Gaung Rasa

Gaung Rasa
Terbongkar


__ADS_3

“Apa? Safira diserang wartawan?”


Ashqar menghembuskan napas kasar. “Aku nggak habis pikir. Bagaimana kamu dan manajemen kamu menangani gosip ini, Nit? Jangan lupa, kamu udah janji kalau hal ini nggak akan mengusik Safira atau Zain.”


“Aku udah mencobanya, Ashqar. Tapi manajemen cukup sulit, mereka mau memanfaatkan ini buat keuntungan mereka.”


Mendengar ucapan Nita, Ashqar menggeram tertahan. “Demi Allah, Nit. Aku nggak akan membiarkan hal ini begitu aja meski itu berarti aku harus berhadapan dengan kamu atau manajemenmu.”


“Ashqar, tolong jangan egois. Bukan cuma kamu atau Safira yang mengalami tekanan, tapi juga aku.” Terdengar suara teriakan di dekat Nita, memanggil make up artis. “Aku akan mencari cara supaya gosip ini segera berhenti dan aku juga akan cari tahu tentang wartawan yang menyerang Safira.”


“Ya sudah. Assalamu'alaikum.” Tanpa menunggu jawaban, Ashqar langsung mengakhiri panggilan.


Punggung Ashqar bersandar semakin dalam pada kepala sofa, kepalanya mendongak dan tangannya memijat pangkal hidung. Dia mulai dihantui penyesalan, bukan hanya karena meninggalkan Safira sendirian di rumah, tapi juga karena sudah mempercayai Nita.


Ashqar sudah didamprat Rafa habis-habisan kemarin malam karena hal ini, meski ia merasa kesal sudah disalahkan iparnya itu, tapi nyatanya Ashqar tak bisa membela diri lebih jauh. Karena kini dia menyadari jika tindakannya tidak efektif sama sekali.


“Akh! Sialan!” Ashqar mengacak surai hitamnya kemudian melemparkan ponselnya secara asal ke atas meja. Benturan pelindung ponsel dan meja yang terbuat dari kayu jati itu terdengar nyaring.


Ashqar rehat sejenak, ia memilih mengabaikan laptop yang berada di hadapannya dengan video yang terjeda. Dia harus menjernihkan pikiran lebih dulu daripada mengambil keputusan secara cepat. Hanya saja, Ashqar tak menyangka jika masalah ini ternyata lebih rumit dari yang ia bayangkan.

__ADS_1


Kemudian ingatnya tertarik mundur pada kemarin malam, pada obrolannya dengan Edi dan Rafa. Fakta baru yang selama ini disembunyikan darinya mampu membuat Ashqar terdiam cukup lama. Otaknya mendadak kelebihan kapasitas dan tumpul, informasi singkat yang Edi lontarkan sangat sulit dicerna.


Bahkan saat ia mendapatkan kembali kesadarannya, Ashqar menjadi sedikit linglung. “Safira ... target pembunuhan?” tanya Ashqar tergagap. “Bapak, tolong jangan bercanda.”


“Bapak serius Ashqar.” Edi menghela napas panjang sambil melirik Rafa yang lantas mengangguk tipis. “Kamu udah tahu bukan penyebab ibu Safira meninggal dunia?”


“Dibunuh.”


“Saat itu satu-satunya orang selain Safira, sebagai saksi kunci, ada laki-laki yang juga berada di TKP. Laki-laki itu yang sangat bapak percaya, yang nggak sedikitpun bapak berpikir ada niat jahat ternyata adalah pelakunya.” Edi mengeraskan rahang ketika ingatan bertahun-tahun yang lalu kembali menyambangi benaknya. Kemudian saat ia berhasil mengendalikan diri, Edi menatap Ashqar dengan pandangan yang tak terbaca. “Dan laki-laki itu adalah Teguh, saudara bapak sendiri atau yang kamu kenal sebagai Hendra.”


“Pak Hendra?” beo Ashqar. Dia jelas tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “Tapi ... bagaimana?”


Ashqar menyisir rambutnya dan menjambaknya sekilas. “Jadi itu alasan bapak sangat marah begitu melihat Pak Hendra?” tanya Ashqar saat ia kembali mengingat bagaimana sikap Edi begitu ia kenalkan pada Hendra. Namun, ia menyadari sesuatu yang lebih penting daripada hal itu. “Kalau memang nyawa Safira sedang dalam bahaya, kenapa kalian nggak memberitahukan ini sejak lama?”


Baik Edi ataupun Rafa, keduanya terdiam. Situasi mereka mendadak menjadi lebih tegang.


Ashqar menoleh ke arah iparnya. “Rafa?”


“Ok. Ok.” Rafa menatap Ashqar dengan keseriusan penuh. “Pertama, kami mau kalian hidup dengan normal tanpa rasa takut atau hal-hal yang mengganggu. Kedua dan yang paling penting, adalah trauma Safira.”

__ADS_1


“Apa hubungan ini dengan trauma Safira? Traumanya sudah pulih dan itu jelas bukan alasan.”


Rafa berdecih dan menatap Ashqar dengan pandangan mencemooh. “Apa kamu pikir trauma Safira didapatkan karena dia ditinggalkan keluarganya hanya dengan nenek? Atau trauma saat penusukan saat dia mencoba menolong Zain dari percobaan penculikan? Atau bahkan saat Alvin dan Zain diculik?”


“Rafa,” panggil Edi penuh peringatan saat Rafa mulai tanpa sadar menaikan nada suaranya. Anak laki-lakinya itu jelas adalah duplikasi dirinya.


Rafa mendengus sambil melemparkan pandangan ke arah lain. “Sejak kecil, setelah peristiwa itu, Safira mengalami trauma berat karena dia melihat bagaimana ibu kami di—” Rafa menarik napas dalam. “Dibunuh di hadapan matanya sendiri.”


.


.


.


✄................................................


Bersambung~


Sampai ketemu Hari Senin 👋🏻

__ADS_1


Maapkan nggak bisa double chapter, mudah-mudahan minggu depan bisa double terus yak 🤭


__ADS_2