
Safira menghembuskan napas lelah. Acara gosip pada televisi layar datar bermerek dalam negeri diganti ke acara berita siang. Dia merasa lelah dengan berita selebritis belakangan ini.
“Mending nonton berita kriminal aja, deh.” Safira melemparkan dirinya ke atas sofa.
Kedua putranya sedang diculik oleh Rahma sejak kemarin sore setelah pulang sekolah. Sementara Harsha dibawa oleh Sari dan Edi jalan-jalan ke sekeliling komplek, katanya ingin pamer kedekatan dengan cucu perempuan mereka ke tetangga sekitar.
Safira tidak heran jika Edi yang bertingkah demikian, tapi Sari? Dia sama sekali tidak menduga jika ibu sambungnya itu ternyata ketularan virus tidak masuk akal Edi.
Ngomong-ngomong soal hubungannya dengan Sari. Safira saat ini jauh lebih bisa menerima keberadaan Sari disekitarnya. Meskipun tak dipungkiri jika kedua terkadang masih canggung saat menunjukkan atau menerima perhatian satu sama lain.
“Mah, ikut nggak?”
Safira menoleh setengah hati, nyawanya hampir ke luar dari dalam tubuh, sayangnya harus kembali secepat kilat. Ashqar berdiri di belakang sofa, rambut suaminya tersisir rapih dan dia bisa mencium aroma musk dari tubuh Ashqar.
“Mas mandi? Tumben.”
“Malah ngeledek.” Ashqar mengacak surai Safira. “Jadi mau ikut nggak, Sayang?”
“Mau kemana emangnya?” tanyanya ogah-ogahan, membaringkan tubuh dan menenggelamkan wajah di bantal merah milik Zain.
“Pacaran. Mumpung anak-anak ada yang jagain.”
Safira memaksakan diri untuk duduk, kelopak matanya terasa berat. Minggu pagi memang paling enak diisi dengan rebahan dan kembali tidur, apalagi saat anak-anak tidak ada di rumah.
“Pacaran? Ngapain?”
__ADS_1
Ashqar mengerutkan kening lalu berpindah duduk di samping Safira. “Ya kamu maunya ngapain?” tanya Ashqar, memberi kode.
Alih-alih menanggapi, Safira justru menguap dan merenggangkan tubuh. Dengan santai dia menyandarkan kepala di pundak Ashqar.
“Udah gini aja, Mas. Nggak usah kemana-mana. Aku lagi mode mager ini.”
Ashqar mencubit pipi Safira gemas. Dia pikir hanya Alvin yang hobi rebahan di atas sofa dari pagi sampai siang hari di Hari Minggu, tapi istrinya juga begitu.
“Ayolah, Yang. Sekali-kali, mumpung anak-anak ada yang jaga. ‘Kan, kita nggak ngalamin namanya pacaran.”
“Justru bagus, dong. Malah nggak jadi dosa.”
Ashqar memejamkan mata, gemas sendiri mendengar jawaban istrinya. “Ya makanya kita pacaran sekarang. Ya? Ya?”
Safira menaikan wajah, bertemu tatap dengan Ashqar yang memandangnya penuh harap. Kalau diperhatikan lebih teliti, sebenarnya mata sipit Zain lebih mirip Ashqar ketimbang Nita, apalagi dirinya.
“Ayolah, Fi. Sekali ini aja,” bujuk Ashqar.
Sambil menghembuskan napas, Safira menarik diri untuk duduk. Ditatapnya Ashqar dengan tatapan kesal.
“Buat apa, Mas? Yang dilakuin anak-anak jaman sekarang pas pacaran udah kita lakuin juga, termasuk bikin anak.”
Ashqar kehilangan kata-kata. “Kamu nyindir apa gimana sih, Yang?”
“Hah? Nyindir gimana?” Safira kebingungan. “Orang bener, ‘kan? Orang pacaran paling cuma nonton film, makan di kafe, jalan-jalan, ada juga yang pergi jauh sampe nginep padahal masih pacaran. Eh, ujung-ujungnya hubungan badan sampai ham ... il.”
__ADS_1
Seketika suasana di sekitar mereka hening. Safira segera menyadari arah ucapannya dan mulai menyesali hal itu.
“Anu ... Mas,” cicit Safira, menggenggam ujung baju Ashqar. Lalu ia melirik wajah suaminya, tidak memiliki ekspresi. “Maaf. Aku nggak bermaksud nyindir, tadi murni ketidaksengajaan aja.”
“Bohong. Pasti sengaja, ‘kan?”
Safira meringis. “Sumpah, Mas. Nggak sengaja, Mas. Aku cuma asal ngomong aja. Maap, ya?”
“Nggak.” Ashqar berdiri dari duduk dan menatap Safira penuh kemenangan. “Kecuali kamu mau diajak kencan.”
“Modus,” batin Safira. “Mas berangkat sendiri aja, aku mau tidur. Daah~” katanya, kemudian mencium pipi kanan Ashqar dan segera berlalu ke dalam kamar.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Yang kangen momen duo racun 😂 semoga mengobati yaa
Btw, makasih banyak buat semua pembaca karena masih setia nunggu kelanjutan cerita ini yang updatenya macem gebetan yang suka ilang-ilangan 😂
__ADS_1
ILY 🖤