Gaung Rasa

Gaung Rasa
Keduanya Sama Saja


__ADS_3

Bola mata Ashqar hampir loncat dari tempatnya. Untuk beberapa saat dia bahkan lupa berkedip, memelototi Rafa yang dengan santai memejamkan mata dan bersedekap seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya. Dan Ashqar tidak bisa menahan diri untuk tidak menyumpah.


“Sialan,” katanya, meninju lengan Rafa. “Kamu tahu tabiat Safira kayak apa dan aku udah susah payah ngebujuk dia, tapi kamu malah ngomong sembarangan.”


“Aku acungin jempol buat kamu yang sabar ngadepin Fira. Kalau aku sih, nggak.” Rafa mengeluarkan ponsel dan mulai sibuk dengan benda pipih itu. “Nggak usah khawatir, anak itu nggak akan lama marahnya. Ngomong-ngomong, aku bakal minta bapak memperketat keamanan. Setelah kejadian Alvin dan Zain, juga berita yang keluar hari ini, aku yakin wartawan bakal mulai cari berita secara langsung.”


“Tapi nggak usah berlebihan. Mereka bukan anak presiden jadi jangan terlalu mencolok.”


Pada akhirnya Ashqar hanya bisa pasrah menerima konsekuensi atas tindakan Rafa yang seenaknya. Mungkin nanti ia bisa membujuk Safira lagi, tapi akan lebih baik jika istrinya itu sudah melupakan kekesalannya. Semoga saja.


Terlepas dari kemarahan Safira, ada hal lain yang terus mengusik ketenangan Ashqar dan menghantui pikirannya. Yaitu mengenai apa yang Rafa coba lakukan, ia sama sekali tidak tahu apa yang saat ini tengah Rafa rencanakan. Setelah menemui Handoko, yang Ashqar yakini sebagai orang penting dalam managemen Nita, Rafa kembali mengajaknya pergi kesuatu tempat.


“Kita mau kemana?” tanya Ashqar pada akhirnya.


Rafa tak langsung menjawab, ia masih sibuk dengan ponsel ditangan. “Ada lah,” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


“Rafa, kita mau kemana?” Ashqar mengulangi dan kali ini nada suaranya berubah dingin.


Rafa yang menyadari perubahan itu mengalihkan atensinya. Dia menatap Ashqar dengan tatapan yang sulit ditebak. “Kenapa?”


“Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?”


Rafa tersenyum miring. “Kenapa kamu mau tahu? Bukannya selama ini kamu nggak banyak tanya dan nerima beresnya aja?”

__ADS_1


Ashqar mengeraskan rahang dan ekspresinya semakin dingin. Sebilah pisau menancap tepat di jantungnya, tapi yang terluka bukan hanya hati melainkan harga diri. Dia selalu menekan gengsi, menempatkan logika setinggi mungkin dan mengingatkan dirinya sendiri jika ia memang tak seberapa jika dibandingkan kekuatan koneksi Rafa dan Keluarga Sumarno. Namun, bukan berarti Rafa bisa menginjaknya serendah ini.


Ashqar mendengus. “Apa itu yang selama ini kamu pikirkan?” ungkapnya. “Aku tahu dimana harus menempatkan diri. Dibandingkan dengan kamu, aku memang nggak ada apa-apanya. Tapi bukan berarti aku lepas tangan dan hanya mengandalkan bantuan kamu atau bapak, aku melakukan yang terbaik buat Safira dan juga keluargaku sendiri.”


“Yang terbaik?” Rafa mengalihkan wajah dengan senyum mencemooh diwajahnya. “Kalau kamu melakukan yang terbaik, berhasil mencegah hal ini menjadi semakin besar, maka kamu atau Safira atau anak-anak kalian nggak harus ada diposisi seperti sekarang ini.”


“Picik. Kamu tahu aku atau siapapun nggak akan ada yang bisa mengendalikan pikiran dan tindakan orang lain, kalaupun ada, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan? Apalagi ini berhubungan dengan dunia hiburan, satu berita aja bisa jadi cuan.”


Rafa kembali menatap wajah Ashqar, tepat dimatanya. “Bagus kalau kamu tahu hal itu. Terus kenapa selama ini kamu cuma diam? Kamu sadar kalau kamu nggak seberapa dibandingkan aku atau bapak, jadi kenapa kamu nggak cepet menghubungi aku buat menyelesaikan masalah ini? Kebiasaan.”


Ashqar berkedip, seketika ia kehilangan kata-kata. Otaknya berusaha keras untuk mencerna ucapan Rafa. Itu adalah sindiran keras, tetapi Ashqar merasa ada yang lain dari ucapan iparnya itu.


“Apa ... maksud kamu sebenarnya?” tanya Ashqar.


“Nggak. Aku nggak tahu.”


Rafa berdecak keras. “Telek! Pikiren dewe wae.”¹


Kemudian keheningan melanda keduanya. Untuk beberapa saat pasangan ipar itu tenggelam dalam pemikiran dalam mereka, hal yang bias perlahan jelas. Namun, tidak mudah saling terbuka dan gamblang. Karena mereka lelaki dan selalu ada keterbatasan dimana hal yang mudah terkadang menjadi sulit.


“Aku nggak bisa selalu mengandalkan orang lain buat menyelesaikan masalah pribadi,” ucap Ashqar memecah keheningan.


“Tapi aku bukan orang lain,” jawab Rafa cepat, nada suaranya terdengar sumbang. “Jangan munafik, Ashqar. Di dunia ini, banyak hal yang nggak bisa diselesaikan hanya dengan niat baik dan usaha yang jujur. Kalau kamu punya seseorang dengan koneksi atau jabatan, gunakan mereka sebaik mungkin. Kalau bukan untuk kekayaan dan pangkat, paling nggak sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah.”

__ADS_1


“Dan Safira bakal membenciku kalau sampai tahu aku melakukan hal itu.”


“Kalau gitu jangan sampai dia tahu.” Rafa menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, menyamankan diri. “Hidupnya penuh luka, banyak hal sulit yang udah dia alami. Apalagi bapak sempat mengiming-imingi dia dengan kehidupan mewah, juga mendiang Eyang Prapti yang memandangnya sebelah mata. Jadi bukan salahnya kalau dia punya prinsip hidup yang keras.”


Ashqar sangat mengerti hal itu. Masa lalu istrinya tidak mudah dan ia tidak akan mengerti dengan jelas bagaimana berada diposisinya. Itu sebabnya ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak memberikan beban pada Safira kecuali urusan rumah tangga dan merawat anak. Dengan cara berpikir Safira yang spontan, ia takut hal itu akan menyakiti istrinya dan meninggalkan trauma lain.


“Malah ngelamun.”


Tinjuan ringan di lengannya menyentak Ashqar dari lamunan dan dia linglung beberapa detik. Sampai satu tarikan napas panjang dan Ashqar mendapatkan pengendalian dirinya kembali.


“Aku paham maksud kamu. Aku harap nggak ada masalah seperti ini lagi kedepannya, tapi kalau memang dibutuhkan ... kamu pasti bakal tahu.”


Rafa tersenyum tipis. “Sampai kapanpun, Safira akan tetap jadi adik kesayanganku. Mungkin kamu bakal terusik karena hal ini, tapi aku nggak akan bisa menahan diri terlalu lama buat nggak ikut campur urusan kalian kalau memang hal itu membahayakan Safira.”


.


.


.


✄................................................


Pojok Kata :

__ADS_1


¹Ta*! Pikir aja sendiri.


__ADS_2