Gaung Rasa

Gaung Rasa
Alvin Bertengkar


__ADS_3

Safira langsung menoleh. Dia pikir lehernya akan patah karena bergerak terlalu cepat, tapi untungnya tidak. Walaupun dia tetap merasa kram disepanjang otot besar lehernya.


“Mas Alvin kok udah pulang?” seru Zain, melepaskan diri dari pelukan Safira.


Wajah bocah itu sumringah melihat kakak kesayangannya pulang lebih cepat dari biasanya. Tanpa sungkan Zain berceloteh, menanyakan banyak hal dan mulai mengabsen permainan yang akan mereka mainkan.


“Terus nanti sore main sepedah ya, Mas? Habis itu ....”


“Zain,” potong Sari. “Mainnya nanti dulu, ya. Sekarang Mas Alvin biar ganti baju terus istirahat, Zain juga lagi ngerjain tugas, ‘kan?”


Zain merengut dan menunduk. Diam-diam ia melirik buku-buku di atas meja yang masih terbuka lalu bibir tipisnya semakin maju.


Melihat itu, Safira sebenarnya tak tega. Namun, salah satu komitmennya dengan suami adalah mendidik kedisiplinan anak-anak mereka dalam belajar. Ala bisa karena biasa, begitu kata Ashqar setiap kali ia mengeluh jika tak tega melihat Zain yang merengek mencari alasan untuk meninggalkan tugas sekolah yang setengah jalan atau ogah-ogahan saat mengasah kemampuan baca tulis.


Safira menghela napas lalu memanggil Zain dengan nada selembut mungkin. “Mas Zain, selesaiin dulu tugas sekolahnya, Nak.”


“Iya, Mah.”


Zain mau tak mau menuruti ucapan Safira. Langkah kecilnya terayun menuju meja ruang tamu dan kembali pada tugas sekolah. Sementara Safira, dia baru menyadari kehadiran Alvin setelah Zain mulai berceloteh, berjalan menghampiri Sari.


Safira menatap Alvin dan Sari bergantian kemudian berhenti pada salah satunya. “Mas Alvin, kenapa jam segini udah pulang?”


Alvin tidak langsung menjawab, kepalanya tertunduk sementara kedua tangan mencengkram erat tali ransel yang berada di pundak. Anak itu tetap diam meski Safira kembali memanggil namanya untuk kedua kali.


“Fi, biar Alvin ganti baju dulu.” Setelah mengatakan itu, Sari langsung mendapatkan lirikan tajam dari Safira. Namun, ia mengabaikannya. “Alvin, kamu naik ke kamar dan ganti baju, ya.”

__ADS_1


Saat Alvin beranjak, Sari mengajak Safira ke salah satu kamar di lantai satu. Sepanjang langkah Safira tidak berhenti melirik tangga, rasa khawatir yang sempat ia rasakan nyatanya tidak menghilang, tapi bertambah semakin besar.


“Ada apa ini, Bu?” todong Safira, bersamaan pintu yang ditutup. Dia menyandarkan punggung pada daun pintu, melipat tangan dibawah dada dan menatap Sari lurus. “Kenapa Alvin udah pulang? Telfon yang ibu terima tadi dari sekolahnya Alvin?”


“Alvin bertengakar sama temen sekelasnya.” Sari berjalan ke sisi ranjang dan duduk disana.


“Alvin bertengkar?”


“Dia nonjok muka temennya sampe mimisan.”


Netra Safira membola. Tubuhnya membeku ditempat. Dia jelas tak percaya apa yang baru saja mampir diindra pendengarannya. Alvin mungkin bukan anak yang ekspresif dan mudah bergaul, tapi kepribadiannya tidaklah buruk.


“Alvin nggak mungkin mukul orang, Bu. Dia bukan anak yang gampang meledak, pasti ada alasan kenapa dia sampe seperti itu.”


“Ibu udah coba tanya langsung ke Alvin?”


Sari mengangguk. “Udah, diperjalanan pulang ibu beberapa kali tanya ke Alvin, tapi anak itu tetap diam. Jadi ibu berhenti bertanya.” Sari menatap Safira dengan pandangan yang sulit diartikan. “Mungkin kalau kamu yang bicara sama Alvin, dia mau terus terang.”


Tanpa mengatakan apapun, Safira langsung memutar tubuh dan meraih gagang pintu. Dia hampir keluar dari kamar saat Sari memanggil namanya dan begitu ia menoleh, Sari sudah berada di sampingnya.


“Maaf, ibu nggak bermaksud buat lancang.”


Safira menatap tangannya dan melihat ponsel miliknya sudah berada digenggaman. Padahal ia sudah lupa mengenai benda pipih itu karena terlalu fokus pada Alvin.


“Aku bakal minta penjelasan ibu tentang ini nanti, sekarang aku mau ketemu Alvin dulu.” Setelah mengatakan itu, Safira langsung beranjak menuju lantai dua.

__ADS_1


Safira berjalan cepat, menapaki anak tangga dua-dua sekaligus. Dan begitu ia berada di depan pintu kamar Alvin yang tertutup, Safira terpaku ditempat. Dia mengatur napas dan mulai menyusun kalimat. Kemudian setelah beberapa saat, Safira mengetuk pintu dan memanggil nama Alvin.


Satu lagi aturan tak tertulis yang ia terapkan untuk anak-anaknya, tidak memasuki kamar tanpa izin pemilik kamar. Jadi meskipun itu artinya ia harus menunggu beberapa saat bahkan dipanggilan kedua, Safira tetap menunggu jawaban dari dalam. Namun, setelah beberapa saat, Alvin tak kunjung menjawab dan itu membuat Safira khawatir.


Safira mengulurkan tangan ke udara. Tepat saat ia hendak mengetuk untuk ketiga kali, pintu itu terbuka.


“Alvin, kamu habis ngapain? Kenapa nggak jawab panggilan mamah?” ucap Safira, tanpa sadar menaikan sedikit nada bicaranya.


Alvin mundur satu langkah dan melirik kesembarang tempat. “Maaf, Mah. Alvin tadi lagi ganti baju jadi nggak denger mamah manggil.”


Safira membuka dan menutup mulut beberapa kali, tapi pada akhirnya ia tak jadi melontarkan kalimat provokatif lain, terutama setelah melihat bagaimana ekspresi putra sulungnya. “Maaf, mamah nggak bermaksud bentak Mas Alvin.”


“Alvin tahu,” timpal Alvin cepat. “Mamah ... mau masuk?”


Safira mengangguk dan tersenyum. “Iya.”


.


.


.


✄................................................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2