Gaung Rasa

Gaung Rasa
Epilog : Satu


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Safira dan Ashqar mendapatkan kembali kedamaian dalam rumah tangga mereka. Ashqar tetap dan semakin sibuk dengan pekerjaan, membereskan sisa masalah pendistribusian telur yang terlambat karena truk pengangkut barang terguling saat mengantarkan barang.


Alvin dan Zain kembali pada keseharian menyenangkan mereka dengan sekolah dan bermain. Sementara Safira dalam kondisi pemulihan pasca tindakan kuret, sebuah kehilangan besar bagi keluarga kecil mereka yang berusaha Safira ikhlaskan dengan lapang.


Sesekali saat melihat wajah terlelap Harsha, Safira kembali dirundung kesedihan. Pasalnya, wanita itu sering mengajak calon buah hatinya berbicara saat Harsha terlelap, melantunkan harapan agar lahir dengan sehat dan menjadi pelengkap keluarga kecilnya. Namun, ternyata takdir Tuhan berkata lain dari harapan yang Safira pupuk.


“Mamah!”


Suara nyaring dari depan rumah mengagetkan Safira dan mengembalikannya dari lamunan. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya dan senyum itu semakin merekah saat indra pengelihatannya menangkap visual Zain yang berdiri di depan pintu kamar.


“Assalamu’alaikum, mamahnya Zain yang cantik.” Zain melangkah masuk sembari melepaskan tas dan kaus kaki ke sembarang arah. “Zain kangen mamah, deh. Mamah kangen sama Zain nggak?”


Putra tengah Pasangan Baswara itu langsung melompat ke atas kasur dengan Mbak Jum di belakang, memunguti barang-barang yang Zain lemparkan.


“Wa’alaikummussalam. Mamah juga kangen sama Zain.” Safira duduk bersila di atas ranjang, membuka kedua lengannya selebar mungkin dan menangkap tubuh mungil Zain ke dalam pelukannya. “Maaf ya, mbak,” bisiknya pada Mbak Jum.


“Nggak apa-apa, bu.”


Setelah Mbak Jum menarik diri dari kamar, Safira lalu menatap wajah Zain yang masih tersemat senyum manis lekat-lekat. “Mas Zain,” panggilnya dengan suara lembut.


“Iya, mah.”


“Tadi belajar apa di sekolah?”

__ADS_1


Zain menegakan punggung, memiringkan wajah dengan ekspresi berpikir yang menggemaskan. Suara berdengung keluar dari bibir tipis bersamaan dagu yang ditopang telapak tangan mungilnya.


“Belajar pruit sama lagu buah-buahan, mah. Terus belajar bikin angsa sama kelinci dari kertas warna-warni.”


Safira mengulurkan tangan, membelai surai Zain. “Pruit? Nama-nama buah dalam Bahasa Inggris?” tanyanya, dijawab dengan anggukan penuh semangat oleh Zain. “Mas Zain udah hafal?”


Zain meringis sambil menggeleng. “Belum semua, tapi Zain tahu apel,oren, grep sama ... water ... lupa lagi, mah.”


Zain tersenyum lebar hingga membuat deretan giginya terpampang. Dia juga tertawa renyah dan memasang ekspresi malu-malu. Melihat itu Safira tak bisa menahan diri untuk mencubit kedua pipi Zain.


“Anak mamah pinter banget, sih. Nggak apa-apa kalau Mas Zain nggak langsung hafal, yang penting Mas Zain mengerti apa yang ibu dan bapak guru ajarkan. Paham?”


“Iya, mah. Zain paham,” katanya. “Mamah ... Zain laper,” ucap Zain, berbisik di kalimat terakhir.


“Kalau gitu Mas Zain sekarang ganti baju terus ke dapur minta tolong Bi Jum ambilin makan, ya?” titah Safira yang langsung diamini Zain.


Masih segar dalam ingatan saat dokter mengatakan jika bayinya berhenti berkembang dan kemungkinan terbesar sudah meninggal dunia di dalam kandungan. Calon putrinya yang baru berusia dua puluh minggu harus dilahirkan secara paksa karena kecerobohannya.


Safira terpeleset di kamar mandi, mengalami pendarahan ringan, tapi saat diperiksa keadaan bayinya masih baik-baik saja. Kamudian setelah dua hari berlalu Safira merasakan kontraksi, hanya saja perempuan itu mengabaikannya beberapa kali. Sampai akhirnya dua hari setelahnya Safira tak lagi merasakan pergerakan dari bayi dalam kandungannya.


Hingga akhirnya kabar buruk itu harus ia dan Ashqar dengar, dokter menyarankan untuk mengelurkan janin itu segera atau kalau tidak akan berbahaya bagi keselamatan Safira. Namun, Safira dengan cepat memberikan penolakan. Naluri sebagai seorang ibu membuat Safira menolak menyerah atas darah dagingnya sendiri, tapi lagi-lagi Ashqar berhasil menghancurkan batu dalam kepalanya. Pria itu melantunkan kalimat-kalimat lembut, janji-janji Tuhan akan surga bagi putri mereka yang membuat Safira akhirnya rela melepaskan harapan terhadap anak yang tak sempat ia lahirkan dengan selamat.


“Mamah.”

__ADS_1


Panggilan Zain sekali lagi membuyarkan lamunan Safira.


“Mamah udah makan?”


Safira berkedip lalu menggeleng halus. “Belum, nanti mamah makan kalau udah jam dua belas.”


Zain mengulum bibir. Anak itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi urung diutarakan. Zain mengangguk lalu bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Safira yang kembali tenggelam dalam kesendirian dan lamunannya.


.


.


.


✄................................................


Bersambung..


Nara Corner :


Hi, apa kabar semuanya?


Long time no see 👋🏻

__ADS_1


Semoga kalian semua dalam keadaan baik-baik aja, yang lagi nggak baik semoga segera membaik, aamiin~


Btw, cerita ini aku tulis dari akhir Juli, tapi baru bisa aku update sekarang setelah pertimbangan panjang, padahal beberapa minggu lagu ada yang DM juga dan aku janjiin update disini 😁🤭 Maapkan 🤧


__ADS_2