
Visualisasi Tokoh
.
.
Ashqar Baswara : Mantan calon dokter yang berakhir jadi peternak. Bapak 3 orang anak dan teman adu mulut Rafa. Sayang dan pengertiannya buat istri nggak perlu diragukan lagi.
✿✿✿✿✿
.
Safira Mazarine : Ibu 3 orang anak. Paling bawel kalau teritorinya (baca: dapur) dijajah kerucil-kerucil, tapi paling nggak bisa marah lama-lama juga. Sayangnya buat anak-anak nggak ada dua. Sayang anak baru sayang suami.
✿✿✿✿✿
.
Alviano Saputra : Si sulung yang irit bicara. Judes sama Zain, tapi paling nggak tega adiknya nangis. Tipe anak dan kakak yang bisa diandalkan.
✿✿✿✿✿
.
Zaini Yudistira : Si tengah yang selalu haus perhatian. Pemonopoli nomer satu mamah kesayangannya. Selain Safira, Zain paling cinta sama kolam renang.
✿✿✿✿✿
__ADS_1
.
Harsha Widuri Baswara : Si bungsu yang jadi alarm Papah Ashqar kalau mulai mau ‘iya-iya’ sama mamahnya (. ❛ ᴗ ❛.)
﹏﹏﹏﹏。:゚nara゚:。﹏﹏﹏﹏
Zain itu paling sebal ketika mamahnya sibuk di dapur untuk waktu yang lama, entah apa yang wanita kecintaannya itu lakukan. Namun, yang lebih membuat bocah itu jengkel adalah saat ia kehabisan ide untuk menyusun lego, terlalu malas berimajinasi dengan robot mainannya, atau bosan dengan acara di televisi dan tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan kecuali memperhatikan Harsha yang tengkurap dan terlentang terus menerus di atas karpet berbulu di ruang televisi.
Sementara Alvin sedang pergi dengan Om Rafa sejak pagi. Padahal ini Hari Minggu, tapi semua orang malah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Zain melirik Safira yang masih berada di dapur lalu mencebik. Mamahnya masih sibuk dan papahnya juga demikian.
“Tadi harusnya ikut Om Fafa sama Tante Nini aja,” keluh Zain.
“Aa!” seru Harsha.
Bayi mungil itu cukup kesulitan membawa tubuh gempalnya untuk berdiri mengikuti gerak tangan yang sudah menyengkram kain sofa. Manik bulat Harsha bersinar memandang Zain yang juga memandanginya dengan bosan.
“Apa? Kakak lagi males main sama Harsha.”
“Aa! Kaa!” Harsha menyerah untuk berdiri dan membiarkan gravitasi membawa bokongnya mendarat di atas karpet bulu.
Zain menggeleng saat Harsha mengangkat kedua tangan ke udara dan mengarah padanya. “Nggak mau. Harsha main sendiri aja,” tolak Zain, berguling memunggungi adiknya.
Tidak ada yang suka ditolak bahkan untuk bayi empat bulan seperti Harsha. Binar di manik matanya redup dan lengkung bibirnya perlahan turun. “Aa! Aaaaa!” teriak Harsha sambil memukul sofa.
Zain membalikan badan dan menatap adiknya jengkel. “Ih! Harsha berisik!” bentaknya.
Alih-alih Harsha diam setelah mendengar suara keras Zain, bayi itu justru teriak kegirangan. Mungkin Harsha merasa direspon oleh Zain.
“Mamah! Harsha ganggu, nih!” adu Zain. Manik segarisnya berusaha ia lebarkan. Sayangnya, bukan terlihat menyeramkan, Zain justru menerima gelak tawa lagi dari Harsha. “Maaah!”
“Kakak bisa panggil lebih halus?” ucap Safira, membersihkan tangannya yang berlumuran tepung.
Dia dengan segera meninggalkan pekerjaan dan menghampiri Zain di ruang televisi. Dia pikir Zain akan baik-baik saja tanpa Alvin seperti yang sudah-sudah meskipun tanpa Ashqar, tapi ternyata tidak.
Ashqar sedang di peternakan setengah jam yang lalu. Satu truk pakan datang tanpa konfirmasi dan tidak sesuai jadwal ngotot untuk menurunkan barang. Alhasil pekerja disana kebingungan dan meminta bos mereka untuk datang. Sementara putra pertamanya sudah diculik oleh kakak dan calon kakak iparnya.
__ADS_1
“Ada apa, Kak Zain?” tanya Safira begitu berada di ruang televisi.
Melihat Harsha yang berusaha berdiri membuat Safira merasa gemas. Dia segera duduk di belakang Harsha dan membantu putri bungsunya untuk berdiri.
“Harshanya ganggu.”
Safira mengerutkan kening. “Ganggu gimana?”
Dengan cepat Zain bangkit dari berbaring, melipat lengannya di dada dan mengerutkan kening. Bibirnya sudah maju beberapa senti.
“Zain mau tidur jadi nggak bisa gara-gara Harsha pukul-pukul sofa. ‘Kan, berisik.”
Safira mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan Zain. Dia segera menyadari alasan protes Zain. Sambil memperbaiki posisi Harsha di pangkuannya, Safira mengusap kepala Zain.
“Kak Zain bosen, ya?” tebak Safira tepat sasaran. Kemudian ia membawa Harsha untuk berdiri dan mengulurkan tangan kanan putrinya. Sambil menirukan suara anak kecil, Safira berkata, “Kakak Zain, Harsha minta maaf, ya?”
Zain tentu tidak langsung menyambut uluran tangan Harsha, tetapi mata bulat adik perempuannya dan senyum lembut Safira membuat Zain luluh.
“Ya udah, deh. Tapi Zain nggak mau maafin kalo Harsha gitu lagi,” katanya, menyambut uluran tangan Harsha.
“Ok. Karena Kak Zain udah baikan sama Adik Harsha, jadi mamah mau kasih kalian puding.”
Dengan cepat suasana berubah ceria saat Safira menggendong Harsha dan berjalan ke dapur bersama Zain yang mengekor dibelakang.
.
.
.
✄................................................
Nara Note :
Jadi ini cerita lain diluar cerita Gaung Rasa. Semacem ekstra chapter tapi ditengah-tengah 😂
Btw, aku googling dan riset dari sekitar aja buat tumbuh kembang anak 4 bulan. Kalau ada salah mohon maap 👉🏻👈🏻 dan kalau mau kasih info dipersilahkan di kolom komentar 😘
__ADS_1