
Ashqar terdiam, terlihat berpikir. Mendengar penjelasan Rafa justru membuatnya merasa bahwa tak ada alasan kuat untuk Nita dan keluarganya bertemu saat ini, tidak saat situasi sudah mulai tenang. Lagi pula, Ashqar merasa ada sesuatu yang janggal dengan alasan yang Rafa berikan.
“Yang bicara barusan itu Rafa sebagai kakaknya Safira atau Rafa sebagai pemilik perusahaan?”
Rafa nampak terkejut dengan pertanyaan tajam yang Ashqar lontarkan. Dia sungguh tak menduga Ashqar akan memiliki pikiran seperti itu. Namun, alih-alih menjadi bingung dan gagap, Rafa memberikan respon santai lengkap dengan senyum tipisnya.
Sayangnya, meski Rafa terdengar meyakinkan dengan berbagai kalimat pendukung yang ia lontarkan. Ashqar masih merasa skeptis.
“Aku hargai niat baik kamu, meski jujur aja aku juga ragu dengan apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan. Tapi tetap, untuk masalah ini aku harus berdiskusi dengan Safira.”
✿✿✿
“Heh! Malah bengong lagi.”
Sindiran Rahma mengembalikan Ashqar dari lamuman pertemuannya dengan Rafa. Dia mengangkat wajah dan mendapati Rahma masih menunggu jawabannya.
“Aku bahkan belum kasih persetujuan, mbak. Ini kayaknya akal-akalan Rafa aja supaya Safira setuju sama ide dia. Aku malah belum kasih tahu hal ini ke Safira, jadi kemungkinan Safira tahu dari Rafa sendiri.”
Ashqar tidak tahu bagaimana cara berpikir Rafa. Jelas-jelas ia sudah mengatakan akan berdiskusi lebih dulu dengan Safira, tapi sialnya, iparnya itu malah memilih cara licik dengan menghubungi Safira sebelum ia sampai rumah. Apalagi ternyata Rahma juga berada disaat yang tepat.
“Ngomong-ngomong mbak sejak kapan dateng? Kok bisa tahu soal ini?”
“Kata Safira sepuluh menitan dari kamu pergi jemput Alvin dan ya ... sekitar setengah jam lalu Rafa telfon Safira dan bicara agak lama.” Rahma melirik Safira yang masih sibuk dengan anak-anak di ruang keluarga. “Mbak nggak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Safira cerita kalau kamu setuju buat bertemu dengan Nita. Mbak belum sempat tanya lebih lanjut kamu udah keburu dateng.”
“Emang mau tanya apa, mbak?”
Ashqar dan Rahma sama-sama terkejut dengan kedatangan Safira yang tiba-tiba. Akan tetapi, keduanya secara natural bisa menutupi itu dengan gelengan kepala serempak dan senyum simetris.
“Kalian kenapa, sih?” tanya Safira, duduk di samping Rahma.
“Ini soal ide Rafa,” jawab Ashqar, eskpresinya menjadi serius. “Aku belum setuju soal itu, Fi. Bahkan rencananya aku mau diskusiin dulu sama kamu pas pulang, tapi aku nggak tahu kalau Rafa ternyata menghubungi kamu lebih dulu.”
__ADS_1
Safira menyernyit. “Tapi Kak Rafa bilang kalau mas udah setuju buat bertemu sama Mbak Nita?”
Ashqar menghembuskan napas kasar seraya menyandarkan punggungnya pada kepala sofa. Prasangka buruk tak bisa lagi ia tahan untuk mampir kedalam pikiran dan membuat dadanya sesak, penuh dengan esmosi yang tertahan.
Saat hantaman itu kian kuat menujuk dada, Ashqar mulai memejamkan mata dan mengatur napas. Dia tidak ingin meledak di depan orang yang bukan tersangkanya. Lagi pula, niatnya adalah berdiskusi bukan menggali kuburan sendiri dengan memantik api perdebatan dengan si istri.
“Kamu kena tipu Rafa,” ucap Rahma, mendahului Ashqar yang baru membuka kelopak mata.
Safira menoleh dengan ekspresi yang masih dipertahankan. “Kena tipu Kak Rafa? Kok, aku jadi nggak paham.”
Lagi-lagi helaan napas Ashqar terdengar berat dan kasar. Dia memandang Safira lelah sambil menepuk sisi kosong di sampingnya. “Duduk sini, Yang.”
“Gimana, mas?” tanya Safira begitu ia duduk di samping suaminya.
“Kamu yakin mau ketemu sama Nita?” Ashqar menatap Safira dengan tatapan yang sulit diartikan.
Safira sendiri bisa merasakan dingin menjalar disepanjang tulang belakangnya. “Kak Rafa bilang ini buat yang terakhir kalinya sebelum Mbak Nita pergi ke luar negeri. Kalau memang begitu, aku rasa ... harusnya nggak masalah. Tapi kalau mas nggak setuju aku bakal bilang Kak Rafa buat batalin rencana itu.”
Lagi-lagi Ashqar melemparkan punggu pada kepala sofa. Dia menaikan lengan dan menutupi wajah. “Aku kepikiran soal Zain. Dia baru aja move on.”
Sentuhan lembut itu membuat Ashqar menyimpan lengannya kembali di samping tubuh. Ashqar menoleh dan mendapati Safira memandangnya penuh kecemasan.
Ashqar mengulurkan tangan, membelai sisi wajah Safira seringan bulu. “Bukan. Yang aku khawatirkan adalah kalau Zain sampai stres. Dia pernah melalui hal buruk sejak neneknya meninggal dunia dan aku nggak mau kalau pertemuannya dengan Nita nanti malah mengorek luka lama.”
“Aku ngerti kekhawatiran mas.” Safira mengambil tangan Ashqar yang berada di wajahnya dan menggenggamnya erat dalam pangkuan. “Dan itu juga yang menjadi kekhawatiranku. Jadi pertemuan malam nanti hanya akan menjadi pertemuan kita bertiga tanpa anak-anak. Gimana?”
Rahma berdeham. Mencoba mengingatkan pasangan di depannya jika masih ada manusia lain selain mereka berdua. Lalu saat Ashqar dan Safira menaruh atensi terhadapnya, Rahma berkata, “Mbak tahu kalau mbak nggak berhak mencampuri urusan kalian, tapi kalau boleh bicara, ide Safira sangat bijaksana. Masalah ini terlanjur pelik dan kalau sampai melibatkan anak-anak itu sangat salah, tapi kalau orang dewasa yang duduk dan bicara justru itu bagus. Biar bagaimanapun kalian punya kewajiban buat meluruskan masalah ini kepada publik supaya suatu hari nanti saat Zain mengerti maka dia tidak akan salah paham.”
“Tapi Rafa merencanakan ini terkesan hanya untuk kepentingan Nita. Buat mengembalikan citra baik dia dan udah pasti hal itu nggak penting buat keluarga kita, mbak.”
“Itu nggak mungkin. Kamu tahu sendiri gimana posesifnya Rafa sama Safira.”
__ADS_1
“Mbak nggak tahu aja kalau itu orang yang punya perusahaan Nita,” kata Ashqar dongkol sambil memutar bola mata.
Netra Rahma membola. “Rafa ... apa?”
“Nggak usah dibahas yang itu.” Ashqar mengibaskan tangan di depan wajah. “Yang jelas aku tetep nggak setuju bertemu dengan Nita.”
Rahma menatap Ashqar lamat setelah berhasil mengendalikan diri dari keterkejutannya dan tentu saja ia akan menyanyakan hal ini nanti secara pribadi pada Safira. Rahma sangat tahu watak adiknya yang masih menyimpan kekecewaan dan amarah kepada Nita atas apa yang perempuan itu pernah lakukan kepada Zain.
“Untuk Zain, Qar. Dia akan dewasa dan pasti akan mengetahui kebenarannya. Untuk itu kamu nggak perlu menyimpan lagi perasaan-perasaan yang nggak perlu, cukup jadi contoh bahwa kamu dan Safira adalah orang tua terbaik yang Zain miliki maka dia akan selalu baik-baik aja.”
“Mbak Rahma bener, mas.” Safira membelai punggung tangan Ashqar masih berada di pangkuannya dengan ibu jari. “Mas masih kecewa dengan apa yang udah Mbak Nita buat dulu dan kekecewaan itu jadi berkali-kali lipat karena masalah kemarin, tapi bukan berarti kita harus memutuskan tali diantara Mbak Nita dan Zain, ‘kan? Mas, Zain berhak memiliki keluarga yang bahagia meski ayah dan ibu kandungnya nggak bersma.”
“Zain akan tetap bahagia meskipun dia nggak kenal siapa Nita sebenarnya,” ucap Ashqar getir.
“Tapi, mas ....”
“Kasih aku waktu sebentar,” potong Ashqar. “Aku mau pikirin ini baik-baik.”
Ashqar beranjak dari duduknya, melenggang melewati pintu dan tak lama terdengar suara mobil yang dinyalakan.
“Nggak apa-apa, Fi.” Rahma menahan Safira yang hendak menyusul Ashqar. “Kasih dia waktu sebentar.”
Safira menatap Rahma dan pintu bergantian. Kemudian ia mengangguk halus dan duduk di samping kakak iparnya, berharap bahwa Ashqar akan segera kembali atau Safira bisa uring-uringan karena ditinggal begitu saja.
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Bersambung~
ps. maapkan update kemaleman, tapi mudah-mudahan terbayar dengan chapter yang cukup panjang