Gaung Rasa

Gaung Rasa
Positif


__ADS_3

Ashqar sudah menyiapkan mental untuk segala kemungkinan yang bisa ia prediksikan, termasuk kalau-kalau Safira kembali menabuh genderang permusuhan. Sepanjang langkah menuju ruang spesialis kandungan, Ashqar melangkah dengan menyimpan antisipasi di benaknya.


Namun, sampai mereka berada di depan pintu ruang spesialis kandungan, Safira tetap membisu dan tenang, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa istrinya akan “mengamuk”. Sampai akhirnya mereka masuk, bertemu dengan seorang dokter laki-laki berusia dipertengahan 40 tahunan, Safira mulai bereaksi.


“Mas, ini ruangan apa?” tanya Safira berbisik, memperhatikan dua orang perawat perempuan sibuk mempersiapkan peralatan. Dia merasa tak asing dengan poster-poster di dinding dan alat medis di dalam ruangan.


Ashqar menurunkan pandangan. Dari posisinya berdiri, ia tak bisa memandang wajah Safira. Namun, Ashqar yakin saat ini istrinya sedang bingung. Entah apa yang ada di dalam benak Safira, beberapa kali Ashqar mencuri pandang dari pantulan kaca di koridor lantai empat atau dinding lift, Safira terlihat merenung. Mungkin itu sebabnya Safira tak menyadari dimana mereka berada saat ini.


“Ruang pemeriksaan, Sayang,” bisik Ashqar, mengusap pundak Safira. “Kamu gugup?”


Safira berdengung, tak tahu harus mengatakan apa. Kerja otaknya mendadak melambat. Jadi saat seorang perawat perempuan memintanya untuk berpindah ke atas ranjang pemeriksaan, dia menoleh pada Ashqar.


Senyum tipis terukir manis di wajah tampan Ashqar yang diam-diam menyimpan gurat lelah, ia menyodorkan telapak tangannya. “Mau dibantu?”


Safira mengangguk, menerima uluran tangan Ashqar dan membiarkan suaminya menuntun untuk berbaring di atas ranjang. Tak lama setelahnya dokter dengan tag name—Feri Kurniawan, di dada kanan, menghampiri Safira.


Dokter Feri menanyakan beberapa pertanyaan klise sambil melakukan pemeriksaan awal, kemudian dokter laki-laki itu menatap Ashqar sambil mengatakan akan memeriksa lebih lanjut dengan bantuan USG.

__ADS_1


Mendengar kata USG, Safira kontan menoleh pada Ashqar yang hanya melemparkan senyum tipis padanya. Dia mulai menarik kesimpulan bahwa dirinya saat ini diperiksa oleh dokter kandungan. Dan pertanyaannya adalah, kenapa? Apakah ini ada hubungannya dengan insiden kemarin?


“Sudah selesai. Suster, tolong Ibu Safira dibantu,” ucap Dokter Feri melepas sarung tangannya lalu berbalik memandang Ashqar. “Pak Ashqar, silahkan duduk dulu.”


Ashqar terkesiap. Dia kemudian mengambil tempat di seberang meja Dokter Feri setelah membantu Safira untuk kembali ke kursi rodanya.


“Jadi gimana, Dok?” tanya Ashqar langsung.


Dokter Feri menyodorkan foto hasil USG yang diserahkan oleh seorang perawat kehadapan Ashqar. “Hasilnya positif. Selamat untuk anda berdua,” katanya dengan senyum lebar yang terlihat tulus. Lalu Dokter Feri juga menjelaskan beberapa hal medis terkait keadaan calon bayi pasangan Baswara itu.


“Positif? Maksudnya?” tanya Safira kebingungan saat berhasil mendapatkan fokusnya.


“Ibu Safira, saat ini anda sedang mengandung.” Dokter Feri memberikan foto USG lainnya kepada Safira. “Usia kandungannya kemungkinan masuk minggu kelima.”


Safira terdiam. Ekspresinya dengan jelas menunjukkan keterkejutan hebat hingga bibirnya yang sudah terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu, tak bersuara sama sekali. Dan melihat hal itu, Ashqar segera merangkul pundak Safira.


“Tapi keadaan istri dan calon anak kami baik-baik aja ‘kan, Dok? Kemarin istri saya jatuh di teras rumah, apa itu mempengaruhi kesehatan keduanya?”

__ADS_1


“Dua-duanya baik-baik aja, Pak. Saya resepkan beberapa vitamin untuk Ibu Safira, ini diminum rutin selama seminggu kemudian Bapak dan Ibu bisa datang lagi untuk pemeriksaan selanjutnya,” terang Dokter Feri, menuliskan sesuatu di atas memo.


“Ada yang mau saya tanyakan juga, Dok,” ucap Ashqar. “Ini kehamilan kedua istri saya dan yang pertama baru lahir kurang lebih lima bulanan yang lalu.”


“Kesundulan berarti ya, Pak?”


Tanggapan santai dokter di hadapannya membuat Ashqar bingung sendiri, terlebih kedua suster juga memberikan reaksi yang tak jauh berbeda, tertawa kecil kearahnya. Padahal menurutnya ini adalah masalah serius, Ashqar takut bahwa kehamilan kedua Safira yang tak terduga ini bisa membahayakan kesehatan istrinya.


Namun, penjelasan Dokter Feri membuat Ashqar lebih tenang. Meski setelahnya Ashqar kembali menanyakan beberapa pertanyaan-pertanyaan lain yang sepertinya membuat dokter spesialis tersebut sedikit kerepotan.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung~


Selamat Hari Senin, mari bekerja keras 😌


__ADS_2