Gaung Rasa

Gaung Rasa
Tiba-Tiba Jadi Pendiam


__ADS_3

Sejak mobil mereka meninggalkan kawasan Bandara Adi Sumarmo, setelah sebelumnya mampir sebentar di SPBU, Ashqar dan Rafa yang duduk di bagian tengah tak henti-hentinya saling bertukar lirikan. Mereka yakin sesaat sebelum take-off tak ada masalah yang terjadi atau saat mereka menghampiri mobil yang terparkir di antara mobil-mobil yang lain, Zain dan Alvin bahkan tampak sumringah menyambut kepulangan mereka.


Juga setelah bertukar salam, sapa dan beberapa pertanyaan klasik, mereka berdua merasa tidak ada yang salah. Namun, tetap saja, keduanya sama sekali tidak memiliki petunjuk atas kebisuan Safira yang terasa janggal. Safira jelas tak secerewet biasanya.


Ashqar dan Rafa bukan satu-satunya yang menyadari hal itu. Alvin yang duduk di kursi paling belakang bersama Zain yang sudah tertidur tiba-tiba berkata, “Mamah sakit?”


“Hah?” Safira tersentak. Pikiran wanita itu jelas berkelana entah kemana. Dia berkedip beberapa kali lalu melirik Alvin dari spion tengah. “Nggak, Mas.”


“Kok, diem aja?”


Safira memaksakan senyum di wajahnya. Dia tidak berkutik dibawah lirikan tajam Alvin yang memandangnya penuh rasa ingin tahu. Meski ekspresi anak itu acuh tak acuh dan wajahnya ia palingkan pada kaca mobil, tapi Safira masih bisa melihat pantulan mata Alvin yang tengah memandangnya.


“Mamah cuma ngantuk aja, Mas.”


“Tapi tadi papah nawarin―”


“Mas Alvin,” tegur Ashqar halus, menoleh pada putra sulungnya. “Biar mamah istirahat, oke?”


Alvin menatap Ashqar lamat, ada ketidakpuasan yang jelas di wajah anak itu. Namun, Alvin memilih menuruti perkataan ayahnya.


“Mas tadi nawarin apa?” tanya Safira setelah keadaan hening beberapa saat.

__ADS_1


Ashqar menggeleng, senyum tipis menghiasi wajah tampannya. “Nggak jadi. Harsha tidur?” tanya Ashqar, mengalihkan pembicaraan. Beruntung ia berhasil.


Safira menunduk, memandang wajah lucu Harsha yang sudah terlelap lalu beralih kembali pada Ashqar dan mengangguk.


“Sini. Biar sama aku aja.” Ashqar mengulurkan tangan kemudian membawa Harsha berpindah buaian.


“Tapi, Mas―”


“Udah nggak apa-apa. Kamu tidur aja dulu, nanti kalau udah mau sampai rumah aku bangunin,” sela Ashqar. “Aku kangen sama Harsha.”


Mengherankan, Safira pasrah dan menuruti ucapan Ashqar begitu saja. Lagi-lagi Ashqar dibuat bingung. Pria itu refleks melirik Rafa yang juga melakukan hal sama. Saat pandangan mereka bertemu, keduanya secara bersamaan menaikan bahu.


✿✿✿


Ashqar melangkahkan kaki seringan mungkin hingga tak menimbulkan suara, pandangannya menyapu seisi ruangan. Harhsa berada di kamar sebelah, kamar yang Edi siapan sejak sebelum kelahiran putri kecilnya, dengan pintu yang terhubung dengan kamar mereka hingga tak ada yang perlu dicemaskan.


Tangan Ashqar terulur lalu menyentuh bahu mungil Safira yang terbuka. “Sayang,” panggilnya lembut, menarik pelan bahu Safira agar menghadap kearahnya.


Dan betapa terkejutnya Ashqar saat memergoki air mata di pipi Safira yang berusaha wanita itu sembunyikan.


“Sayang, kamu kenapa?” Ashqar menarik dagu Safira. Jantung Ashqar seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat begitu tatapan mereka bertemu. Manik mata Safira berkaca-kaca dan hidungnya memerah. “Sayang, ada apa?”

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Safira memilih menundukan wajah dan menyembunyikan tetesan air mata yang masih mengalir dari manik matanya. Ashqar bisa melihat bahu istrinya bergetar. Dia sangat yakin bahwa Safira sedang menahan tangis. Jadi tanpa bertanya apa-apa lagi Ashqar langsung menarik tubuh Safira kedalam pelukannya, mendekap tubuh mungil istrinya dengan erat.


Hangat tubuh Ashqar membungkus Safira dengan cara yang tepat, memberikan rasa aman dan nyaman yang sudah ia rindukan beberapa hari belakangan. Sampai satu isakan lolos dari bibirnya lalu disusul dengan isakan-isakan yang lain. Pada akhirnya pertahanan Safira runtuh juga.


Satu menit berlalu menjadi tiga menit, kemudian beranjak kemenit-menit berikutnya hingga tanpa terasa mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpelukan. Ashqar menjadi yang pertama memberi jarak, mengintip Safira yang terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya.


“Sayang,” panggilnya lembut. “Mau cerita?”


Namun, Safira masih membisu.


“Apa ini ada hubungannya sama gosip? Apa ada orang asing yang ganggu kamu?” Ashqar semakin bingung saat Safira betah berlama-lama dengan kebisuannya. Hingga satu hal terlintas dibenak Ashqar. “Apa ada yang ganggu anak-anak?”


.


.


.


✄................................................


Nara Note :

__ADS_1


Chapter selanjutnya update malem ya, gaes..


Hari ini aky dinas luat jadi belum sempet lanjut nulis ಥ‿ಥ


__ADS_2