
“Nita baru aja ke luar dari hotel. Dia naik mobil sama satu laki-laki dan dua anak kecil, kayaknya dia pengusaha yang lagi ramai dibicarakan orang,” ucap seorang pria perawakan gempal kepada seseorang disambungan telefonnya.
“Kalau bener, ini bakal jadi berita besar buat kita. Aku yakin nggak akan ada portal gosip lain yang bisa dapet info ini.”
Pria gempal yang keluar dari persembunyiannya itu tertawa picik. “Bener! Bener! Tapi kita juga nggak boleh gegabah, jangan dulu menyebarkan hal ini ke publik. Mending kita kumpulkan banyak informasi dulu,” katanya, menatap puas pada layar kamera. “Sesuai jadwal yang kita dapet, Nita pasti lagi perjalanan menuju bandara.”
***
Begitu mobil Ashqar meninggalkan hotel, Nita menjelaskan bahwa jadwal penerbangannya dipercepat setengah jam karena pesawat kepresidenan akan mendarat di landasan yang sama dengan pesawat yang ditumpanginya. Sementara mobil hotel yang rencananya akan mengantarkan ke bandara masih digunakan untuk membawa pengunjung hotel yang lain. Jadi dia merasa berterimakasih dengan tumpangan yang Ashqar berikan walau sepertinya terlihat sedikit berat hati.
Dan saat ini, Nita tengah mengomeli staff yang biasanya mengurus semua keperluannya. Tentu saja, perempuan itu hampir ketinggalan pesawat dan teranjam membayar denda atas keterlambatan atau bahkan ketidak hadirannya ke salah satu stasiun televisi.
“Kamu ini gimana, sih? Nggak becus banget ngatur jadwal, kalau gue sampe ketinggalan pesawat gimana? Harusnya Lu kasih tahu dari pagi atau minimal dua jam sebelumnya. Dasar, oon banget!” omel Nita, dari sela-sela giginya yang terkatup. Meski begitu, seisi mobil masih bisa mendengarnya.
Hal itu tentu saja mengganggu Ashqar. “Jaga bicaranya,” ucap Ashqar lirih, melirik Nita dari spion tengah. “Disini ada anak-anak.”
Nita meringis. “Maaf,” bisiknya.
Ashqar tidak lagi ambil pusing dan membiarkan Nita menyelesaikan urusannya, lagi pula dia juga tidak begitu mengerti dengan dunia yang saat ini Nita geluti. Beruntung saja Zain sepertinya tidak begitu memperhatikan karena sedang sibuk menyebutkan warna bangunan yang mereka lewati atau menghitung jumlah motor yang mendahului mobil mereka.
Namun, lain hal dengan Alvin yang sejak awal sudah duduk diam membuang muka ke jendela. Ashqar ragu jika putra sulungnya itu tidak mendengar ucapan Nita, tetapi ia agak sedikit lega saat mengingat perangai Alvin yang cuek dan masa bodoh. Lalu tak lama kemudian Nita sudah mematikan sambungan telefonnya tepat ketika Ashqar berbelok dan masuk ke area SPBU.
“Maaf buat yang tadi. Aku agak kelepasan.” Nita menyimpan ponsel pintarnya ke dalam tas sambil mencoba melihat ekspresi Ashqar dari spion tengah.
“Lain kali tolong sadar sekitar,” ucap Ashqar, melakukan hal yang sama hingga pandangan mereka bertemu. Kemudian dia memasukan mobil ke dalam antrian pengisian bahan bakar.
__ADS_1
Ashqar tidak habis pikir dengan perangai mantan istrinya yang ternyata bisa seperti itu. Padahal seingatnya Nita tidak pernah memaki orang atau sebenarnya dia saja yang tidak pernah tahu?
“Iya, maaf.” Nita menyimpan tas bermerk CD di samping tubuhnya. “Bukannya aku sengaja, tapi aku kesal karena jadwalku bisa kacau kalau sampai ketinggalan pesawat.”
“Aku ngerti, tapi hati-hati di depan anak-anak. Aku nggak mau mereka ikut-ikutan bicara kasar kayak tadi,” katanya lalu ke luar dari mobil begitu sampai untuk mengisi bahan bakar.
Biasanya Ashqar tidak perlu ke luar setiap pengisian bahan bakar, tapi rasanya dia butuh udara segar saat ini. Dia dan Safira sudah berkomitmen untuk menjaga sikap dan ucapan di depan Alvin dan Zain, berusaha untuk menjadi contoh yang baik.
Hal ini bahkan sudah mereka sampaikan pada Nita saat pertama kali merencanakan pertemuan setiap bulan, tapi dengan mudah mantan istrinya itu bicara kasar di depan Alvin dan Zain.
“Papah nggak akan marah lama, kok, Tante.”
Nita menoleh dan mendapati Alvin sedang menatapnya. Agak sulit untuk menebak isi hati dari mata bulat Alvin yang terlihat tak memiliki banyak ekspresi, tapi dia bisa merasakan bahwa perkatannya tulus dan polos seperti anak-anak kebanyakan.
Nita tersenyum tipis. “Alvin nggak mau panggil tante, mommy?”
“Biar sama kayak Zain,” jawab Nita, agak ragu.
Alvin mengalihkan pandangannya kembali pada jendela mobil, memandangi penjual cilok yang baru ke luar dari toilet umum. Sementara Nita harus menelan kekecewaan lain.
“Alvin pikirin dulu,” bisik Alvin, bersamaan dengan Ashqar yang masuk ke dalam mobil.
“Apa yang dipikirin?” tanya Ashqar, kembali ke belakang kemudi dan mengenakan sabuk pengaman.
“Bukan apa-apa, Pah,” jawab Alvin kemudian memejamkan mata.
__ADS_1
Namun, rupanya hal itu mengganggu pikiran Ashqar. Bahkan saat ia melajukan mobil kembali ke jalanan rasa penasaran itu mengganggunya. Ashqar beberapa kali mencuri pandang ke arah Alvin dan Nita yang duduk di kursi belakang, tapi dia tidak bisa menemukan sesuatu untuk mengurangi rasa penasarannya.
Jadi daripada ia terus terusik oleh sesuatu yang mungkin saja bukan hal penting, Ashqar mencoba mengalihkan pikirannya dengan memutar musik. Intro yang dibuka dengan petikan gitar terasa familiar di telinga Ashqar dan dia baru akan menikmati bait pertama saat tiba-tiba Nita memanggilnya dengan suara cukup keras.
“Kamu masih simpan lagu ini?” tanya Nita, terdengar antusias.
Ashqar tersentak, refleks melirik Zain yang ternyata sudah tertidur entah sejak kapan. “Zain tidur, jangan teriak-teriak.”
Nita tersenyum canggung kemudian sedikit mencondongkan badan ke depan, menatap Ashqar dari samping. “Aku kaget aja ternyata kamu masih nyimpen lagu ini.”
Kebingungan menyergap Ashqar. “Lagu ini? Memangnya kenapa?”
Senyum Nita mengembang lalu dia kembali duduk dengan benar. “Dasar, pelupa.” Nita membuang muka, menatap jalanan kota kelahirannya. Masih sama, tapi banyak hal telah berubah. Seperti hari yang berganti, tetap senin walau entah minggu kemarin atau minggu depan. “Ini lagu kenangan kita, waktu awal-awal pacaran. Inget?”
Ashqar tidak bisa menutupi keterkejutannya. Tanpa sadar dia mencengkram erat kemudi saat kenangan itu satu per satu menghampiri ingatan, perasaannya seketika campur aduk dan membuatnya tak bisa berkata-kata.
.
.
.
✄................................................
Ada yang masih nunggu kelanjutannya?
__ADS_1
Maapkan akhir-akhir ini aku lagi dalam mode nggak konsisten 👉🏻👈🏻😅
Btw, jangan lupa tinggalkan jejak komentarnya kalau nggak aku tunggu di perempatan depan 😌🌚