
Ashqar sangat bersyukur memiliki tetangga seperti Hendra. Pria paruh baya yang hidup seorang diri itu sangat baik dan dekat dengan keluarganya. Lebih dari itu, Ashqar sangat berterimakasih karena Hendra sudah menolong Safira.
Hendra yang sudah mengambil duduk di samping Ashqar menepuk bahu pria itu. “Udah, ndak usah dipikirin terus. Sekarang bukan saatnya menyesal, Mas.”
Perkataan bijak Hendra seperti semilir angin yang menyejukkan batinnya. Namun, tak berarti perasaannya membaik begitu saja.
Ashqar menghembuskan napas kasar setelah beberapa teguk air berkarbonasi membasahi kerongkongannya. “Tapi, Pak. Kalau saja saya nggak keasyikan ngobrol dan cepat pulang, pasti hal seperti ini nggak akan terjadi.”
Hendra memandang Ashqar dengan tatapan prihatin. Tak ada yang bisa ia katakan lagi dan membiarkan Ashqar untuk menenangkan diri. Hendra bisa memahami bagaimana perasaan Ashqar saat ini. Satu sisi merasa bersalah, sisi lainnya ada kemarahan juga kesedihan.
“Ashqar! Dimana Fira?”
Sebuah suara tak asing terdengar dari kejauhan. Ashqar kembali menaikan wajah dan menoleh, Edi setengah berlari ke arahnya. Refleks ia berdiri, seakan-akan telah menunggu kedatangan mertuanya itu.
“Ashqar, Fira gimana? Gimana keadaannya? Semuanya baik-baik aja, ‘kan?” berondong Edi, bahkan saat langkahnya belum sepenuhnya berhenti.
Melihat penampilan Edi membuat Ashqar menduga jika mertuanya parkir di area luar rumah sakit, rambut dan hampir seluruh kaus yang dipakai mertuanya basah kuyup.
“Safira masih nunggu diperiksa dokter, Pak?”
“Masih belum diperiksa?” tanya Edi, tanpa sadar suaranya meninggi. “Pindah aja. Dari tadi masih nunggu diperiksa.”
“Pak, sebentar!” Ashqar menahan Edi yang hampir melangkah masuk ke dalam ruang UGD. “Ditunggu sebentar aja, Pak. Barusan perawat udah bilang kalau tinggal satu pasien lagi.”
Edi mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Dia ingin memaksakan kehendak, tetapi melihat penampilan menantu laki-lakinya membuat Edi memilih menahan diri.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi, Ashqar? Safira sempet telfon bapak dan minta cepet pulang. Tapi sekarang ....”
Ashqar menghela napas dalam kemudian dia menceritakan kronologi dari sudut pandangnya. Dia mengatakan segalanya termasuk mengakui kecerobohan yang ia perbuat.
“Aku bener-bener minta maaf, Pak.”
“Uwes. Uwes.”¹ Edi menepuk bahu Ashqar beberapa kali. “Bapak juga salah karena bawa Harsha jalan-jalan kelamaan sampai kejebak hujan.”
“Tapi karena aku terlalu asyik ngobrol dan nggak cepat pulang makanya Safira harus menghadapi orang-orang itu sendirian, Pak. Kalau ada yang harus disalahkan, orang itu adalah aku.”
Edi meremas pundak Ashqar pelan. “Le, memang benar kamu salah dan bapak juga salah. Tapi kita berdua juga nggak tahu kalau akan terjadi hal seperti ini. Safira bukan satu-dua kali sendirian di rumah dan biasanya semua baik-baik aja, tapi hari ini ....”
Mendengar ucapan Edi, membuat Ashqar sadar jika alasan keberadaan Safira saat ini bukan sekedar siapa yang membuat kesalahan. Namun, seakan seseorang atau lebih memang sudah menunggu keadaan dimana rumah sepi dan Safira seorang diri.
“Ngomong-ngomong, Ashqar. Kalau kamu di perjalanan saat Fira dibawa ke sini, terus yang nganter Fira siapa?”
Ketika pandangan Edi dan Hendra bertemu, seketika suasana menjadi tegang. Edi sendiri tak menyadari kehadiran orang lain selain Ashqar. Jadi saat ia melihat orang yang diperkenalkan Ashqar padanya, Edi menjadi gelap mata.
“Mas Teguh!” Edi menyambar kerah baju Hendra. “Apa lagi? Apa lagi yang Mas lakukan sama Fira? Opo ora puas koe gawe keluargaku sengsoro?”²
Ashqar terkesiap melihat perubahan sikap Edi yang tiba-tiba. Dia merasa bingung juga tak enak pada orang-orang di sekitar mereka yang terang-terangan menoleh pada Edi dan Hendra.
“Ed, tenang dulu. Ini rumah sakit.”
“Ora urus!”³bentak Edi. “Ini pasti kerjaanmu, ‘kan?”
__ADS_1
“Pak. Udah, Pak. Ini rumah sakit, nggak enak sama keluarga pasien yang lain,” lerai Ashqar, meski dia sendiri tak tahu apa penyebab Edi menyerang Hendra.
Edi masih enggan melonggarkan cekalan tangannya di kerah baju Hendra, kedua telapak tangannya mencengkram erat, kerutan di kening Edi tampak dalam dan wajahnya menjadi merah padam. Ashqar tak mengerti dengan situasi di tengah-tengah mereka kini, tetapi satu hal yang terlihat jelas olehnya, yaitu kemarahan di mata sang mertua.
Ashqar baru membuka mulut, hendak meyakinkan mertuanya untuk melepaskan Hendra saat suara wanita menyebut nama istrinya.
“Wali atas nama pasien Safira Mazarine!”
Ashqar menoleh dan segera mengangkat tangan. “Saya, Sus!”
“Silahkan masuk, Pak.” Perawat itu mempersilahkan. “Satu orang aja ya, Pak,” tambahnya, saat melihat Edi juga Hendra hendak mengekori Ashqar.
.
.
.
✄................................................
Pojok Diksi :
¹Uwes : Sudah (Bahasa Jawa)
²Opo ora puas koe gawe keluargaku sengsoro? : Apa nggak puas kamu (udah) buat keluargaku sengsara?
__ADS_1
³Ora urus : Nggak peduli