
Sari menerobos masuk dan membuat kedua orang di dalam ruangan refleks menoleh ke arah pintu. Langkah wanita pertengahan empat puluhan itu yang biasanya pelan dan kecil seketika berbeda. Sambil mengulang kalimat yang sama, Sari melangkah mendekati kursi Edi.
“Pak, lihat ini!” titahnya dengan nada panik, menyodorkan ponsel ke pada suaminya.
Tanpa mengatakan apapun Edi menerima ponsel Sari, melihat apa yang ada di layar sentuh benda tersebut lalu tak berapa lama pria itu menggebrak meja dengan tangan kanannya.
“Kurang ajar!” berang Edi.
Rafa yang melihat reaksi bapaknya segera merebut ponsel. Dan begitu dia melihat sebuah video pendek berdurasi satu menit dari ponsel Sari, reaksi Rafa tak jauh berbeda dari Edi. Namun, bedanya Rafa hanya menyumpah.
Rafa menoleh pada Sari. “Ini berita baru, Bu?”
Sari mengangguk. “Baru aja. Ibu tadi baru menyalahkan TV, tapi berita tentang Zain udah selesai jadi ibu cari di YouTube.”
“Suruh Ashqar cepat pulang. Kita harus rubah rencana,” sela Edi, tak dapat menyembunyikan rasa geram.
Dalam video yang Sari tunjukan dengan judul; Inikah Anak Nita Purnama?, terpampang jelas wajah Zain lengkap dengan narasi nama dan bumbu-bumbu lain yang bisa menarik simpati publik.
Narasi itu menjelaskan bahwa Nita harus menitipkan anak semata wayangnya ke saudara sepupu wanita itu sementara dia pergi ke ibu kota demi demi mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi anaknya di kampung halaman. Yang mana Edi dan keluarganya tahu bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Berita itu sama sekali tidak menyampaikan apa yang menjadi alasan Nita sesungguhnya, tidak juga siapa orang yang merawat Zain sebelum diserahkan pada sepupu Nita dan berakhir di panti asuhan.
Berita yang tidak mengungkapkan fakta itu lah yang membuat Edi geram, tak terkecuali Sari. Ditengah-tengah kedua anak dan bapak yang sibuk dengan ponsel mereka, Sari mengungkapkan pemikirannya.
“Apa sebenernya gosip ini Nita sendiri yang membuat?” monolog Sari.
Nyatanya ucapan Sari yang hampir seperti bisikan itu sampai di telinga Rafa dan membuat pria itu tertegun sejenak sampai suara Ashqar yang memanggil namanya membuat Rafa kembali pada kenyataan.
__ADS_1
“Pokoknya balik aja dulu kalau udah selesai nganter anak-anak. Dan inget, jagan kasih tahu Safira dulu.” Setelah mengatakan itu, Rafa memandang Sari penuh rasa ingin tahu. “Kenapa Ibu berpikir begitu?”
“Cuma curiga aja.”
Namun, jawaban Sari tak memuaskan Rafa. “Apa Ibu tahu sesuatu?”
Sari menunduk. “Ibu cuma pernah dengar cerita dari Rahma dan Bu Harti,” katanya dengan suara pelan.
Mendengar nama kakak perempuan dan ibu Ashqar disebut semakin menggelitik rasa penasaran Rafa. Dia sama sekali tak tahu jika Rahma dan Harti sempat berbagi cerita.
“Cerita apa?” tanya Edi.
Sari mengangkat wajah lalu menatap Rafa dan Edi bergantian. “Bu Harti pernah cerita kalau Nita beberapa kali pernah menekan Ashqar nggak lama setelah mereka bercerai. Nita juga pernah mengganggu rencana perjodohan Ashqar, cuma beliau nggak cerita detailnya, Mas. Rahma sendiri pernah bilang kalau dulu Nita terlalu sering minta uang nafkah dengan alasan untuk Zain, sebulan bisa minta dua sampai empat kali.”
“Tapi itu dulu, Bu.” Rafa menyanggah ucapan Sari dengan halus.
“Ibu bener, tapi ...,” Rafa menyimpangkan tangan di depan dada. “kayaknya dia nggak mungkin sengaja membuat gosip sendiri seperti ini sementara karirnya sedang diatas. Nggak masuk akal, Bu.”
Saat Sari akan mendebat kembali Rafa, Edi menengahi. “Sudah. Sudah. Benar atau nggak, semuanya harus kita pastikan sendiri. Ambil banyak bukti dan seret semua yang bersalah ke penjara.” Edi menatap Rafa intens. “Ke penjara ya, Rafa. Bukan ke tempat lain. Paham?”
✿✿✿
Sementara itu, Ashqar yang baru saja menerima telefon dari Rafa mendadak panas dingin. Bukan karena cuaca yang sering berubah-ubah, melainkan tatapan dari tiga orang lain di dalam mobil yang penuh rasa ingin tahu.
“Ada apa, Pah?” tanya Alvin.
__ADS_1
“Pakde ngapain telfon, Pah?” susul Zain.
“Kenapa Kak Rafa telfon, Mas?” kulik Safira.
Ashqar menelan ludah susah payah, seakan duri ikan bandeng tersangkut di kerongkongan. Membuatnya memutar otak untuk mengatasi hal itu. Dan satu hal yang pasti, Ashqar berharap mereka, terutama Safira, tidak mendengar apa yang Rafa ucapkan.
“Bukan apa-apa,” katanya setelah mendapatkan kembali ketenangan. “Pakde Rafa mau bahas masalah bisnis sama papah, makanya setelah nganter kalian ke sekolah papah diminta buat langsung pulang ke rumah Kakung.”
Mendengar penjelasan Ashqar, Alvin dan Zain memberikan respon singkat yang hampir seragam. Namun, lain halnya dengan Safira. Wanita itu menatap Ashqar sanksi.
Ashqar yang menyadari hal itu lantar mengulurkan tangan, meraih tangan kanan Safira dan meremasnya pelan.
.
.
.
✄................................................
Yahoo~
Selamat malem minggu, eperibadi 🤣
Btw, mohon maap nggak jadi double chapter soalnya outline ternyata tidak memadai wkwkk
__ADS_1
Ok, sampai jumpa Hari Senin 👋🏻