Gaung Rasa

Gaung Rasa
Sedikit Hujan, Banyak yang Basah


__ADS_3

Ashqar diam-diam mengulum senyum. Siasatnya untuk berbagi kemarahan Safira dengan Rahma sepertinya berhasil, sampai tiba-tiba Safira mengatakan, “Tapi nggak, ah.”


“Nggak apanya, Yang?” tanya Ashqar, mendadak firasatnya tidak enak.


“Mbak Rahma nggak salah meskipun emang karena Mbak Rahma yang salah tangkap omongan Mas, kita jadi salah paham.” Safira melirik Ashqar sekilas. “Yang lebih salah itu tetep Mas.”


“Loh? Kok, jadi aku?”


“Dih! Pake tanya lagi.” Safira memberengut.


Sama seperti laki-laki pada umumnya, suaminya ini tipe orang yang suka nggak peka sama hati dan kemauan perempuan. Sering sekali Safira harus mengatakannya secara terang-terangan. Dia sendiri tahu bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti keinginan orang lain hanya dengan kode-kode apalagi saat keinginan itu tidak dikatakan sama sekali. Namun, Safira merasa terkadang Ashqar agak keterlaluan terutama saat menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.


Melihat perubahan ekspresi Safira, Ashqar buru-buru menenangkan. “Iya. Iya. Aku yang salah karena lalai,” kata Ashqar pahit.


Safira menghembuskan napas kasar, memutar tubuh dan menatap Ashqar lekat. “Mas tahu nggak kenapa aku marah?”


“Karena Zain berenang di kolam renang masih pakai jas?”


Safira menggeleng.


“Bikin salah paham dan bikin kamu panik?”


Safira menggeleng lagi.


“Karena aku lalai jaga Zain?” Safira kembali menggeleng dan itu membuat Ashqar bingung, perempuan sangat sulit dimengerti. “Terus kenapa, Fi?”

__ADS_1


Safira berubah serius. “Mas mau sampai kapan kayak gini? Setiap kali nyampein berita mendesak atau buruk sekalipun harus lewat orang lain.”


Safira bisa melihat Ashqar tidak menduga perkataannya. Suaminya itu menegakan punggung, terlihat kaku. “Aku cuma nggak mau khawatir dan—”


“Dan apa, Mas?” sembur Safira, berusaha menjaga nada suaranya. “Panik?”


Ashqar menatapnya muram. “Salah satunya. Aku mencoba menjaga kamu selagi menjaga anak-anak. Aku nggak mau kamu sampai panik saat mendengar kabar buruk dan berakhir membahayakan diri.”


“Tapi kemarin—”


“Kemarin itu pengecualian!” bentak Ashqar, sedikit kelepasan. Kemudian dia segera menyadari ketidak sengajaannya saat melihat ekspresi kaget Safira. Ashqar berdeham, meraih kedua tangan Safira dan menggenggamnya lembut. “Kemarin aku memang ceroboh dan agak buru-buru langsung telefon Mbak Rahma saat Zain kedinginan dan mengigil saat aku gendong ke luar dari dalam kolam. Aku juga nggak menjelaskan dulu situasinya secara lengkap dan langsung minta Mbak Rahma buat minta kamu segera ke kamar.”


Ashqar tidak berharap penjelasannya akan langsung membuat rasa kesal Safira luntur, tapi paling tidak Safira bisa memaklumi dan tidak lagi menyimpan kesal padanya. Namun, yang Ashqar dapatkan justru kebisuan. Safira tidak memberi respon positif ataupun sebaliknya dan hal itu membuat Ashqar semakin kebingungan.


“Saat itu aku berpikir kalau aku butuh kamu,” ucap Ashqar lagi dengan suaranya yang dalam.


Namun, sekarang bukan saatnya terhanyut dan luluh oleh hal itu.


“Tapi ini bukan pertama kalinya Mas kayak gini,” ucap Safira getir sambil membuang wajah. Dia menatap ujung karpet dengan corak abtrak berwarna coklat, merah bata dan putih yang cukup kontras. “Terakhir kali waktu Alvin jatuh dan akhirnya nggak cuma Alvin yang harus dapat jahitan.”


Siang itu Safira seharusnya menjemput Alvin dan Zain di sekolah, tapi sejak satu jam sebelumnya hujan turun cukup deras dan belum menunjukan tanda-tanda akan reda. Sementara Mbak Jun sedang izin mengurus E-KTP dan ia tidak mungkin meninggalkan Harsha sendirian di rumah, lebih-lebih kalau harus membawa putrinya itu menjemput Alvin dan Zain di tengah hujan. Jadilah ia meminta Ashqar untuk menjemput kedua putra mereka.


Perjalanan Ashqar dari peternakan hingga ke sekolah memerlukan waktu 45 menit jika tidak sedang jam sibuk, tapi kendala hujan membuat Ashqar tiba 20 menit lebih lambat.


“Nggak apa-apa, Mas. Aku juga udah ngabarin wali kelas Alvin sama Zain kalau aku nggak bisa jemput dan Mas jemputnya terlambat. Anak-anak juga paling nunggu di depan kelas.”

__ADS_1


“Ya udah. Aku takut kalau mereka kelamaan nunggu, apalagi hujannya makin deras,” ucap Ashqar, membunyikan klakson dua kali.


“Mas sampai dimana? Apa jalannya macet?” tanya Safira, sedikit khawatir saat Ashqar berdecak setelah bunyi kalkson. Ashqar tipikal orang yang tidak suka pada pelanggaran lalu lintas terutama saat lampu merah.


“Sampai di lampu merah Fajri Mulia, Yang. Aku tutup telfonnya, ya? Nanti aku telfon lagi kalau udah sampai sekolah anak-anak.”


“Oke. Hati-hati, Mas. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikummussalam.”


Safira bernapas lega. Dia kemudian menyiapkan makan siang untuk suami dan kedua anaknya. Sup ayam, tempe goreng dan kerupuk udang, menu yang Safira kerjakan dengan cepat setelah melihat isi kulkas dan mencocokannya dengan cuaca yang masih hujan.


Namun, saat ia ditengah pekerjaan sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Nama Bu Siska, wali kelas Alvin tertera di layar ponsel.


.


.


.


✄................................................


Nara Note :


Watak tokoh nggak tiba-tiba berubah dari A ke B tanpa alasan, terutama Ansu/Gaung Rasa, aku rasa watak tokoh-tokohnya masih konsisten sejauh ini. Jadi sebagai pengingat, kalau ada yang nggak singkron kalian bisa baca sedikit bab awal Ansu. Atau kalau memang kesalahan di aku bisa DM aku di IG atau inbox FB, soalnya aku kadang suka lupa detail 👉🏻👈🏻😅

__ADS_1


Aku harap kalian masih bisa enjoy baca cerita ini yang updatenya seminggu tiga kali, soalnya aku berencana bikin cerita lain atau sequel Alvin. Masih belum tahu sih ini bakal jadi cerita siapa wkwkwkk


__ADS_2