Gaung Rasa

Gaung Rasa
Momen Jarang-Jarang


__ADS_3

Salah satu persamaan Zain dan Ashqar adalah tidak boleh ditolak keinginannya, terutama saat mode manjanya keluar. Dan meskipun berhasil diredam, orang sekitar harus siap dengan rencana kejutan yang keduanya lakukan.


Sama halnya dengan Safira saat ini. Meski bibirnya maju beberapa senti, maniknya memicing pada suami, tapi dia tetap menuruti keinginan pria yang sudah memberikan seorang putri cantik untuknya itu untuk mandi dan berpakaian rapi.


“Kita mau kemana sih, Mas?” tanya Safira kesekian kalinya, melirik visual suaminya dari cermin rias. Senyum Ashqar terkembang sangat lebar, dia bahkan sampai takut kalau bibir suaminya robek seperti Venom. Mengerikan.


“Pacaran.”


Safira berdecak sambil mengerling, lalu ia kembali melanjutkan menggunakan skin care rutinnya. Lagi pula, jawaban apa yang ia harapkan dari pertanyaan yang sama?


Safira berbalik. Ashqar duduk di pinggir ranjang dengan aura bunga di sekelilingnya. “Mas, seriusan. Aku mager banget,” rengek Safira.


Senyum Ashqar mendadak luntur, persis seperti anak kucing atau Zain ketika keinginannya tidak terpenuhi. “Yaang~ Aku udah ganteng loh ini.”


“Bukannya dari dulu?” Safira mengikat rambut pendeknya.


Sejak Harsha bisa menggenggam, bayi mungilnya itu akan menarik rambut panjangnya setiap kali ia menyusui dan Safira juga takut kalau ia menggendong Harhsa maka rambutnya tanpa sengaja akan masuk mulut.


Ashqar cukup kesulitan menahan senyum, maka dia berdeham beberapa kali. “Maaf, tapi gantengku emang bawaan lahir, sih.” Ashqar mengulurkan tangan sambil berkata, “Makanya kamu mau sama aku, ‘kan?”


Safira menerima uluran tangan Ashqar. Dia hendak duduk di samping suaminya, tapi tiba-tiba saja Ashqar menyentak tubuhnya dan membuatnya duduk di pangkuan pria itu.


“Mas ngapain, sih? Kalau dilihat anak-anak gimana?” protes Safira. Namun, kenyatannya dia kelihatan nyaman dalam pangkuan Ashqar.

__ADS_1


“Lupa kalau anak-anak lagi diculik?”


Safira memejamkan mata ketika Ashqar mencolek hidungnya. Dan saat ia membuka mata, wajah tampan dengan senyum tipis manis milik suaminya lah yang ia lihat. Safira bisa melihat bekas cukuran di dagu dan rahang Ashqar yang terkesan maskulin.


“Habis biasanya anak-anak jarang pergi tanpa kita.”


Ashqar mengangguk halus. “Anak-anak biasanya udah kayak permen karet kalau sama kamu,” ucapnya, mengeratkan rengkuhan di pinggang ramping Safira. “Tapi sekarang, biar suamimu ini yang gantian jadi permen karet, jangan anak-anak terus.”


Safira tergelak mendengar ucapan Ashqar, belum lagi ekspresi suaminya itu yang semakin membuat perutnya tergelitik. Tawa kecil itu mulai menular, keduanya larut dalam gelak tawa. Sampai tiba-tiba, Safira lebih dulu terdiam.


Melihat wajah istrinya tertunduk, Ashqar merasa aneh. “Yang, ada apa?” tanyanya, mencoba mengangkat wajah Safira. Namun, istrinya itu justru membuang muka dan beringsut ke pundaknya.


“Sayang? Kamu baik-baik aja?” ulang Ashqar.


Perubahan Safira yang seperti roller coaster membuat Ashqar kebingungan. Apa istrinya sedang PMS?


Ashqar mengusap kepala belakang istrinya. “Sayang. Mamah Fira, ada apa? Aku nggak ngerti kalau kamu diem aja, Yang.”


Safira tidak langsung menjawab dan Ashqar sabar menunggu. Hanya saja benak pria itu jadi dipenuhi banyak pertanyaan tentang alasan istrinya bersikap demikian.


“Gosip,” cicit Safira.


Meskipun begitu, Ashqar bisa mendengar dengan jelas ucapan Safira dan dia dengan cepat mengetahui benar apa yang sedang menggelayuti benak istrinya. Gosip tentang Nita dan foto dirinya yang terus menjadi pemberitaan belakangan ini ia pikir tidak akan mengganggu Safira, tapi ternyata Ashqar salah.

__ADS_1


Ashqar tersenyum mengejek, untuk dirinya dan pikiran dangkalnya. Helaan napas dalam Ashqar lakukan, otaknya berputar cepat untuk menyusun kalimat. Dia harus hati-hati dalam berbicara pada Safira terlebih istrinya itu terlihat sensitif.


“Apa yang bikin kamu risau, Yang?” tanya Ashqar, mengangkat wajah Safira lembut lalu menatap matanya dalam. “Tolong kasih tahu aku.”


Safira melirik ke arah lain. “Emangnya Mas nggak merasa khawatir? Nggak merasa risau dengan gosip-gosip itu?”


Pertanyaan Safira dengan suara lirih mengusik batin Ashqar. “Tentu, aku tentu khawatir dengan pemberitaan itu.”


“Tapi selama ini Mas nggak kelihatan begitu. Mas bersikap baik-baik aja.”


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Balik lagi~


dan sampai ketemu Hari Jumat 😘

__ADS_1


__ADS_2