
Mobil buatan Jepang yang Ashqar kendarai baru saja meninggalkan Kompleks Perumahan Griya Asri, tempat dimana rumah besar milik Edi berdiri, disusul dengan mobil berjenis city car milik Ranee.
Berbeda dengan keluarga kecil Ashqar dan Ranee yang sudah memulai aktivitas, Edi dan Rafa memilih untuk menunda kagiatan harian mereka. Keduanya duduk berhadapan dipisahkan meja kerja besar Edi dengan lembaran-lembaran kertas di atasnya.
Edi memeriksa satu bendel dokumen dengan ekspresi tak terbaca, membolak-balikkan satu lembar ke lembar lainnya kemudian kembali pada lembar sebelumnya. Entah apa yang dicari. Dan setelah beberapa saat, pria paruh baya itu menatap Rafa penuh keseriusan.
“Kamu udah tahu dimana dua laki-laki ini tinggal?”
Tanpa menatap balik Edi, Rafa menggeleng. “Siang ini.”
“Bapak mau mereka berdua mendapat balasan yang lebih daripada Fira,” ucap Edi dengan nada dingin. Edi memutar kursi menghadap pada jendela besar. “Apalagi ternyata Fira sedang hamil. Untung aja dia nggak sampai pendarahan.”
“Aku juga berpikir begitu, Pak. Tapi yang terjadi udah terjadi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah membereskan semua masalah ini.”
“Koe¹ bener, Le.²” Edi menyandarkan punggungnya semakin dalam hingga kepala kursi memantul. “Tapi rasanya kok, mereka seperti udah merencanakan ini, ya. Momen dan waktunya pas sekali.”
“Aku juga menduga hal yang sama, Pak. Ada kemungkinan mereka udah memata-matai rumah Fira dan Ashqar. Kesalahanku adalah menuruti Bapak buat menarik pengawal dari sekitar rumah mereka.”
“Lah? Kok, malah nyalahin bapak.”
“Bukan nyalahin, Pak. Cuma cerita aja.”
Rafa enggan memulai adu mulut dengan Edi. Dia tidak ingin menjadi bulan-bulanan objek gerutuan bapaknya. Lagi pula, tak ada gunanya pula mereka membahas hal yang sudah lewat kalau hanya untuk mencari-cari kesalahan satu sama lain. Yang mereka harus lakukan dan fokuskan adalah mencari jalan keluar dari masalah yang rupanya tak sesepele yang mereka kira.
__ADS_1
Namun, rupanya Edi masih ingin menjelaskan.
“Waktu itu ‘kan, bapak mau kamu fokus dengan acaramu sendiri. Lagian laporan anak buah kamu juga bagus, nggak ada tanda-tanda Mas Teguh.“
“Tapi nyatanya Pakde Teguh selama ini udah jadi tetangga Fira.”
Sesaat setelah Rafa mengatakan hal itu suasana menjadi senyap dan terasa aneh. Rafa segera menyadari telah mengatakan sesuatu yang tak tepat disaat yang tak tepat pula.
“Ngomong-ngomong soal Mas Teguh,” ucap Edi, sengaja digantungkan. “Dimana dia sekarang?”
Rafa berusaha menjaga ekspresinya, terutama saat Edi berbalik dan menatap tajam padanya. “Mana aku tahu. Mungkin Pakde Teguh di rumahnya.”
Edi menyipitkan mata. “Dia nggak ada disana. Tetangganya juga bilang kalau Mas Teguh nggak kelihatan sejak Fira masuk rumah sakit. Dan terakhir kali kalau bapak nggak salah ingat dan nggak mungkin juga salah ingat, kamu membawa Mas—”
“Oke! Oke!” seru Rafa memotong ucapan Edi sembari mengangkat kedua tangan di udara. Dia tak menduga jika bapaknya ternyata mengecek kediaman Teguh. “Pakde Teguh aku tempatin di suatu tempat yang aman.”
“Oh, gitu.”
Rafa menatap Edi tak percaya. “Oh, gitu? Gitu doang?”
“Terus kamu berharap bapak bilang apa?” Tatapan Edi berubah, kini sorot geli tergambar di kedua bola matanya. “Kamu pikir bapak bakal marah-marah, minta dibawa ke tempat kamu sembunyiin Mas Teguh, gitu? Ya, nggak lah.”
Rafa mengerling. “Coba Bapak bilang gitu ke diri Bapak sendiri waktu nyuruh orang buat menghajar Pakde Teguh.”
__ADS_1
Rafa merasa gemas sendiri dengan sikap Edi. Sebelum dia mengetahui tentang kebenaran bahwa Hendra dan Teguh adalah orang yang sama dan apa yang sudah terjadi, Rafa dikejutkan dengan laporan Sari bahwa Edi membawa tetangga Safira ke dalam ruang kerjanya dan terdengar suara rintihan juga pukulan yang saling bersahutan.
Kemudian saat Rafa memaksa masuk, betapa terkejutnya ia melihat laki-laki yang ia kenal sebagai Hendra sudah terkapar di karpet dengan luka memar di wajah. Rafa sempat meneriaki Edi atas tindakan tak masuk akal bapaknya itu. Sampai akhirnya Edi membongkar penyamaran Teguh, rambut palsu dan lensa kontak, yang selama ini berperan sebagai Hendra. Penyamaran yang cukup sempurna kecuali tahi lalat di leher yang tak Teguh tutupi.
“Bapak waktu itu gelap mata karena mengira dia yang udah bikin Fira sampai masuk ke rumah sakit.”
“Ok. Aku bisa paham perasaan Bapak, aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama jika ada diposisi Bapak. Tapi yang jadi pertanyaanku adalah bagaimana Bapak tahu kalau Pak Hendra adalah Pakde Teguh? Apa karena selama ini Bapak nggak pernah ketemu Pak Hendra?”
Edi menghela napas dalam dan menghembuskan perlahan. “Itu foktor utama, karena bapak yakin kalau bapak pernah ketemu sekali aja sama dia, bapak pasti bisa langsung mengenali kalau dia adalah Mas Teguh. Selain itu, tahi lalat di lehernya yang membuat bapak langsung sadar kalau dia adalah Mas Teguh.”
Rafa baru membuka mulut untuk mengajukan pertanyaan lain saat pintu diketuk dari luar.
“Bapak! Rafa! Kalian harus lihat ini.”
.
.
.
✄................................................
Kamus Jowo :
__ADS_1
¹Koe : Kamu
²Le/Tole : Panggilan untuk anak laki-laki