
Safira dan Zain sedang berada di ruang keluarga saat pintu depan terbuka lalu disusul salam yang membuat pasangan ibu-anak itu menoleh secara bersamaan.
“Papah!” seru Zain, melemparkan pensil warna sembarangan―berpaling dari Iron Man yang baru setengah diwarnai, lalu bergegas menuju sumber suara.
Safira tersenyum maklum dan menggeleng. “Mas Zain, jalan pelan-pelan aja.”
Zain seketika berhenti berlari lalu berjalan perlahan menghampiri Ashqar yang sudah berlutut dengan kedua lengan terbuka, siap menangkap tubuh Zain ke dalam pelukannya. Ketika Zain berhasil masuk ke dalam pelukan sang ayah, Alvin berjalan melewati mereka dengan sebuah komentar yang membuat Zain kesal.
“Dasar, anak kecil.”
Begitu yang Alvin ucapkan hingga membuat bibir tipis Zain maju beberapa senti. Namun, seperti bagaimana Alvin biasanya, ia tak peduli dengan rengekan Zain yang mengatainya jahat dan mengadu pada Ashqar. Langkah kaki putra pertama Ashqar dan Safira itu mantap ke arah Harsaha yang sedang duduk di pangkuan Safira.
“Harsha, Mas Alvin pulang,” katanya, menuntun Harsha untuk mencium tangannya sendiri.
Setelahnya si bungsu berteriak girang sambil mengulurkan tangan ke pipi Alvin dan menepuk-nepuknya sekuat tenaga. Dan meskipun begitu, Alvin membiarkan pipinya menjadi sasaran kegemasan Harsha terhadapnya.
“Mamah nggak disapa?” sela Safira, mengulurkan tangan.
Alvin menatap Safira lamat, tak terlihat berminat menerima uluran tangan yang terarah padanya. Hal itu membuat Safira gamang. Suasana hati yang terus berubah-ubah membuatnya menjadi pribadi yang lebih sensitif dari sebelumnya.
Safira menurunkan tangan bersamaan dengan kepala yang tertunduk, air mukanya selayu bunga yang tak disiram. Manik matanya berkaca-kaca, air mata di pelupuk hampir tumpah jika suara lembut itu tak mampir di indra pendengaran.
“Assalamu’alaikum, mah.”
“Wa’alaikummussalam,” balas Safira, mengangkat kepala.
__ADS_1
Satu bulir air mata menetes lalu disusul dengan bulir-bulir lain yang datang bergerombol saat menyadari bahwa Alvin sedang memeluknya alih-alih mencium tangan seperti biasanya. Perasaan yang entah apa dan tak bisa dijelaskan mendorong sisi sensitif Safira semakin maju hingga membuat ibu tiga anak itu menangis terisak.
Alvin menarik diri saat isakan halus terdengar jelas di samping telinga dan seketika merasa terkejut melihat wajah sang ibu penuh dengan air mata. “Mamah, kenapa nangis? Alvin meluknya kekencengan, ya? Mamah sakit?”
Safira tertawa disela isakannya, menggeleng lalu menghujani Alvin dengan kecupan diseluruh wajah.
“Mamah kenapa, sih?”
“Mamah kenapa?”
Pertanyaan yang sama dari dua orang yang berbeda, tetapi ekspresi mereka mencerminkan hal serupa, heran dan khawatir menjadi satu.
Safira kembali menggeleng. “Mamah nggak apa-apa,” katanya.
“Mamah itu ngerjain Mas Alvin,” timpal Ashqar cepat, merasa kasihan dengan kedua putranya yang masih kebingungan. “Mas Alvin, ganti baju dulu baru kita makan.” Ashqar beralih pada Zain begitu si sulung masuk ke dalam kamarnya. “Mas Zain udah makan.”
Zain melirik pintu kamar Alvin dan Ashqar menyadari itu. Jadi ia segera memberikan gagasan pada Zain untuk menyusul kakanya. Biar bagaimanapun mereka tetap saudara, menit sebelumnya bertengkar dan menit setelahnya akan kembali akur seakan-akan masalah tidak pernah ada.
Begitu ruang keluarga sepi, Ashqar segera duduk di samping Safira setelah sebelumnya memindahkan Harsha ke dalam dekapannya. Sambil melirik si istri kesayangan, Ashqar berbisik, “Udah ketawanya?”
Safira mengangguk.
“Kenapa ketawa?”
“Nggak apa-apa, cuma ngetawain diri sendiri.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Aku jadi sensitif dari hari ke hari sejak kepergian Aisyah, sampai-sampai hal kecil aja bisa membuat aku sedih dan berkecil hati. Aku sendiri masih sulit mengendalikan perasaanku, mas. Kadang tiba-tiba aja aku menangis tanpa sebab atau bahkan untuk hal-hal kecil. Aku yang kayak gini nggak cuma menyulitkan mas, tapi juga anak-anak. Alvin aja sampai masang wajah seperti itu.”
Ashqar mengulurkan tangan, meraih tangan kiri Safira dan menggenggamnya erat. Pria itu sedikit meremas tangan halus istrinya sampai wanita itu menatap tepat pada netranya. “Kalau tahu terkadang kamu menyulitkan orang lain, kenapa nggak juga mengikhlaskan?” katanya, halus dan tajam disaat bersamaan.
Dan sebelum Safira bisa salahpaham padanya, Ashqar segera melanjutkan, “Kepergian Aisyah membuat kita semua sedih termasuk Alvin dan Zain. Aku nggak menyangkal kalau orang yang paling kehilangan pasti kamu, orang yang sudah mengandungnya selama berminggu-minggu. Rasa kehilangan, penyesalan dan rasa bersalahmu nggak akan membawa kebaikan apa-apa kecuali kamu bisa ikhlas melepaskan.”
“Tapi, mas ... andai aja aku nggak ceroboh mungkin―”
“Kemungkinan apa yang bisa mengalahkan takdir Tuhan, Fi?” sanggah Ashqar cepat. Kemudian ia kembali meremas genggaman tangan mereka. “Jangan terlalu larut dalam kesedihan dan kehilangan sampai membuat kamu lupa bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya pembuat rencana, lihat di sekelilingmu bahwa suamimu ini dan anak-anakmu ini masih dan akan terus butuh sosok kamu di keluarga ini.”
Safira tertunduk, merasa tertampar dengan ucapan suaminya sendiri. Kepalanya mulai dipenuhi dengan banyaknya perhatian dan nasihat dari orang-orang terdekat terutama suaminya. Salahkan ia yang bebal dan keras kepala, terlalu larut dalam perasaan sendiri. Namun, apakah kali ini Safira bisa disalahkan dengan mudah atas perasaan kehilangannya sebagai seorang ibu?
“Aku berusaha, mas. Tapi nggak ada yang bisa menahan hatiku dari kesedihan ini setiap kali aku ingat bagaimana kita kehilangan Aisyah.”
“Aku mengerti,” bisik Ashqar, melepaskan genggaman mereka dan menuntun kepala Safira untuk bersandar di pundaknya. “Aku di sampingmu, juga anak-anak buat menguatkan kamu supaya bisa melalui kesedihan ini.”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Selesai 🤭