
Tak ada yang bisa Ashqar tambahkan pada penampilannya. Harus diakui bahwa memang pria itu terlahir dengan ketampanan diatas rata-rata, jadi hampir setiap kain yang membalut tubuhnya akan terlihat luar biasa dimata orang lain. Pemikiran seperti itu rasanya akan pas jika Rafa yang melakukannya, tapi tidak dengan Ashqar.
Walau dianugerahi ketampanan dan tubuh atletis, hasil dari olahraga berat tentu saja, nyatanya tak membuat Ashqar puas dengan penampilannya. Pria itu sudah berdiri di depan cermin selama lima belas menit setelah tiga kali berganti pakaian, dua kali bersisir dan menggunakan gel rambut. Namun, entah bagaimana hal itu tak membuat rasa percaya diri Ashqar sebaik biasanya.
“Kamu harus tampil sebaik mungkin, Kar. Kasih tunjuk satu Indonesia kalau Safira nggak butuh belas kasihan mereka karena hal itu memang nggak perlu. Pokoknya kamu nggak boleh malu-maluin.”
Semua karena ucapan sialan Rafa siang tadi sepulang dari pertemuan mereka dengan pihak manajemen Nita. Iparnya itu seakan dengan sengaja memberikan beban baru kepundaknya, seolah-olah citra Safira –lah yang jadi jaminan atas penampilannya kalau sampai ia tidak terlihat memuaskan.
“Ah! Wedus elek!”¹ maki Ashqar, mengacak rambut rapihnya dan melonggarkan ikatan dasi.
Pada akhirnya Ashqar menyerah. Dia tak sanggup untuk berhadapan dengan bayangannya lebih lama lagi dan lebih tidak sanggup lagi kalau harus kembali berganti pakaian. Sempat terlintas dibenaknya untuk meminta saran Rafa, tapi dia terlalu gengsi untuk itu.
“Masa bodoh, lah.” Ashqar mendengus kasar lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sembari sudut matanya melirik jam di dinding.
Masih tersisa lebih dari dua jam lagi sebelum acara konverensi pers dimulai dan itu bisa dilakukan tak lain dan tak bukan karena berkat lidah perak kuasa hukum Rafa. Masih jelas diingatannya bagaimana wajah-wajah tak ramah dari orang-orang manajemen Nita saat pertama kali mereka bertemu. Sejujurnya, selain manager, Ashqar tidak mengenali orang-orang yang bersama Nita.
__ADS_1
Namun, ekspresi tak bersahabat itu seketika berubah saat kuasa hukum Rafa, Robi Simanjuntak, menyodorkan sejumlah bukti bahwa seseorang dari managemen Nita dengan sengaja memberikan berita buatan mereka agar merubah citra aktris itu dimata publik. Untungnya, berita itu belum sempat diterbitkan atau lebih tepatnya karena Rafa bertindak selangkah lebih cepat dengan menemui Handoko.
Hal lain yang membuat Ashqar kaget adalah bahwa isi berita itu sangat menyudutkannya juga Safira, dengan membeberkan bahwa perpisahannya dan Nita adalah karena pihak ketiga dan Safira sengaja menjauhkan Nita dan Zain. Tak jauh berbeda dengan Ashqar, Nita pun menampakan ekspresi yang sama. Wanita itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, menatap gamang pada salinan artikel di atas meja.
“Apa? Bagaimana artikel ….” Kemudian pengertian melanda Nita dan ia menyumpah pelan. “Itu kenapa abang kemarin tanya-tanya aku tentang―Kok, abang tega, sih?”
Heru menghindari kontak mata dengan Nita dan memilih membalas tatapan Roby. “Bagaimana anda bisa mendapatkan sampah-sampah ini sebagai bukti?”
Rafa tergelak. “Sampah dan tempatnya, bukannya cocok?” sindirnya, menyandarkan punggung dikepala kursi sambil menatap empat orang dihadapannya dengan remeh. “Setelah bukti kejahatan terungkap, biasanya si penjahat akan ketar-ketir. Bukan begitu, Pak Roby?”
Setelah dua orang pelayan laki-laki dengan pakaian formal menyajikan makanan pembuka lalu pamit undur diri, suasana belum sepenuhnya mencair. Mereka makan dalam keheningan, sibuk dengan garpu dan sepotong kecil quiche lorraine bayam.
“Langsung aja Pak Ashqar,” ucap Siska, menyudahi kebisuan setelah beberapa menit berlalu. “Saya sudah cukup dengan basa-basinya. Jadi apa yang anda harapkan dengan membawa pengacara juga ...,” ucapnya, sengaja diberikan jeda sambil menatap Rafa penuh selidik. “orang luar?”
Rafa tersenyum. “Oh, saya sepertinya lupa memperkenalkan diri.” Rafa dengan anggun menaruh peralatan makan di samping piring. “Saya saudara ipar Ashqar dan saya bukan orang luar.”
__ADS_1
Mendengar hal itu Siska refleks menoleh kearah Heru. Sebelumnya manager Nita itu hanya memberitahu bahwa mantan suami Nita meminta untuk bertemu, yang awalnya tentu saja ia tolak mentah-mentah. Namun, setelah nama Handoko disebut dalam obrolan mereka, Siska langsung berubah pikiran. Wanita itu penasaran pada sosok Ashqar yang berhasil mendapat bantuan besar dari pemilik dan pemegang saham terbesar Royal Entertaiment.
Ashqar berdeham dan mengirim sinyal pada Rafa lewat lirikan mata. “Karena anda sepertinya ingin langsung keintinya, jadi saya akan berterus terang.” Ashqar menarik napas dalam lalu kembali berkata, “Saya ingin anda dan managemen anda membuat konferensi pers hari ini juga untuk meluruskan berita yang belakangan beredar mengenai Nita dan keluarga saya. Saya mau Royal Managemen kooperatif menyelesaikan masalah ini tanpa embel-embel ingin mencari keuntungan dengan menjatuhkan orang lain.”
Kalimat terakhir yang Ashqar ucapan lugas, seakan mengirim sinyal lain pada si mantan istri yang terdiam tertunduk. Dan jelas, permintaan Ashqar dinilai tak masuk akal oleh Siska dan Bram. Sebagai seseorang yang sudah bertahun-tahun berkecimbung dalam dunia hiburan, mengadakan konferensi pers dengan Ashqar dan Nita sebagai objek utama berita bukanlah hal yang baik. Karena setelah itu media akan mulai menyoroti masa lalu Nita dan hal itu tidak akan baik untuk artis naungannya, pemberitaan sudah pasti akan semakin merugikan karier Nita.
.
.
.
✄................................................
Pojok Diksi :
__ADS_1
¹“Ah! Kambing jelek!”