Gaung Rasa

Gaung Rasa
Netra


__ADS_3

No explanation, no excusse.


Selamat membaca dan disarankan membaca satu-dua bab sebelumnya.


﹏﹏﹏﹏。:゚nara゚:。﹏﹏﹏﹏


Tentu ada alasan mengapa kebanyakan orang tidak suka menunggu, baik untuk kehadiran, kabar atau kepastian. Harapan dan asumsi yang bergandengan membuat hati tak tenang. Seperti yang saat ini Safira rasakan.


Safira tak berhenti meremas jari-jarinya, sesekali menggigit kuku ibu jari dan sesekali berdecak sambil terus memperhatikan daun pintu. Wajahnya mengekspresikan dengan jelas harapan agar pintu itu terbuka dari luar. Namun, setelah lebih dari setengah jam, hal itu tidak juga terjadi.


“Mamah, dua ditambah empat itu enam, ‘kan?” tanya Zain, menggerak-gerakkan jari.


Tangan kanannya melipat tiga jari sementara tangan kirinya mengepal dan membuka buku-buku jari sambil berhitung. Kemudian saat pertanyaannya tak mendapat jawaban, Zain kembali menanyakan hal yang sama. Namun, lagi-lagi bocah itu tak mendapat jawaban.


“Mamah!” sungutnya, menarik menggoyangkan kaki Safira.


Safira yang tersentak segera mengalihkan pandangan. Zain sudah merengut, alisnya hampir menyatu dengan mata yang memincing.


Safira secara natural menyunggingkan senyum tipis, meminta maaf lalu meminta Zain mengulang ucapannya. Kemudian suasana kembali hening setelahnya, Zain kembali pada soal-soal matematika yang menjadi pekerjaan rumah dan Safira kembali memandangi pintu.


Dia telah dipaksa pulang, tidak diizinkan untuk pergi ke sekolah Alvin oleh Sari dan hal itu membuat Safira kesal sekaligus khawatir. Namun, itu bukan apa-apa jika mengingat ternyata ia tak lupa menaruh ponsel atau benda pipih itu tiba-tiba raib entah kemana, tetapi sengaja disembunyikan Sari.


Safira menarik napas dalam sambil menyandarkan punggung pada kepala sofa saat perdebatannya dengan Sari mampir diingatan.


Seseorang tidak harus menjadi pintar hanya untuk mengenali nada dering ponselnya sendiri. Jadi saat dering Nokia memenuhi mobil, Safira langsung mengenali jika itu berasal dari ponsel miliknya.


“Itu ... HP—”


Belum sempat Safira menyelesaikan perkataan, Sari sudah lebih dulu keluar dari mobil dan meminta supir untuk mengunci pintunya. Dia sempat memberontak, tapi segera berhenti saat supir mengingatkan jika orang lain akan berpikir bahwa ia adalah korban kejahatan dan bisa menimbulkan masalah. Pada akhirnya, Safira memilih mengalah.


Beberapa menit kemudian, Sari kembali masuk kedalam mobil dan suasana tidak sedamai sebelumnya.

__ADS_1


“Kenapa HP ku bisa ada di ibu?” todong Safira saat Sari baru saja duduk. “Aku minta HP ku balik.”


Sari terdiam, mengatur napas lalu berkata dengan pelan, “Kamu tunggu Zain pulang, ibu ada urusan.”


“Urusan apa?” sambar Safira, menahan lengan Sari. “Tadi telfon dari siapa?”


“Bukan siapa-siapa.”


Safira tampak tidak puas. “Bukan siapa-siapa apanya?” Safira tanpa sadar meninggikan nada suara dan mencengkram lengan Sari lebih kuat. “Telfon yang ibu angkat tadi jelas jelas dari HP ku, udah pasti itu sebenernya urusanku.”


Sari terdiam kemudian segera melepaskan diri dari cekalan Safira dan berlalu menuju mobil lain di belakang mobil mereka tanpa mengatakan apapun. Mobil sedan yang sebelumnya Safira kendarai itu langsung melaju tanpa mempedulikan panggilan Safira.


“Dasar mantan nenek lampir,” bisik Safira, tanpa sadar ia meremas jari terlalu kuat hingga kukunya menyakiti telapak tangan.


“Ada apa, Mah?”


Safira refleks menoleh. Tatapan polos penuh rasa ingin tahu Zain membuatnya kembali dari lamunan. Safira hampir menarik kedua sudut bibirnya sampai tanpa sadar logika sialannya menampar dengan kenyataan bahwa manik itu adalah duplikat Nita, yang entah bagaimana juga terlihat mirip dengannya.


“Iya, Sayang,” jawabnya cepat. “Mamah ngantuk.”


“Kalau ngantuk mamah bobok aja.” Manik Zain berbinar lebih cerah. “Yuk! Zain temenin mamah, yuk.”


Safira mau tak mau mengulum senyum saat menyadari modus putranya. “Pinter,” ucapnya gemas, menjawil hidung Zain. “Selesaiin dulu tugas sekolahnya.”


“Yaah. Mamah nggak asik.”


Protes kecil Zain kembali membuat Safira mengulum senyum. Tingkah dan pemikiran polos Zain tanpa sadar membuat suasana hatinya sedikit membaik.


“Zain emang mewarisi mata Nita, tapi matanya itu juga persis seperti punyaku. Aku nggak seharusnya merasa terganggu karena hal itu,” batin Safira.


Safira melirik Zain yang kembali berhadapan dengan buku sekolahnya. Walau terlihat enggan, tapi anak itu tetap menggerakan jari-jari untuk berhitung dan menulis. Lalu Safira merasa tergerak untuk menanyakan satu hal.

__ADS_1


“Zain. Zain sayang nggak sama mamah?”


“Sayang.”


Safira tersenyum tipis. “Sayangnya segimana?”


Zain berdengung, memiringkan kepala lalu melirik Safira dengan eskpresi lucu. “Se ... gini,” katanya membuka lengan lebar. “Eh! Nggak. Sedunia, sama matahari sama bulan sama bintang, pokoknya banyak. Zain sayang mamah banyak-banyak.”


“Banyak banget. Mamah nggak bisa ngitungnya, dong.”


“Nggak usah dihitung, Mah.”


“Terus diapain, dong?”


Zain melebarkan senyum hingga deretan giginya terlihat. Kemudian dengan ekspresi bangga dia berdiri dan memeluk Safira. “Kata papah, sayang nggak dihitung, tapi dirasain.”


Safira melepas pelukan Zain lalu mencubit pipi menggemaskan itu main-main. Dia yakin putranya ini tidak paham kalimat yang baru saja diucapkan, tapi setidaknya dia tahu bahwa Ashqar mengajari putra mereka dengan sangat baik.


“Mamah juga sayang Zain, ‘kan?” tanyanya. Saat Safira mengangguk, anak itu kembali bertanya, “Sebanyak Zain?”


“Iya. Sebanyak sayangnya Zain buat mamah, tapi sedikit lebih banyak mamah.” Safira kembali memeluk Zain. Bersamaan dengan itu, pintu utama terbuka dari luar.


.


.


.


✄................................................


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2