
Beberapa hari setelahnya, keadaan rumah tangga Ashqar dan Safira mulai membaik. Gosip-gosip yang beredar di sosial media sudah mereda begitu juga di televisi. Salah satu faktornya adalah karena adanya berita lain yang lebih menjual untuk diberitakan.
Meskipun sempat ada beberapa orang yang diduga sebegai pemburu berita sempat terlihat di sekitar kompleks perumahan Ashqar dan Safira, tapi untungnya warga sekitar kompak untuk tidak membuka mulut. Hal ini juga yang membuat keamanan perumahan menjadi ketat. Bukan hanya untuk keamanan dan kenyamanan keluarga kecil Ashqar, tapi juga untuk warga-warga yang tinggal disana.
Lain halnya dengan keluarga sepupu Nita, paman Zain, yang sempat mengisi acara gosip dengan komentar-komentar mereka mengenai Nita dan Zain. Mereka adalah satu-satunya pihak yang bertanggungjawab atas berita-berita yang berseliweran beberapa waktu belakangan. Untungnya, tidak satupun dari pihak Ashqar atau pihak Nita yang bersedia memberi respon sehingga orang-orang merasa bosan dengan pemberitaan dan opini sepihak.
Sebagai orang yang masih memiliki hubungan darah dengan putra dan mantan istrinya, keluarga sepupu Nita justru sangat tidak bertanggung jawab dengan memberikan pernyataan yang malah memperkeruh suasana. Bahkan mereka tidak mempertimbangkan keluarganya atau Zain yang jelas-jelas keponakan mereka sendiri.
Hal itu membuat Ashqar geram. Pria itu bahkan sempat memiliki niat untuk menuntut keluarga sepupu Nita dan membawa mereka kemeja hijau. Namun, Safira berhasil meyakinkan Ashqar untuk tidak merealisasikan niat itu. Maka saat berita-berita di televisi sudah tak lagi menampilkan wajah-wajah menyebalkan keluarga sepupu Nita, Ashqar merasa begitu lega.
Itu membuat air muka Ashqar cerah, lengkap dengan senyum mengembang di wajah tampannya. Hiper bolisnya, seakan-akan dunia yang ia lihat penuh warna dan pundaknya terasa ringan.
“Papah kenapa, sih?” tanya Zain, heran dengan kelakuan papahnya.
Masih dengan senyum di wajah, Ashqar menoleh ke kursi samping. “Hah? Nggak kenapa-napa.”
Zain menatap Ashqar nggak tak yakin. Bocah yang sebentar lagi akan lulus dari taman kanak-kanak itu mengerutkan kening sambil terus menjilati permen lolipop. “Papah aneh.”
Kalau biasanya Ashqar akan menegur Zain saat berbicara seperti itu, lain cerita dengan kali ini. Pria itu justru hanya menepuk-nepuk puncak kepala Zain sambil menyuruhnya untuk menghabiskan permen sebelum sampai di rumah. Karena kalau tidak, Safira pasti akan mengomeli Ashqar sebab membiarkan Zain memakan permen.
__ADS_1
“Mas Zain mau makan steak?” tawar Ashqar saat melihat plakat salah satu restoran steak terkenal di Kota Solo.
“Nggak mau. Mamah janji masak ayam manis.”
Ashqar menaikan satu alis dan melirik Zain yang masih asyik dengan permen di mulut sambil menggoyang-goyangkan kaki. Pantas saja Zain tidak mengeluh lapar seperti biasanya, rupanya dia sudah membuat janji dengan Safira.
“Ya udah kalau gitu, kita makan di rumah aja.”
“Iya.”
Ashqar mengulum senyum melihat tingkah Zain yang menggemaskan. Terlihat jelas jika putranya menunggu-nunggu untuk sampai di rumah demi masakan buatan Safira. Apalagi yang dibuat adalah menu kesukaan Zain akhir-akhir ini. Ah ... tahu begitu Ashqar juga akan meminta Safira untuk memasak pepes ikan kesukaannya.
Hingga akhirnya mobil Ashqar masuk ke dalam kompleks dan berhenti perlahan di depan rumah. Belum juga mobil berhenti dengan sempurna, Zain sudah dengan semangatnya membuka sabuk pengaman dan hampir melompat turun. Untung saja Ashqar dengan sigap menahan central lock untuk pintu mobil disamping pengemudi.
“Mas Zain,” panggil Ashqar penuh peringatan.
Zain yang dipanggil namanya langsung menarik tangan dari pintu mobil seraya menunduk.
“Papah ‘kan, udah sering bilang kalau mobil belum berhenti jangan buru-buru buka pintu. Bahaya.” Ashqar melembutkan nada suaranya, tapi tak meninggalkan nada peringatan untuk Zain. “Kalau jatuh, gimana?”
__ADS_1
“Berdarah,” cicit Zain.
“Kalau berdarah sakit nggak?” tanya Ashqar, ditanggapi anggukan lemah dari Zain. Ashqar kemudian membuka kunci dan berkata, “Dah, Mas Zain boleh keluar sekarang. Tapi jangan diulangi lagi, ya?”
Zain mengangkat wajah. Dengan wajah dan tatapan mata berseri-seri , ia menyodorkan jari kelingkingnya. “Zain janji, pah.”
Ashqar mau tak mau menarik kedua ujung bibirnya. Beberapa menit yang lalu Zain memasang wajah menyesal, tapi sekarang eskpresi itu menghilang entah kemana.
“Dijaga janjinya ya, Mas Zain.” Ashqar menautkan jari kelingking mereka.
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
__ADS_1