
“Udah pasti, Bu. Soalnya yang bakal berjuang di dalam sana itu istriku sendiri.” Ashqar menaikan wajah, menatap pintu ruang persalinan di depannya dengan perasaan campur aduk. “Bahkan dulu waktu Mbak Rahma melahirkan, aku juga tegang. Apalagi kali ini.”
“Kadang ibu suka lupa kalau kamu bukan anak-anak lagi.” Harti mengikuti arah pandang Ashqar. “Dulu saat Zain lahir, di mata ibu, kamu nggak lebih dari remaja yang belum matang dan nggak siap menerima tanggung jawab besar. Ibu merasa bersalah karena saat itu ibu nggak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu.”
Tarikan napas Ashqar terdengar berat. Sambil menghembuskannya perlahan, dia mengangkat wajah, menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih dengan lampu neon panjang lebih dari satu. Mungkin cukup untuk menerangi satu rumah yang sedang menggelar acara pernikahan.
“Sekarang setelah jadi orang tua dan punya hubungan yang harmonis dengan Safira, aku jadi sedikit mengerti perasaan kalian. Saat itu pasti nggak mudah buat Bapak dan Ibu menerima kesalahanku yang besar, tapi mendapatkan Zain sebagai anakku adalah sebuah kebahagian.”
Perasaan bersalah itu selalu menjadi teman setia Ashqar. Jauh di dalam lubuh hatinya, dia berharap bisa memutar kembali waktu dan menghindar dari perbuatan yang telah membuat orang tuanya kecewa. Namun kini, keinginan itu sudah lama hilang darinya.
Ashqar tidak tahu pasti, tapi sepertinya sejak ia menikah dengan Safira dan jatuh dalam pesona istrinya, Ashqar tidak lagi hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Bukan masa lalu yang membuatnya belajar, tapi masa kini, dengan bertemu orang yang tepat, yang menjadikan Ashqar semakin dewasa.
“Tapi sekarang ibu sangat bangga.” Harti menoleh tepat ketika Ashqar juga melakukan hal yang sama. “Kamu jauh lebih dewasa dan bertanggung jawab. Kalau Bapakmu masih ada, dia juga akan sama bangganya seperti ibu,” ucap Harti, bersamaan dengan nama Ashqar yang dipanggil.
Sontak keduanya menoleh pada seorang perawat yang beridir di depan pintu persalinan dan dengan segera Ashqar menghampirinya.
__ADS_1
“Ada apa suster?”
“Bapak bisa ke ruang ganti sekarang untuk ganti pakaian lalu setelahnya bisa menemani Ibu Safira di dalam,” ucap perawat tersebut kemudian berjalan mendahului Ashqar.
Ashqar menoleh sebentar ke arah Harti sebelum mengekor perawat itu. Bismillah, begitu yang Ashqar dari gerak bibir ibunya.
Dia menyadari datak jantungnya yang semakin menggila setelah selesai berganti pakaian dan perawat memintanya untuk ikut masuk ke dalam ruang persalinan. Ini yang Ashqar khawatirkan sejak tadi. Menyaksikan sendiri bagaimana Safira berjuang antara hidup dan mati sementara dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu istrinya membuat Ashqar merasa frustasi.
Menemani istri lahiran memang bukan hal pertama baginya, tapi menyaksikan langsung proses kelahiran itu sendiri secara normal adalah kali pertama untuk Ashqar. Dulu Zain lahir diusia prematur dan Nita terlalu takut untuk melahirkan normal, sementara Ashqar pun amatir menghadapi situasi saat itu. Meski nyatanya sekarang juga demikian.
Ashqar meraih tangan Safira yang terulur ke arahnya, begitu ringkih dengan jarum infuse yang tertanam di telapak tangan dan terasa dingin saat Ashqar menggenggamnya.
“Baik-baik aja. Mas tolong temenin aku, ya?”
Panas menyengat mata, sementara kelu menyerang di seluruh otot wajah Ashqar. Penampilan Safira yang terlihat begitu tenang meski peluh terus bercucuran dan sesekali memejamkan mata menampar Ashqar dengan tepat.
__ADS_1
Memaksa melawan ketidak berdayaan, Ashqar memaksa suaranya terdengar tenang. “Iya, aku temani. Yang kuat, ya?”
Ashqar tidak yakin apakah kata-kata itu adalah ucapan yang tepat. Namun, begitu dokter mengatakan bahwa pembukaan Safira sudah lengkap dan mereka bisa langsung mulai persalinan, saat itu juga tak ada yang bisa Ashqar lakukan selain terus berada di sisi istrinya dan memberikannya semangat.
.
.
.
✄................................................
Aku nggak yakin apa ini udah cukup bisa menggambarkan sedikit dari prosesnya 👉🏻👈🏻
Mohon maafkan aku yang awam dan masih harus belajar merangkai kata. Tapi yang jelas nungguin orang lahiran tuh nggak bisa dijelasin gimana tegangnya, padahal nunggunya juga diluar. Tapi pas denger suara bayi nangis euforianya ngalahin gol dari tim sepak bola kesayangan 🤣
__ADS_1
Mungkin yang udah berpengalaman, yang udah punya buntut bisa sedikit kasih tau di kolom komentar. Itung-itung nambah referensi nulis 😅