
Sudah lewat tengah hari saat Ashqar sibuk dengan telur-telur puyuh yang siap panen untuk disortir. Pria itu memeriksa catatan dan keranjang, mencocokan data yang tercatat disana ditemani seorang karyawan kepercayaannya.
“Bang, hasil telur hari ini kayaknya lebih sedikit dari kemarin, ya?” katanya, membuka lembaran laporan di tangan.
Bambang―karyawan yang sudah bekerja dengan Ashqar lebih dari dua tahun, segera menempatkan diri disamping Ashqar. “Iya, pak. Sepuluh kandang udah mulai mendekati masa afkir.”
“Kurang berapa bulan?”
“Tiga bulan, pak.”
Ashqar mengambil segenggam telur. Beberapa telur memiliki bentuk lebih kecil dan lebih bulat dari yang lainnya. Mungkin telur-telur inilah yang menjadi hasil dari indukan mendekati masa afkir.
“Hasil dari kandang bibit gimana?” tanya Ashqar, menaruh kembali telur dan berjalan memeriksa keranjang-keranjang yang lain.
“Baik, pak. Bulan ini hasil bibit masih kita kirim untuk peternak-peternak yang lain yang sudah pesan, bulan berikutnya difokuskan untuk persiapan regenerasi petelur lama.”
Ashqar mengangguk, merasa puas dengan laporan yang diberikan Bambang. Sesekali ia melihat kandang-kandang puyuh yang bertumpuk dan berjejer rapih memenuhi ruangan dengan luas tanah 60 m². Ini adalah salah satu ruang telur dan ia memiliki tiga lagi dengan ukuran yang berbeda.
__ADS_1
Ashqar bersyukur dalam hati, kian hari usahanya kian besar. Sepertinya benar apa yang dikatakan banyak orang, menikah membuka banyak pintu rezeki. Walau itu tak begitu tepat dipernikahan pertamanya, tapi tidak dengan pernikahannya yang sekarang. Tentu saja rezekinya adalah bagian istri dan anak-anaknya yang Tuhan titipkan melalui kerja kerasnya.
“Laporan hari ini direkap seperti biasanya ya, Bang. Hati-hati juga jangan sampai ada kesalahan kayak sebelumnya,” kata Ashqar, menyerahkan laporan harian. “Terus perhatikan pengemasan telur-telur, kemarin saya dapat komplen dari Pak Haji Basuki langsung katanya ada beberapa telur yang pecah.”
Bambang mengerutkan kening. “Pasar Nglano, pak?” tanyanya, disambut gumaman halus dari Ashqar. “Tapi setiap kita nurunin barang pasti kita cek ulang, pak. Jadi nggak mungkin kita nggak tahu kalau ada barang rusak, atau kemungkinan rusaknya waktu disimpan di toko.”
Ashqar berhenti melangkah lalu berbalik menghadap Bambang. “Bang,” panggilnya, menyentuh pundak laki-laki yang empat tahun lebih muda darinya. “Saya minta kamu lebih hati-hati waktu pengemasan telur.”
Setelah mengatakan itu Ashqar berlalu pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Bambang yang terpaku menyesali ucapannya sendiri. Nada suara Ashqar dingin, membuat rambut-rambut halus di tengkuk Bambang meremang.
Sementara itu, Ashqar membanting diri di sofa ruang kerjanya, berbaring berhadapan langsung dengan langit-langit ruangan. Ashqar memejamkan mata, napasnya terdengar berat dan lelah.
Sudah sejak pagi Ashqar berusaha fokus pada pekerjaan, tapi sulit rasanya untuk berpaling dari kejadian semalam. Kepergian Hendra benar-benar menjadi tanda tanya besar yang entah kepada siapa Ashqar meminta jawabannya. Meskipun sebenarnya ia memiliki dua kandidat besar untuk ditanyai. Edi dan Rafa.
Ashqar melipat lengan dan menutupi wajahnya. “Kalau tanya Rafa, bisa rame gara-gara waktu itu kayaknya dia mergokin aku nguping. Kalau tanya bapak ... mending nggak, deh. Daripada panjang urusannya,” gumam Ashqar.
Pening menghantam kepala Ashqar. Dia kurang tidur, banyak pikiran dan tidak menemukan solusi. Benar-benar paket komplit untuk merusak daya tahan tubuh.
__ADS_1
Ashqar menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, bersamaan dengan itu ia menurunkan lengan dari wajah dan membuka kelopak mata. Ashqar meringis saat pening yang lebih tajam menyerang. Lalu tepat ketika Ashqar ingin bangun dari berbaring, ponselnya berdering dengan keras.
Ashqar merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Dengan menyipitkan mata Ashqar samar-samar melihat layar ponselnya dan nama perlak tertera disana. “Pucuk dicinta ulam pun tiba,” bisik Ashqar.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Bersambung~
Sampai jumpa besok 👋🏻😘
__ADS_1