Gaung Rasa

Gaung Rasa
Pada Akhirnya


__ADS_3

Alvin melirik Safira sambil menghembuskan napas dan menutup buku komiknya secara dramatis. “Kakaknya Papah, Mah. Masa Mamah mendadak lupa sama Bude Rahma. Tadi, ‘kan, Papah minta tolong Bude Rahma buat kasih tahu Mamah buat ke kamar soalnya Zain berenang terus kedinginan.”


Safira masih bergeming. Bahkan saat Alvin pada akhirnya menyerah dengan kelingliungan mamahnya, dia kembali pada buku bacaannya sementara Safira seakan tersedot ke dalam dimensi lain. Akal sehat perempuan seperempat abad itu mendadak terasa tumpul, informasi secara cepat berubah dan berjejalan hingga terasa sulit untuknya mencerna dengan baik.


“Mah. Sayang,” panggil Ashqar dengan suaranya yang dalam. “Kita cari tempat ngobrol, yuk?”


Safira seketika menoleh lalu berkedip. “Tapi Zain? Alvin?”


“Mereka akan baik-baik aja. Kita cuma pergi sebentar, kok. Gimana?”


Safira tidak menolah, tapi tidak juga menyetujui. Perempuan itu masih larut dalam bingung dan Ashqar sudah menyadarinya. Ada kesalahpahaman yang sebenarnya tidak begitu serius, tetapi lain hal jika itu terjadi pada Safira dan menyangkut anak-anak mereka. Jadi Ashqar harus meluruskan hal ini secepat mungkin.


“Mas Alvin, papah minta tolong buat jaga Zain sebentar. Bisa?”


“Bisa, Pah.” Begitu Ashqar hampir berbalik, Alvin memanggilnya. “Bilang sama Mamah pelan-pelan ya, Pah. Soalnya kayaknya Mamah kaget banget.”


Ashqar tersenyum dalam. Rasa bangga jelas tergambar dari ekspresinya. “Iya. Nanti papah kasih tahunya pelan-pelan. Papah sama Mamah pergi dulu sebentar, ya? Kalau ada apa-apa telefon lewat smart watch.”


Setelahnya Ashqar meraih tangan Safira, menggandengnya berjalan menuju restoran hotel. Namun sebelum itu, dia lebih dulu memakaikan sandal jepit pada kaki Safira yang tak beralas. Ashqar sempat berdesis lirih saat melihat telapak kaki Safira yang kemerahan dan sedikit lecet pada buku jari kelingking kiri istrinya.


“Mas kita mau kemana?” tanya Safira lirih saat mereka mencapai ujung koridor, saat ini separuh kesadarannya terkumpul dengan susah payah.


Safira melirik sekitar lalu menoleh sebentar ke belakang, keadaan koridor terlihat sepi. Keningnya berkerut, ekspresi Safira berubah bingung. Sejak kapan dia melewati koridor dan sampai di depan lift?

__ADS_1


“Cari tempat ngobrol, Sayang.” Ashqar merangkul bahu Safira, menuntun untuk masuk ke dalam lift. “Udah lebih tenang?” tanyanya, melirik wajah Safira dari samping.


Safira mengangguk. “Sedikit. Biar aku napas dulu dan berpikir, rasanya ngeblank banget.”


Ashqar bergumam setuju lalu setelahnya tak bertanya apapun lagi, membiarkan Safira bersandar padanya. Sedikit aneh, biasanya Safira tidak suka terlihat intim di ruang publik, tetapi kali ini istrinya terkesan lengket.


Dan kalau sudah seperti ini Ashqar tidak bisa untuk tidak menaruh curiga, gerak-gerik Safira yang tidak biasanya sering berujung dengan sesuatu yang membuat Ashqar kerepotan. Tidak ingin mengeluh, hanya saja menghadapi kemarahan Safira akan sangat menguras perhatian dan membuatnya memutar otak.


Jadi disepanjang langkah Ashqar terus merasa khawatir dengan sikap yang akan Safira ambil. Lalu begitu sampai di restoran hotel, Ashqar meminta Safira untuk duduk di area sudut dimana pot tanaman palem berukuran sedang, dengan area terbuka dan keca besar yang menghadap taman, Ashqar berharap Safira jauh lebih tenang.


Sementara dia sendiri mengambilkan secangkir teh hangat, sepotong cinnamon roll dan sepotong cheese cake. Kemudian Ashqar segera menyusul Safira yang termangu menopang dagu menghadap jendela besar.


“Sayang, diminum dulu.” Ashqar menaruh cangkir teh hangat ke hadapan Safira lalu duduk di depannya.


Untuk sesaat hening menyelimuti keduanya. Ashqar menunggu ketenangan menghampiri Safira dengan sempurna, hingga suara benturan bagian bawah cangkir dan permukaan tatakan cangkir membuatnya menaikan wajah.


Sorot tajam dari manik Safira menyambut Ashqar, menyalakan sinyal bahaya yang harus Ashqar waspadai. Dan begitu Safira menyandarkan punggu di kursi sambil melipat kedua lengannya, Ashqar tahu bahwa Safira memerlukan lebih dari sekedar teh hangat atau dua potong kue yang bahkan tak tersentuh.


“Sa-sayang,” panggil Ashqar tergagap, senyum canggung terpatri di wajahnya.


“Nggak usah manggil ‘sayang’,” desis Safira tajam. “Coba jelasin sama aku kenapa Zain bisa tenggelam.”


Ashqar menelan ludah susah payah. “Zain nggak tenggelam, Sayang.”

__ADS_1


“Terus?”


Ashqar menjelaskan duduk kejadiannya, minus pertemuan tak sengajanya dengan Nita, hingga kesalahpahaman yang entah bagaimana Rahma timbulkan. “Sumpah, Yang. Aku nggak bilang kalau Zain tenggelam.”


Safira menahan napas sejenak. Kemudian memejamkan mata dan menghembuskan napas dalam. Perasaan kesal dan lega tumpang tindih dan saling mendominasi.


“Oke. Anggap aja itu benar-benar kesalahan Mbak Rahma. Terus kenapa bisa Zain lepas dari pengawasan Mas dan ada di kolam renang? Masih pakai setelan jas lagi. Gimana kalau Zain benar-benar tenggelam karena keberatan pakaian?” omel Safira.


“Aku minta maaf, Yang. Aku akui kalau itu kelalaianku, tapi untungnya Zain nggak apa-apa. Anak itu bahkan bisa berenang ketepi waktu aku minta dia ke luar dari air.”


“Iya, tapi dia langsung kedinginan, ‘kan?” tanya Safira telak. Dia tidak ingin memperkeruh masalah yang sudah jelas situasinya. “Aku mau ke kamar, Mas ketemu Mbak Rahma sekarang dan jelasin situasinya, soalnya Mbak Rahma juga khawatir.”


Setelahnya Safira berdiri, hendak meninggalkan meja restoran. Namun, saat ia berada di belakang Ashqar, Safira berhenti sejenak. “Ngomong-ngomong, nggak ada jatah buat sisa bulan ini,” bisiknya kemudian meninggalkan Ashqar yang hanya bisa meratapi nasib.


.


.


.


✄................................................


Maapkan terlambat gaes…

__ADS_1


See u next chapter 👋🏻


__ADS_2