
Ashqar berjalan menuju dapur setelah mengantar kedua putranya untuk tidur. Tidak ada yang bisa dia lakukan dengan ketertarikan Alvin dan Zain untuk selalu dekat dengan Safira menjelang persalinannya. Kedua putranya hanya terlalu antusias menunggu kehadiran adik kecil mereka, tetapi Ashqar juga tidak ingin waktu tidur Safira yang sedikit terganggu. Semakin besar perut istrinya, maka semakin tidak nyenyak tidurnya.
Ashqar bisa melihat cahaya dari arah dapur. Dia pikir seharusnya semua lampu sudah padam dan semua pekerja sudah berada di kamar mereka masing-masing. Dengan langkah perlahan yang tidak dibuat-buat, Ashqar masuk ke area dapur dan menemukan seseorang yang cukup membuatnya heran.
“Ngapain kamu di sini?”
“As—astagfirullah!” seru Rafa.
Ashqar melirik skeptis. “As apa, tuh?” katanya, berjalan melewati Rafa menuju kulkas. “Tumben jam segini kamu di dapur.”
“Kalau aku di dapur terus kenapa? Emang ada larangan kalau udah lewat jam sembilan nggak boleh ke dapur?”
Ashqar tertawa kecil tanpa niat menanggapi ucapan Rafa. Kemudian dia sibuk dengan gelas, air dingin dan susu bubuk untuk ibu hamil. Sementara Rafa, entah apa yang menahan lelaki itu untuk beranjak dari dapur dan hanya berdiri bersandar pada kabinet dengan segelas air putih di tangan.
“Nikah enak nggak, sih?”
Ashqar berhenti sejenak dari mengaduk susu di gelas, keningnya berkerut sementara sudut matanya melirik si ipar. “Kamu tanya ke siapa?” katanya, kembali melanjutkan pekerjaan.
Rafa meletakan gelas ke atas meja hingga terdengar bunyi ‘tak’ yang nyaring. “Sama satu-satunya orang di sini selain saya, Mas Ashqar.”
“Sensian amat, sih.” Ashqar berjalan ke hadapan Rafa. “Ada apa? Galau?”
__ADS_1
Rafa membuang wajah ke arah lain. “Cuma penasaran.”
Ashqar menaikan sebelah alisnya saat ekpresi Rafa lebih jujur ketimbang ucapan pria itu. “Kalau kamu tanya rasanya menikah, aku cuma bisa jawab kalau menikah itu rasanya luar biasa.”
Rafa tidak bisa menyimpulkan arti luar biasa yang Ashqar maksud. Namun, jika itu persis seperti apa yang tengah dia pikirkan, dia mungkin akan memberikan satu pukulan di wajah Ashqar. Membayangkan adiknya dan Ashqar melakukan … Astaga! Rafa benci pikirannya.
“Bukan itu yang aku maksud.”
Rafa menoleh. Ashqar seperti benar-benar bisa meraba arah pikirannya dan ia mendadak sebal dengan hal itu. “Itu apa? Kayak kamu tahu apa yang aku pikirin.”
Ashqar melemparkan ekspresi mengejek. “Kelihatan jelas di wajah anda. Wajah wajah mesum,” ejek Ashqar, meraih gelas yang sebelumnya ia taruh di meja kemudian menepuk bahu Rafa dengan sebelah tangannya yang bebas. “Saat laki-laki berpikir untuk menikahi perempuan yang dia cintai, maka saat itu juga dia harus siap untuk menanggung seluruh tanggung jawab atas hidup perempuan itu sepanjang umurnya. Kalau kamu merasa belum siap dan mau membatalkan pertunangan, itu masih bisa. Tapi jangan sampai menyesal aja, soalnya selain kehilangan Ranee, kamu juga mungkin akan kehilangan jari manis beserta tangan.”
Setelah mengatakan itu, Ashqar melenggang pergi dari dapur dan meninggalkan Rafa yang menatapnya tak percaya. Untuk sesaat Rafa sempat merasa kagum dan tersentuh dengan ucapan Ashqar, sebelum akhirnya perasaan itu berubah 180˚ menjadi kekesalan yang tertahan.
Saat Rafa mematikan lampu dapur, diam-diam Ashqar menatap punggung Rafa sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar. Sejak kandungan Safira memasuki usia lima bulan, Ashqar memindahkan kamarnya dari lantai dua ke lantai satu. Tentu saja alasan keselamatan menjadi hal utama yang Ashqar pertimbangan, terlebih lagi mereka jadi rutin menginap di rumah Edi sejak mertuanya itu resmi bercerai.
“Kok, lama, Mas?” tanya Safira, tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya.
“Tadi ngobrol dulu sama Rafa.”
Hal itu mengalihkan atensi Safira sepenuhnya. Sambil memperhatikan Ashqar yang berjalan mendekat, dia memangku buku bersampul merah jambu. “Ngobrol apa bertengkar?” tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
“Ngobrol, Sayang.” Ashqar menyodorkan gelas berisi susu kemudian duduk di tepi ranjang. Sambil memperhatikan bagaimana Safira menerima gelas pemberiannya dan meneguk perlahan susu hingga tandas, Ashqar dengan asyik mengusap perut Safira.
“Besok mungkin kamu bisa ngobrol sama Rafa. Kayaknya dia agak stress mendekati hari H.”
Safira menaruh gelas di atas nakas lalu membersihkan sisa susu di bibirnya. “Kak Rafa stress? Emang bisa, ya?”
Ashqar tertawa renyah. “Jangan gitu, biar gitu juga dia kakak kamu.”
“Kakak iparnya Mas juga.”
Larut dalam tawa, keduanya mengadu rayu pada kerling yang menyipit. Sambil saling menautkan jari, Ashqar meraih sisi wajah Safira dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi istrinya. Kemudian rayuan seringan bulu itu mendarat pada hampir seluruh wajah Safira yang mulai terasa panas, sampai akhirnya Ashqar hampir meraih bibir Safira, istrinya itu memalingkan wajah dan menahan dada Ashqar dengan kedua telapak tangannya.
“Maaf, Mas. Tapi jangan sekarang, ya?” pinta Safira dengan mimik penuh penyesalan.
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Jadi siapa yang kena mental sebenernya? Wkwkk
Well, buat yang baru baca karya aku dan mampirnya di cerita ini, aku mau nyaranin kalian buat baca Season 1 lebih dulu dengan judul Anak Suamiku. Karena sedikit banyaknya akan tetap saling bekesinambungan dan aku nggak akan mengulang bagian yang ada di Ansu kecuali sedikit. Sekian 🖤