Gaung Rasa

Gaung Rasa
Harsha Widuri Baswara


__ADS_3

Ashqar tidak bisa mengambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Bahkan jika sepuluh penyair berdiri di hadapannya dan mendendangkan syair-syair indah, dia rasa hal itu tidak bisa benar-benar mewakili perasaannya.


Dia berjalan menuju ranjang tempat di mana Safira berbaring dengan nyaman, setelah sebelumnya Ashqar mengantarkan Rafa dan Edi sampai pintu depan kamar rawat. Perjuangan yang berat telah mereka lewati dan jauh lebih berat bagi istrinya.


“Makasih banyak, Sayang,” katanya, membelai kening Safira dan mendaratkan satu kecupan ringan di sana.


Manik matanya tertuju pada wajah Safira yang kini sudah mendapatkan kembali rona merah muda. Sepertinya Safira jatuh tertidur begitu semua orang meninggalkan ruangan. Istrinya itu tertidur seperti bayi, dadanya bergerak halus naik-turun dan suara deru napasnya terdengar halus dengan irama pelan yang membuat hatinya berdesir rindu.


Kemudian Ashqar beranjak menuju ranjang kecil dan berbaring di sana. Agak berlebihan, tapi Ashqar pikir dia juga butuh istirahat. Menemani Safira, meskipun sudah tentu tidak semelelahkan istrinya, ternyata cukup menguras tenaga.


“Anak selanjutnya lebih baik caesar aja,” gumam Ashqar, menutup mata dengan lengan. Seketika bayangan di ruang persalinan tergambar lagi di benaknya.


“Selamat, anak Bapak dan Ibu perempuan.” Dokter yang membantu persalinan Safira mengangkat bayi mungil ke hadapan mereka.


Kemudian disusul oleh tangis putri mereka yang menggema mengisi seluruh ruangan seperti letusan kembang api di malam tahun baru, mengundang kegembiraan serta harapan.


Ashqar tidak bisa membendung kebehagiaan, air matanya jatuh bersamaan dengan senyum di wajah. Kelegaan dan rasa syukur terpancar jelas di wajahnya yang kuyu. Pun Safira yang dirasa menjadi satu-satunya orang paling merasa luar biasa.


“Makasih, Sayang. Makasih banyak,” ucap Ashqar, menggenggam erat tangan Safira dan melayangkan kecupan di seluruh wajah istrinya.

__ADS_1


Safira tidak bisa untuk tidak tersenyum. Bahkan jika dia bisa melakukan lebih dari sekedar menangis dan mengucap syukur tentu akan dia lakukan. Kini dia benar-benar mengerti apa yang Harti ucapkan padanya, perasaan lengkap yang entah bagaimana Safira bisa menjelaskannya.


Kesibukan di ruang persalinan belum juga reda. Sementara seorang perawat membersihkan putrinya, seorang yang lain menjahit bagian intim Safira. Menyadari hal itu membuat sekujur tubuh Ashqar meremang.


“Setelah digunting masih harus dijahit,” batin Ashqar.


Safira sempat kehilangan banyak darah di tengah-tengah persalinan dan hal itu membuatnya sangat panik. Keadaan ruangan mendadak jadi tegang, semua perawat bergerak cepat melakukan sesuatu yang Ashqar tidak paham apa. Satu-satunya yang Ashqar pahami adalah ketika salah satu perawat mengambil kantung darah dan melakukan transfusi pada Safira.


Istri Bapak baik-baik aja, jadi jangan panik atau itu akan mempengaruhi proses persalinan. Sebaiknya Bapak dampingi calon ibu agar tetap tenang dan mengatur napas kembali. Dokter Rudy berbicara dengan nada tenang, seakan memberitahu Ashqar bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi pada ibu yang tengah melahirkan.


“Mas kenapa?” tanya Safira saat melihat Ashqar melamun.


“Kayaknya Pak Ashqar terlalu bahagia, Bu.” Dokter Rudy, dokter senior yang menangani persalinan Safira, menghampiri keduanya. “Sekali lagi selamat buat Bapak dan Ibu. Semoga putrinya bisa menjadi anak yang berbakti untuk agama, orang tua dan Negara.”


“Setelah ini jangan langsung digas ya, Pak. Puasa dulu paling nggak empat puluh hari.”


Ashqar yang paham arah pembicaraan Dokter Rudy hanya bisa tersenyum kaku. Empat puluh hari jauh lebih singkat ketimbang harus melihat istrinya berjuang membawa malaikat kecil mereka ke dunia. Namun, mengatakan hal itu secara terang-terangan cukup membuat malu juga.


Sementara itu, Safira sudah menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Dia sama sekali tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

__ADS_1


“Jadi sudah punya nama untuk putri cantiknya?”


Ashqar melirik Safira, begitupun sebaliknya. “Siapa, Mah?” tanya Ashqar.


“Harsha Widuri Baswara,” jawab Safira.


Dojter Rudy menatap pasangan suami istri itu penuh rasa ingin tahu. “Apa artinya kalau boleh tahu?”


“Harsha artinya kegembiraan, Widuri Baswara diambil dari kami berdua, Dok.” Ashqar menambahkan.


.


.


.


✄................................................


Hari ini update satu ya gaes...

__ADS_1


Maapkan otornya masih sibuk dan kemungkinan sampe bulan depan. Tugas kantor kejar tayang dan aku lagi nyiapin sesuatu yang penting, jadi paling bisa nulis 1-2 chapter setiap harinya. Tapi semoga masih bisa menghibur kalian 🤗


ps. makasih yang udah ikut share pengalamannya di kolom komentar chapter sebelumnya 🖤


__ADS_2