
Safira tersentak, dengan cepat tangannya mengusap wajah. Dia tak menduga dengan kehadiran Zain.
“Zain? Kok, Zain bisa disini” tanya Sari yang juga sama terkejutnya.
“Bisa dong, Uti. Zain kesini ‘kan, naik mobil sama Papah.”
Kening Safira berkerut. “Terus sekarang Papah dimana? Mas Alvin juga ikut?”
Sambil mendekati ranjang, bahu bocah lima tahun itu terangkat sekilas kemudian mengulurkan tangan kepada Sari. “Papah sama Mas Alvin lamaaa banget. Jadi Zain tinggal aja, deh. ‘Kan, Zain nggak sabar mau ketemu sama Mamah,” tutur Zain dengan cara yang menggemaskan.
Safira dan Sari saling bertukar pandang. Kemudian keduanya dengan kompak menggelengkan kepala. Ini memang bukan yang pertama kalinya Zain kabur dan menyelinap dari pengawasan orang dewasa yang bersamanya saat di tempat umum, tapi hal itu tetap saja membuat Safira, Ashqar atau orang dewasa lainnya yang bersama bocah itu mendadak terkena serangan jantung.
Safira mengulurkan tangan, menyentuh puncak kepala Zain. Putra keduanya ini sangat sulit diberi tahu dan cenderung seenaknya sendiri.
“Zain, mamah udah sering bilang ‘kan, kalau di tempat umum jangan pergi sendiri? Apalagi nggak bilang sama siapa-siapa.”
Zain yang berada di pangkuan Sari sontak merengut. Bibir mungilnya maju beberapa sentimeter. “Zain nggak pergi sendirian, Mah. Zain pergi sama Papah sama Mas Alvin.”
“Ibu telfon Ashqar dulu. Takutnya dia kebingungan nyariin Zain,” kata Sari, mengangkat tubuh Zain dan mendudukkannya di kursi. Kemudian ia beranjak ke luar ruangan.
Safira sempat merasa bingung dengan tingkah Sari, kenapa pula ibu sambungnya itu harus ke luar kamar hanya untuk menelpon Ashqar? Namun, belum juga ia menerka-nerka, Zain lebih dulu membuatnya mengalihkan perhatian.
“Zain mau duduk di deket Mamah.”
Netra Safira membola melihat Zain berdiri di atas kursi dan menaruh bokong mungilnya di sisi ranjang.
“Zain bawa sesuatu buat Mamah,” katanya lalu merogoh tas sekolah dan menyodorkan seikat kecil bunga liar.
__ADS_1
“Waah! Makasih banyak.” Safira menggeleng sambil tersenyum. “Tapi ngomong-ngomong, Zain bisa sampai ke kamar ini gimana caranya?”
“Naik lift.”
Kening Safira berkerut. Dia tahu betul jika Zain masih canggung dan belum bisa menggunakan lift atau eskalator sendiri, putranya itu bahkan akan merapatkan diri padanya setiap mereka menggunakan dua benda tersebut.
“Sendiri?” tanya Safira yang dijawab dengan gelengan kepala. “Terus sama siapa?”
“Nggak tahu.” Zain menaikan bahu. “Tadi pas Zain masuk lift udah ada om-om dua orang sama ada ibu-ibu, terus tanya Zain mau kemana. Zain bilang deh, kalau mau ketemu Mamah. Mamah kamarnya di lantai empat. Terus dianterin deh sama omnya, omnya itu baik banget loh, Mah. Tadi aja nganter Zain sampe depan pintu.”
Tak ada yang bisa Safira lakukan saat melihat bagaimana putra tengahnya itu bercerita dengan penuh semangat ditambah senyum manis di wajah mungilnya. Dia tak sampai hati untuk memarahi Zain. Namun, bukan berarti Safira akan diam saja setelah mengetahui, satu lagi, tingkah spontan Zain.
“Alhamdulillah kalau omnya itu baik. Tapi, nanti jangan kayak gitu lagi, ya?” ucap Safira, satu tangannya merangkul pundak Zain sementara tangan lainnya mengusap kepala bocah itu. Sambil menatap dalam pada manik Zain, Safira berkata lembut, “Kalau Zain tiba-tiba pergi dan nggak bilang siapa-siapa kayak gini, itu bikin mamah sama papah khawatir. Kalau Zain ketemu orang jahat dan Zain nggak ketemu mamah sama papah lagi, gimana?”
Zain menggeleng cepat. “Nggak mau!” rengek Zain, memeluk Safira. “Zain mau sama Mamah terus.”
Diam-diam Safira mengulum senyum. “Makanya jangan diulangi lagi, ya? Oke?”
“Janji sama Mamah?” tanya Safira, mengulurkan jari kelingkingnya.
Dengan perlahan Zain menyambut jari kelingking Safira lalu menautkan dengan jarinya sendiri dan setelahnya bocah itu kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Safira.
Pelukan Zain yang erat membuat Safira merasa nyaman, rasa hangat menjalar dan masuk ke relung hatinya. Dia baru satu hari berpisah dengan Zain, tetapi rasa rindunya mendadak membuncah. Mata Safira terasa panas dan kepalanya kembali dipenuhi dengan banyak pikiran-pikiran yang rumit.
Namun, satu dari sekian banyak adalah kasih sayang tulus Zain, putranya. Yang sejak awal mencintainya tanpa syarat. Safira lupa, dari sekian banyak kebersamaannya dengan Ashqar, Zain lah alasan terbesar mereka bisa bersama.
Ikatan yang ia pikir hanya sekedarnya dan untuk bocah kecil itu, ternyata menjadi kuat dan tak ingin Safira hancurkan. Benar, kenapa dia begitu rumit? Ada banyak alasan untuk mepertahankan hubungannya dengan Ashqar, tapi kenapa dia hanya fokus pada asumsinya? Sekalipun suaminya bersalah karena tak berterus terang, tapi itu bukan apa-apa hingga membuatnya kehilangan kepercayaan pada suaminya sendiri.
__ADS_1
Menyadari hal itu membuat Safira tersenyum. “Makasih ya, Zain udah dateng disaat yang tepat.”
Zain menarik satu sudut bibirnya dan juga menautkan alis. “Sama-sama, Mah. Tapi ...,” Zain melepaskan diri dari pelukan Safira. “Mamah kok, ada di rumah sakit? Emang Mamah sakit? Kok, Zain nggak tahu?”
“Ah, itu ....”
Mendadak Safira kebingungan. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Zain kalau dirinya menjadi korban penyerangan, putranya pasti tidak akan mengerti. Dan kalaupun ia menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, Zain justru akan merasa sedih dan takut. Safira hanya tak ingin Zain khawatir.
“Mamah cuma ... capek. Iya, capek.”
Kerutan di kening Zain semakin dalam. Anak itu menegakan punggungnya dan memperhatikan Safira dengan seksama. “Terus yang sakit mana?”
Ekspresi Safira bertambah masam. “Yang sakit kakinya mamah,’ ucap Safira menyentuh kakinya dan mengusapnya pelan. “Ini sakit banget, Zain,” tambahnya hiperbolis.
Manik Zain membola. Refleks ia langsung ikut mengusap kaki Safira dan sesekali meniupnya. Melihat reaksi menggemaskan Zain membuat Safira gemas sendiri dan berniat untuk menjahilinya. Namun, belum sempat rencanya itu direalisasikan, pintu kamarnya terbuka.
“Assalamu'alaikum.”
.
.
.
✄................................................
Buat yang kangen sama Zain, terbayar lunas ya? 🤭
__ADS_1
Cuma kasih tau aja, chapter ini lebih panjang loh btw dari biasanya 🌚🙈
Ok, sampai jumpa di Hari Jumat 😘