Gaung Rasa

Gaung Rasa
Mendadak Bodoh


__ADS_3

Ashqar menaruh sejenak kekhawatiran tentang Edi dan Hendra meski benaknya tersimpan beberapa pertanyaan. Dia berjalan mengekori perawat ke dalam ruang UGD.


Suasana UGD yang padat membuat tengkuk Ashqar bergidik. Suara perempuan yang menanis memanggil nama seseorang dan teriakan, yang Ashqar duga dokter, meminta sekantong darah menjadi alasan kengerian yang dirasakannya. Tak ayal jika perawat memintanya untuk menunggu di luar ruangan dan pemeriksaan Safira pun tertunda. Hal itu memberikan Ashqar secercah harapan bahwa keadaan Safira tidak separah yang ia pikirkan.


“Tunggu disini sebentar, Pak.”


Ashqar sedikit terkejut dan hampir menabrak suster yang menuntun jalannya. Setelah perawat wanita tersebut menghilang di balik tirai, ia mengedarkan pandangan ke sekitar.


Tirai-tirai besar berwarna hijau menyambut Ashqar seakan pria itu sedang berada di dimensi lain. Kemudian ketika tirai bagian tengah terbuka dan seorang dokter ke luar dari balik benda itu, Ashqar dengan tergesa menghampiri.


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” todong Ashqar.


Dokter laki-laki tersebut melempar gestur agar Ashqar sedikit bergeser mengikuti gerak langkahnya.


“Keadaan istri bapak baik. Tidak ada luka serius atau cidera parah, hanya ada beberapa bagian tubuh yang memar. Seperti : lengan kanan bagian atas, pelipis kiri dan bagian panggul ke bawah.”


Ashqar mengerutkan kening mendengar penjelas dokter. “Apanya yang baik?” batin Ashqar. “Dok, itu benar bukan luka serius? Memar di beberapa tempat loh, Dok, istri saya.”


“Iya, Pak. Saya bisa pastikan kalau itu bukan luka serius. Hanya saja istri Bapak memang kesulitan untuk mengangkat kaki sebelah kiri dan itu kemungkinan ada memar atau cidera di bagian pinggang atau panggul.”

__ADS_1


“Istri saya terpeleset. Dia jatuh terduduk dan setelahnya pingsan. Apa itu bukan kondisi serius?” Nada suara Ashqar menjadi dingin. Dia jelas tidak menyukai bagaimana dokter di hadapannya ini seakan tidak menganggap penting kondisi Safira. “Saya mau istri saya menjalani CT Scan.”


Dokter laki-laki itu terlihat sekali menjaga ekspresinya. Dia telah bekerja di bidangnya selama bertahun-tahun dan bukan kali ini saja keluarga atau wali pasien ngotot terhadap hasil diagnosanya.


“Saya tidak menyarankan itu, Pak.”


“Kenapa?”


“Dari hasil pemeriksaan saya, kemungkinan istri anda sedang mengandung.”


“Terus kenapa kalau mengandung?” tanya Ashqar bodoh.


Dokter itu menghela napas dalam. “Pak, ibu hamil memang tidak diperbolehkan untuk melakukan CT Scan. Itu akan membahayakan bagi bayi di dalam kandungan.”


Jika saja Rahma ada di sampingnya, sudah pasti ia akan kena omel atau bahkan maki. Ashqar yang notabenenya pernah mengenyam pendidikan kedokteran mendadak bodoh, ia benar-benar definisi “sudah salah tetap ngotot”.


“Sepertinya Bapak salah tanggap,” ucap dokter, mengembangkan senyum tipis yang dipaksakan. “Yang saya maksud, kemungkinan istri bapak sedang hamil.”


Ashqar tertegun. Mendadak otaknya beku dan tak bisa meraih logika. “Kok, bisa?”

__ADS_1


Bukan hanya si dokter, tapi juga perawat di samping dokter itu pun menahan diri untuk tidak tertawa.


“Saya pikir bagian itu nggak perlu saya jelaskan secara rinci.” Dokter laki-laki itu menyerahkan dokumen medis milik Safira kepada perawat. “Anda bisa bertemu istri anda, setelah itu silahkan konfirmasi ke perawat agar istri anda dipindahkan ke kamar rawat.”


Ashqar masih terdiam di tempat bahkan saat dokter dan perawat sudah beranjak. Seakan waktu berjalan dua kali lebih lambat. Kemudian setelah beberapa saat, perlahan Ashqar mendapatkan kembali fokusnya.


Meski masih setengah linglung, ia berjalan perlahan ke ranjang dimana Safira berbaring. Begitu ia melihat wajah istrinya, Ashqar kembali ingat untuk apa ia berada disana.


“Sayang,” panggil Ashqar, langsung menuju samping ranjang Safira.


Safira memandang wajah kuyu Ashqar dengan tatapan lesu. “Mas.”


Hanya satu kata dan tiba-tiba air mata jatuh membasahi pipinya. Perasaan Safira berkecambuk dan ia kesulitan untuk menjelaskan, jadi satu-satunya yang bisa Safira lontarkan hanya panggilannya untuk Ashqar bersamaan dengan air mata yang jatuh.


.


.


.

__ADS_1


✄................................................


Bersambung~


__ADS_2