Gaung Rasa

Gaung Rasa
Trio Baswara


__ADS_3

Lebih dari seminggu berlalu. Gosip mengenai Nita benar-benar menghilang, tapi tentu saja perempuan itu pun ikut tenggelam dari dunia entertaiment. Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya, kesibukan masih padat seperti sebelumnya, semuanya tetap sama seakan-akan tak pernah ada gonjang-ganjing yang terjadi.


Meski begitu, Keluarga Baswara sesekali masih mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang sama meski mereka sudah memberikan jawaban yang sama pula berkali-kali. Hingga akhirnya Ashqar memutuskan untuk tidak menjawab apapun pertanyaan yang berhubungan dengan Nita yang mengarah pada keluarganya.


Menurutnya dengan terus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu maka tidak akan menghentikan rantai rasa ingin tahu orang lain. Jadi lebih baik bagi mereka untuk diam dan melangkah maju demi melanjutkan hidup. Hal itu juga dirasa baik bagi kedua anak-anaknya.


Ngomong-ngomong soal Alvin dan Zain, pasangan kakak-adik itu sedang kompak-kompaknya dalam membantu mengasuh Harsha. Berbekal misi khusus yang Ashqar gaung-gaungkan bahwa sebagai laki-laki sejati yang mencintai keluarga―Safira, mereka wajib untuk bergotong royong demi meringankan pekerjaan rumah.


Sebenarnya, Ashqar tidak perlu memberikan misi akal-akalan seperti ini untuk Alvin yang setiap harinya sudah terbiasa ringan tangan membantu pekerjaan rumah. Namun, lain halnya dengan Zain. Putranya yang satu itu masih sulit menahan diri dari berebut perhatian dengan Harsha.


“Papah nanti beli es krim dulu boleh?”


Ashqar melirik Zain lewat spion tengah. Putra tengahnya itu duduk santai menggoyangkan kaki sambil memakan cemilan kentang ukuran besar pemberian Rafa. Ingin rasanya Ashqar merebut plastik bergambar irisan kentang dari tangan Zain, tapi ia lebih tak bisa mendengar tangisan putranya.


“Beli es krimnya minggu depan lagi aja ya, Mas Zain.” Saat Zain merengut dan mulai menunjukan tanda-tanda untuk perotes, Ashqar buru-buru memberikan alasan. “Minggu ini Mas Zain udah makan banyak cemilan, nanti kalau batuk pilek gimana?”


“Tapi ....”

__ADS_1


“Kamu mau mamah capek gara-gara ngurusin kamu? Kamu ‘kan, kalau sakit manja,” omel Alvin yang duduk tenang disampingnya.


“Zain nggak manja. Mas Alvin juga kalau sakit maunya sama mamah aja. Dasar, Mas Alvin tuh boong aja. Wleek!” sungut Zain lalu membuang wajah.


Ashqar mengulum senyum. “Udah. Udah. Jangan berantem terus. Mas Alvin sama Mas Zain itu sama manjanya ke mamah kalau sakit.”


“Papah!” protes Zain yang mengundang tawa renyah Ashqar.


“Mas Zain kalau marah jadi manis, loh,” goda Ashqar. Dia tahu jika Zain paling anti dibilang manis.


“Papah!” seru Zain semakin nyaring.


Ashqar membawa mobilnya melaju memasuki kawasan kompleks perumahan. Perdebatan mereka mendadak berakhir seiring Zain yang mulai bernyanyi lagu anak-anak, mulai dari naik-naik ke puncak gunung lalu berlanjut ke lagu burung kakak tua yang entah bagaimana disandingkan dengan topi saya bundar. Mungkin karena kedua lagu itu memiliki nada yang sama.


“Burung kakak tua, hinggap di jendela. Kalau tidak tua, giginya tinggal dua.”


Setengah mati Ashqar menahan tawa yang hampir meledak hanya agar Zain tidak ngambek dan mulai rewel. Namun, tetap saja itu bukan hal mudah apalagi saat Zain mulai meminta Alvin untuk ikut bergabung bersamanya. Ekspresi enggan dan terpaksa tergambar jelas di wajah anak itu, tapi bibirnya tetap melantunkan lagu yang sama dengan Zain.

__ADS_1


Haruskah Ashqar menjelaskan bagaimana luar biasanya Alvin? Ashqar rasa tak ada kalimat yang pas untuk mendeskripsikan kepribadian putra pertamanya itu, tidak kurang dari luar biasa dan tidak lebih dari itu. Alvin adalah salah satu hal luar biasa yang hadir dalam hidupnya. Ikatan yang anak itu ciptakan antara mereka bukan dari darah, tapi dari batin. Dan terkadang hal itu lebih kuat dari apa yang orang pikirkan.


Putra pertanya itu juga yang membantunya dan Safira menjelaskan pada Zain untuk pelan-pelan menyadari posisi Nita. Meski hal itu belum bisa sepenuhnya diterima oleh Zain yang masih terus menolak jika Nita adalah ibunya dan meyakini bahwa Safira adalah satu-satunya ibu bagi anak itu.


Karena penolakan Zain itu lah, juga atas saran psikolog anak dan Rahma, akhirnya Ashqar dan Safira berhenti untuk menjelaskan posisi Nita pada Zain. Setidaknya mereka sudah memberitahu dan kelak pelan-pelan Zain akan mengerti dengan sendirinya, semoga saja.


“Pah, itu mobilnya Bude Rahma ‘kan?” tanya Alvin.


Ashqar menyipitkan mata dan mengenali mobil merah mungil buatan Jepang terparkir di depan rumahnya adalah milik Rahma. “Ada apa dengan semua orang hari ini?” batin Ashqar.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2