
Ashqar berdeham. “Maaf. Maaf. Papah agak ngelamun.”
“Hati-hati, Pah. Ngelamun waktu nyetir bisa mengakibatkan kecelakaan.”
Ucapan Alvin kontan membuat Ashqar terkejut, terutama saat ia menyadari jika Alvin menggunakan kata baku yang jarang digunakan anak kecil seusianya.
“Iya. Siap, Kapten.” Ashqar tertawa tipis. “Yang tadi masih butuh jawaban nggak?”
“Masih dong, Pah.”
“Kalau Alvin tanya, seratus ribu cukup atau nggak buat benerin mobil yang rusak. Jawabannya, nggak cukup. Tapi ...,” jeda Ashqar, semakin memancing rasa ingin tahu putra pertamanya. “Itu bukan soal uang, Jagoan. Jadi nggak masalah cukup atau nggak, yang mamah sama papah perlu dari Bapak Budi itu rasa tanggungjawabnya.”
Ashqar tidak mengada-ada saat menyebut Safira dan juga dirinya. Meskipun sampai saat ini ia masih terlibat perang dingin dengan istrinya, tapi sebenarnya Ashqar cukup mengerti dengan maksud tindakan Safira.
Hanya saja Ashqar tetap tidak setuju dengan cara istrinya yang terlalu blak-blakan. Tanggungjawab yang ia dan Safira inginkan adalah dua sudut pandang yang sedikit berbeda.
Alvin menepuk kaki Harsha ketika bayi mungil itu melenguh. Namun, fokusnya tetap lurus pada Ashqar. “Tanggungjawab? Alvin masih nggak ngerti, Pah. ‘Kan, bapak itu udah bikin mobil Papah rusak, tapi Mamah cuma nerima uang seratus ribu. Berarti bapak bapak itu belum tanggungjawab, dong.”
Ashqar lagi-lagi harus memutar otak. “Alvin, di dunia ini ada beberapa hal yang dinilai nggak cuma dari uang. Mamah sama papah mungkin bisa minta uang jutaan rupiah dari Pak Budi buat memperbaiki mobil yang rusak, tapi kami nggak setega itu. Dengan Pak Budi minta maaf dan ada niat mau bayar ganti rugi aja itu udah cukup.”
__ADS_1
“Tapi kalau Papah kayak gitu, kalau misal mobil rusak lagi lama-lama uang Papah habis dong.”
Ashqar meringis disela tawanya yang cukup nyaring. “Bener juga, ya.” Ashqar menyalakan lampu sein, perlahan mengarahkan mobilnya masuk ke sebuah SPBU. “Insya'allah uang papah nggak akan habis. Kalau menurut Alvin, gaji papah sama Pak Budi kira-kira besar siapa?”
Alvin mengerutkan kening, pose berpikirnya jauh berbeda dengan Zain yang terlihat lucu. Alvin justru menduplikasi gaya Rafa.
“Harusnya sih, besaran gajinya Papah.”
“Betul.” Ashqar mengarahkan telapak tangannya ke depan Alvin dan disambut dengan tos. “Jadi menurut Alvin kalau papah sama Mamah minta uang jutaan, baik apa nggak?”
“Hmm... Alvin nggak tahu. Soalnya ‘kan, Pak Budi salah jadi nggak apa-apa harusnya minta uang yang banyak.”
“Alvin bener,” kata Ashqar, tersenyum tipis. “Tapi menyelesaikan masalah selain pakai logika pikiran juga hati nurani. Jadi ada beberapa masalah yang harus diselesaiin dengan hati. Contohnya waktu temen Alvin nggak sengaja bikin buku kamu sobek. Alvin nggak minta ganti, itu kenapa?”
“Soalnya Aldi nggak punya uang. Bapaknya udah meninggal terus ibunya cuma jualan kue keliling, ‘kan kasihan kalau aku minta Aldi beli buku yang baru, Pah. Orang dia aja satu buku tulis buat dua mata pelajaran.”
Ashqar mengacak surai Alvin gemas lalu menatap matanya dengan penuh rasa bangga. “Begitu juga papah sama Mamah. Pak Budi nggak sengaja merusak mobil kita, beliau juga udah minta maaf dan sebagai manusia kadang kita juga pernah nggak sengaja melakukan kesalahan. Karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, kalau memang kesalahan orang sama kita nggak bikin kita rugi besar atau bikin kita celaka, lebih baik kita maafkan. Tapi kalau udah bikin kita celaka dan rugi besar sebaiknya dicari solusinya seadil mungkin. Paham?”
“Paham,” jawab Alvin, menganggukkan kepala. “Jadi kalau nyelesaiin masalah nggak cuma pakai otak tapi pakai hati, Gitu, ‘kan maksudnya Papah?”
__ADS_1
Ashqar hampir kehilangan kata-kata. Penjelasan panjang lebarnya disimpulkan dengan cukup mudah oleh putra pertamanya. Namun, Ashqar juga tak menampik rasa bangga akan kecerdasan Alvin.
Ashqar baru saja akan membuka mulut ketika pertanyaan Safira mendahului. “Kita dimana?”
.
.
.
✄................................................
Maapkan Jumat kemaren nggak update..
Aku sakit gigi dan maag kambuh gegara kebanyakan kopi sama pedes, nggak bisa nolak godaan terbesar itu 👉🏻👈🏻🥺
Btw, menjawab rasa penasaran kalian kakak-kakak semua 🤭
Side story Alvin insya'allah bakal aku bikin, tapi nggak dalam waktu dekat ini.
__ADS_1