Gaung Rasa

Gaung Rasa
Lebay


__ADS_3

Dering ponsel mengganggu ketenangan Safira, nyaring memekakan telinga. Perlahan Safira membuka kelopak mata dan mulai mengerjap. Sinar matahari yang menerobos dari kaca depan membuatnya kesulitan membuka mata dengan benar.


Safira mengerang, satu tangannya terangkat menutupi wajah sementara tangan lainnya merogoh tas demi mencari ponsel yang masih meraung. Kemudian setelah ia menemukannya, Safira langsung mengangkat panggilan tanpa melihat layar ponselnya.


“Ada apa?” ucap Safira ketus.


“Mah.”


Safira berjengit, kemudian ia segera menatap layar ponsel di tangan. “Mas Ashqar?” bisik Safira, linglung. Sambil memperhatikan sekeliling, Safira berkata, “Ada apa, mas?”


“Ini aku lagi ngobrol sama wali kelasnya Alvin. Kamu nyusul ke sini, ya?”


Safira langsung meluruskan punggung hingga membuat kepalanya pening. “Ada apa, mas?”


“Aku tunggu ya, mah. Kunci mobil masih nyolok.” Tanpa menunggu jawaban Safira, Ashqar langsung menutup sambungan telefon.


Sedangkan Safira masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Sambil mengumpulkan nyawa yang masih berceceran, Safira menatap sekeliling sekali lagi. Mesin mobil menyala pun dengan pendinginnya, mobil kosong dan hanya menyisakan Safira sendirian. Dia bertanya-tanya, sejak kapan ia ditinggal sendirian?


Setelah beberapa menit berlalu, Safira keluar dari mobil dan berjalan menuju sekolah Alvin. Akan tetapi, saat ia menyebrang jalan sebuah motor matic melaju dari sisi kanan, membunyikan klakson dan hampir menabraknya. Untung saja refleks Safira cukup baik. Dia mundur beberapa langkah dan hampir jatuh terhuyung.

__ADS_1


Safira hampir menyerukan sumpah serapah, tapi tertahan di kerongkongan saat menyadari dimana ia berada dan seseorang mendekat padanya. Dia menatap tajam pada motor yang hampir menabraknya, berbelok masuk ke halaman Sekolah Dasar Harmoni.


“Kalau nggak wali murid, berarti guru,” batin Safira dongkol.


Wanita itu berjalan memasuki area sekolah Alvin dengan perasaan jengkel yang masih di ubun-ubun. Saat melewati parkiran, ia melihat motor yang hampir menabraknya. Sempat terbersit di pikiran Safira untuk menendang motor itu dan mematahkan spionnya, tapi ia tak ingin membuat anaknya mendapat masalah karena kelakuannya. Jadi dengan mengabaikan rasa jengkelnya, Safira melanjutkan langkah hingga ke ruang guru.


“Permisi,” kata Safira sambil membuka pintu ruang guru.


Tatapan mata Safira langsung tertuju pada meja tamu di tengah ruangan. Suami dan anak sulungnya duduk di salah satu kursi panjang, di hadapan mereka duduk seorang perempuan dan anak laki-laki, lalu di kursi lainnya duduk wali kelas Alvin dan kepala sekolah. Seketika perasaan Safira menjadi tak enak.


Safira mengambil duduk di samping Alvin. Kemudian ia melirik Ashqar dan melirik pada orang-orang yang duduk disana. Begitu ia melihat wanita di depannya, Safira terkejut sekaligus bingung. Wanita itu adalah wanita yang sama dengan orang yang hampir menabraknya.


“Begini Bu Ajeng,” sela wali kelas Alvin. “Saya mengumpulkan anda semua, orang tua dari Alvin dan Aldi karena anak-anak anda terlibat pertengkaran saat jam terakhir pelajaran.”


Mendengar hal itu, Ashqar dan Safira secara bersamaan melirik putra meraka. Antara percaya tak percaya bahwa Alvin bisa terlibat perkelahian. Padahal selama ini mereka mengenal Alvin sebagai anak yang tenang dan cenderung tak ingin terlibat dalam sesuatu pertengkaran.


Orang tua murid di hadapan Pasangan Baswara sudah heboh, memeriksa tubuh putranya. “Yang mana yang sakit, Di? Kasih tahu bunda,” kata Ajeng heboh. Kemudian perempuan itu menoleh pada Alvin dan menunjuknya. “Kamu ngapain anak saya?”


“Yang sopan, ya. Jangan nunjuk-nunjuk anak orang sembarangan,” tegur Safira, merangkul Alvin.

__ADS_1


“Ibu-ibu tolong tenang dulu,” kata wali kelas Alvin. “Tolong beri contoh baik buat anak-anak anda.”


“Anak saya memar kayak gini terus ibu suruh saya tenang.”


Safira memincingkan mata, menelisik wajah teman sekelas Alvin yang pasrah di pelukan si ibu. Tak ada yang memar dari wajah anak itu, hanya sedikit kemerahan di pipi sebelah kanan.


“Jangan lebay, bu. Anak ibu baik-baik aja,” kata Safira ketus.


Kejengkelan yang semula sempat Safira simpan kembali muncul kepermukaan dan bertambah dua kali lipat. Ingin sekali rasanya Safira menjambak rambut tebal perempuan di depannya dan memberikan dua sampai tiga bekas cubitan di bibir lancip itu.


“ini pertengkaran anak-anak biasa, bukan tawuran siswa SMK,” lanjut Safira, julid.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


__ADS_2