari lalu aku dan Safira menjelaskan tentang Nita ke Zain dan hasilnya nggak bagus sama sekali. Anak itu menolak Nita.” Ashqar menatap Rafa serius. “Jadi ide kamu itu bakal sulit buat direalisasikan.”
“Tapi ini penting buat kalian juga. Nita harus ketemu kalian dan membuat publisitas baik untuk yang terakhir kalinya.”
Kejutan lainnya untuk Ashqar. Untuk beberapa detik, ia bahkan tak bisa merespon ucapan Rafa. Iparnya itu selalu penuh rahasia.
“Terakhir kalinya? Dia ... berhenti jadi aktris?”
“Iya, dia berhenti jadi aktris di Indonesia. Nita mendapatkan tawaran casting dari perusahaan film di Inggris.”
“Itu cuma casting, ‘kan?” kata Ashqar, tampak bingung. “Maksudnya dia berhenti ... apa nggak ada tawaran lagi dari sini?”
__ADS_1
Rafa memutar bola mata. “Bukan sekedar cuma, Kar. Nita dapet tawaran casting buat film adaptasi salah satu novel dari J.K Rowling dan aku yakin kamu tahu seberapa besar kesempatan ini.”
Waw! Itu sudah pasti bukan tawaran biasa.
“Kalau itu alasannya, terus apa hubungannya dengan kami?” tanya Ashqar curiga.
“Jelas ada, dong.” Rafa menyamankan punggung di kepala kursi, melipat kaki dan terlihat sangat santai. “Setelah masalah kemarin, penting buat kalian bertiga untuk memberikan publisitas pada publik tentang keadaan yang sebenarnya.”
Ashqar terdiam, terlihat berpikir. Mendengar penjelasan Rafa justru membuatnya merasa bahwa tak ada alasan kuat untuk Nita dan keluarganya bertemu saat ini, tidak saat situasi sudah mulai tenang. Lagi pula, Ashqar merasa ada sesuatu yang janggal dengan alasan yang Rafa berikan.
“Yang bicara barusan itu Rafa sebagai kakaknya Safira atau Rafa sebagai pemilik perusahaan?”
Rafa nampak terkejut dengan pertanyaan tajam yang Ashqar lontarkan. Dia sungguh tak menduga Ashqar akan memiliki pikiran seperti itu. Namun, alih-alih menjadi bingung dan gagap, Rafa memberikan respon santai lengkap dengan senyum tipisnya.
Sayangnya, meski Rafa terdengar meyakinkan dengan berbagai kalimat pendukung yang ia lontarkan. Ashqar masih merasa skeptis.
“Aku hargai niat baik kamu, meski jujur aja aku juga ragu dengan apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan. Tapi tetap, untuk masalah ini aku harus berdiskusi dengan Safira.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Bersambung~